Tuesday, March 26, 2013

Seri Kenali IMS (Infeksi Menular Seksual)

Ada banyak jenis Infeksi Menular Seksual (IMS) yang diketahui secara umum. Pengetahuan tentang jenis IMS ini juga beragam. Jangankan pengetahuannya, penggunaan istilah untuk penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual juga banyak. Ada juga yang menggunakan istilah PMS untuk Penyakit Menular Seksual, namun berhubung istilah PMS lebih banyak digunakan untuk Pre Menstrual Syndrome maka istilah IMS lebih umum digunakan.

Jenis-jenis IMS sangat beragam. Yang paling sering ditemukan adalah: GO (Gonorrhea) atau kencing nanah, Klamidia, Sifilis atau Raja Singa, Jengger Ayam, Hepatitis, dan infeksi HIV.

Berikut ini adalah Tabel Umum untuk beberapa jenis IMS:
Sumber tabel: www.gayadewata.com
Untuk beberapa waktu ke depan. Blog Apa Itu HIV dan AIDS akan mengulas masing-masing jenis IMS dengan tag "Kenali IMS". Follow laman Facebook Apa Itu HIV dan AIDS agar tak ketinggalan informasinya!

Ukuran Rata-Rata Penis di Dunia



Sumber: www.wired.com
Panjang Mr P selalu menjadi perbincangan hangat yang tidak ada habis-habisnya. Jika wanita selalu memikirkan ukuran payudara, para pria akan memikirkan panjang si junior alias penis yang jadi salah satu aset kebanggaan mereka.

Sama seperti payudara, rata-rata ukuran penis pria berbeda di satu negara dengan negara lain. Perbedaan ukuran ini disebabkan oleh perbedaan ras, gaya hidup di tiap negara dan sebab lain yang masih diteliti hingga saat ini. Telinga kita pasti akrab dengan mitos bahwa ukuran penis pria Arab itu yang paling oke atau ukuran Mr P bule lebih besar daripada pria Indonesia, benarkah? Data terbaru menunjukkan hasil sebagai berikut.

Data ini diambil sekitar tiga bulan yang lalu, dilansir targetmap.com:
  1. Ukuran rata-rata penis pria Indonesia masuk dalam urutan terkecil, yaitu 9,66 - 11,66 cm. Ukuran ini sama dengan negara tetangga kita, mulai dari Malaysia, Jepang, China bahkan India.
  2. Bagaimana dengan pria Arab yang sering dipuja-puja memiliki ukuran penis paling oke? Dalam data terbaru ukuran rata-rata penis pria Arab Saudi adalah 13,48 - 14,87 cm, masuk dalam ukuran medium. Ukuran yang sama dengan pria di Kanada, Greenland, Argentina, beberapa negara Timur Tengah dan Eropa, Inggris masuk dalam ukuran rata-rata yang sama.
  3. Sementara itu, ukuran penis rata-rata pria Amerika Serikat, Rusia, Mongolia dan Australia ada di antara ukuran pria Indonesia dan pria Arab, yaitu 11,67 - 13,47 cm.
  4. Untuk ukuran yang lebih oke diraih pria Meksiko, Brazil, Peru, beberapa negara Afrika. Mereka memiliki rata-rata ukuran penis 14,88 - 16,09 cm. Pria Perancis juga masuk dalam kelompok ini.
  5. Inilah ukuran penis paling panjang, yaitu 16,10 - 17,93 cm, dimiliki oleh pria-pria dari negara Kolumbia, Bolivia, Venezuela, Sudan, Ghana dan Kamerun.
Itu dia ukuran rata-rata penis pria dari seluruh dunia. Mitos yang sering beredar bahwa ukuran penis berpengaruh pada kepuasan pasangan tidak selalu benar. Selama sang pria bisa melakukan aksi yang prima, wanita bisa mendapatkan kepuasan maksimal.

Dilansir dari vemale.com 19 November 2012

Mitos atau Fakta?



www.drawingsecretsrevealed.com

Ada banyak informasi salah yang beredar di masyarakat tentang seks, kesehatan seksual, dan Infeksi Menular Seksual (IMS). Mungkin anda pernah mendengar salah satunya, seperti, anda bisa terkena/ tertular IMS dari dudukan toilet. Atau pernyataan-pernyataan lain yang anda ragukan kebenarannya. Jika demikian, di bawah ini adalah beberapa contoh pernyataan-pernyataan yang bisa diketahui apakah hanya mitos atau benar-benar fakta. Jika anda belum menemukan pernyataan yang sering anda temui, silahkan menuliskannya dalam kolom komentar. Kami akan berupaya mencari jawaban untuk kebingungan anda. Setiap pernyataan yang anda kirimkan akan kami posting atau tambahkan, sehingga jika ada orang lain yang mungkin punya keraguan sama dengan anda, bisa langsung mendapatkan informasinya.

Tentang Penularan IMS
Pernyataan: Seseorang bisa tertular IMS dari dudukan toilet!
MITOS! Anda hanya bisa tertular IMS melalui hubungan seksual (secara vaginal, oral atau anal) atau dari kontak kulit dengan kulit. Bukan dari dudukan toilet.

Pernyataan: HIV dan atau IMS bisa ditularkan lewat tato atau body piercing!
FAKTA! Ada resiko tertularnya HIV atau penyakit lain yang menular lewat darah (seperti Hepatitis B atau C) jika instrument yang digunakan dalam mentato atau melakukan piercing tidak disterilisasi dengan benar sebelum digunakan oleh klien yang berbeda. Setiap alat yang digunakan untuk piercing atau memotong kulit harusnya digunakan sekali saja dan sesudah itu dibuang. Tanyakan dengan jelas pada orang yang melakukan proses tato atau piercing tentang keamanan alat-alat yang mereka gunakan. Jika mereka tidak bisa menjelaskan dengan baik mengenai prosedur sterilisasi alat-alat mereka, sebaiknya jangan ditato atau dipiercing di tempat itu.

Pernyataan: IMS tak mungkin tertular lewat hubungan seks oral (oral sex)!
MITOS! Selama berlangsungnya hubungan seks secara oral, anda tetap bisa menularkan IMS yang anda miliki ke pasangan anda dan demikian juga anda bisa terkena IMS yang pasangan anda miliki. Memang tidak semua IMS dapat ditularkan secara oral, tapi ada beberapa IMS seperti Herpes yang ditularkan baik secara oral maupun genital.

Pernyataan: Tak mungkin tertular IMS jika partner seks masih perjaka atau perawan!
MITOS! Ini sebenarnya tergantung dari bagaimana pasangan anda mendefinisikan keperjakaan atau keperawanan. Bisa saja dia sudah tertular IMS karena melakukan hubungan seks secara oral namun tetap saja menyatakan bahwa dirinya masih perjaka/ perawan dengan alasan tidak melakukan hubungan seks vaginal. Juga, jangan lupa, ada beberapa IMS yang ditularkan lewat kontak kulit ke kulit seperti Herpes dan HPV (Kutil Kelamin) walaupun jika tidak terjadi penetrasi (penis masuk dalam vagina). Penting untuk mendiskusikan dengan pasangan anda mengenai riwayat seksualnya dan selalu mempraktekkan hubungan seks yang aman.

Tentang Kehamilan

Pernyataan: Cara terbaik menghindari kehamilan adalah dengan menggunakan kondom!
MITOS! Cara terbaik untuk menghindari kehamilan adalah tidak melakukan hubungan seks sama sekali (abstinens). Abstinens (tidak melakukan hubungan seks dengan cara apapun) adalah satu-satunya cara yang 100% efektif dari segala cara untuk mengontrol kehamilan. Jika abstinens tidak menjadi pilihan, menggunakan kondom dengan kombinasi penggunaan kontrasepsi hormonal merupakan pilihan kedua terbaik. Contohnya: menggunakan kondom sambil menggunakan pil pengontrol kehamilan.

Pernyataan: Tidak mungkin hamil kalau sedang menstruasi melakukan hubungan seks!
FAKTA! Memang sangat jarang terjadi ketika hubungan seks yang dilakukan saat menstruasi bisa berbuah kehamilan. Tapi, kehamilan tetap bisa terjadi karena siklus menstruasi tetap tidak bisa memperkirakan kapan terjadinya ovulasi (sel telur dilepaskan). Sel telur harus ada lebih dahulu untuk dibuahi oleh sel sperma sebagai syarat terjadinya konsepsi.
Selain itu, karena sel sperma bisa bertahan dalam uterus selama 5 hari, jika tubuh anda selama kurun waktu 5 hari tersebut melepaskan sel telur maka kemungkinan kehamilan tetap ada. Oleh karena siklus menstruasi tidak bisa menjamin kapan sel telur dilepaskan, maka sangat penting jika ingin menghindari kehamilan tetap menggunakan alat kontrasepsi.

Pernyataan: Kencing/ pipis dan atau mencuci alat kelamin (douching) setelah berhubungan seks membantu mencegah kehamilan!
MITOS! Ketika seorang laki-laki ejakulasi, sel sperma berenang melalui vagina menuju serviks, dan kemudian ke uterus. Urin (kencing) dilepaskan dari uretra, bukan dari bukaan vagina, jadi tidak ada kontak dengan sel sperma. Mencuci dan membasuh tidak akan mencegah kehamilan oleh karena tidak sebanding dengan kecepatan semen berenang ke dalam serviks dan fakta bahwa air tidak akan mampu mencapai uterus. Kenyataannya, membasuh justru bisa mempercepat perjalanan sel sperma lebih masuk lagi ke dalam vagina. Membasuh juga akan mempengaruhi derajat keasaman dalam vagina sehingga terjadi tidak sebandingnya jumlah bakteri dalam vagina yang bisa menyebabkan anda lebih beresiko terkena infeksi vagina.

Pernyataan: Seorang perempuan tak mungkin hamil saat berhubungan seks pertama kali!
MITOS! Tidak ada pengaruh apakah itu hubungan seks pertama kali atau ke sekian kali – tetap saja kemungkinan hamilnya sama. Abstinens adalah cara terbaik untuk menghindari kehamilan, tapi jika anda tetap memutuskan untuk berhubungan seks maka penggunaan kondom dan alat kontrasepsi lainnya bisa membantu menghindari kehamilan.

Tentang Hubungan Seks and Tubuh Anda

Pernyataan: Kondom bisa dipakai lebih dari sekali jika dicuci dengan baik!
MITOS! Kondom seharusnya tak pernah digunakan lebih dari sekali dalam situasi apapun.

Pernyataan: Baby oil, vaselin, dan pelumas berbahan dasar minyak aman digunakan bersama kondom lateks!
MITOS! Pelumas berbahan dasar minyak akan merusak kondom lateks dan mengakibatkan masuknya penyebab IMS. Lebih bagus menggunakan pelumas berbahan dasar air seperti K-Y Jelly, dan merek lainnya. Air ludah (saliva) atau bahkan air biasa jauh lebih baik digunakan bersama-sama kondom lateks.

Pernyataan: Kebanyakan perempuan hanya orgasme lewat hubungan seks vaginal!
MITOS! Hanya 30% perempuan meraih orgasme dengan hanya hubungan seks secara vaginal. 70% lainnya membutuhkan stimulasi manual maupun oral untuk meraih orgasme.

Pernyataan: Ukuran rata-rata penis ereksi adalah 5 – 6 inchi (12,7 – 15,4 cm)!
FAKTA! Menurut Institut Kinsey, ukuran rata-rata penis ereksi (keras) di antara laki-laki di Amerika adalah 5 – 6 inchi (12,7 – 15,4 cm), dan rata-rata ukuran saat tidak ereksi (lunak) adalah antara 1 – 4 inchi (2,54 – 10,16 cm). Ukuran rata-rata penis pria Indonesia masuk dalam urutan terkecil, yaitu 9,66 - 11,66 cm. Ukuran ini sama dengan negara tetangga kita, mulai dari Malaysia, Jepang, China bahkan India. Lebih lengkapnya klik di sini.

Pernyataan: Perempuan tak pernah melakukan masturbasi!
MITOS! Perempuan pada kenyataannya sama dengan laki-laki dalam keingintahuannya akan tubuhnya dan melakukan masturbasi. Namun, secara rata-rata laki-laki lebih banyak melaporkan bahwa mereka melakukan mastrubasi ketimbang perempuan.

Pernyataan: “Bola Biru/ blue balls” adalah suatu kondisi medis!
FAKTA! Istilah yang benar untuk “blue balls” adalah vasokongesti. Peristiwa ini terjadi jika seorang laki-laki berada para situasi terangsang dimana darah berkumpul di daerah testis dan prostat namun tidak mengalami ejakulasi. Biasanya disertai dengan rasa kram dan tidak enak di daerah selangkangan. Walau situasi ini tidak nyaman untuk laki-laki, ini bukanlah alasan untuk memaksa pasangan berhubungan seks. Ada dua cara untuk menghilangkan “masalah” ini. Pertama, dibiarkan saja karena dengan berlalunya perasaan terangsang maka tubuh akan berupaya mengembalikan situasi kembali normal, Kedua, melakukan masturbasi hingga ejakulasi. Perlu diperhatikan bahwa perempuan juga bisa mengalami ketidaknyamanan yang sama saat dalam situasi terangsang dan tidak mengalami orgasme.

Tentang Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transeksual
 
Pernyataan: Hubungan seks anal hanya dilakukan oleh kaum gay!
MITOS! Kenyataan membuktikan bahwa hubungan seks anal juga dilakukan oleh kaum non gay. Aktifitas seksual ini tidak ada hubungan dengan orientasi seksual seseorang.

Pernyataan: Gampang saja mengetahui jika seseorang itu gay atau tidak!
MITOS! Di Amerika ada istilah “gaydar” atau “penampilan ala gay”, namun walau demikian tetap saja tidak semudah itu untuk mengetahui seseorang itu gay atau tidak. Tidak ada seseorang yang bisa langsung menyimpulkan apakah orang itu gay atau tidak hanya melalui penampilan, cara bicara, atau gaya sehari-harinya.

Pernyataan: Semua lesbian itu pasti maskulin!
MITOS! Orientasi seksual tidak ada hubungannya dengan karakter kepribadian, gender, ataupun cara seseorang mengekspresikan dirinya.

Sumber bacaan:

Tuesday, March 19, 2013

Panduan Untuk Mendapatkan Riwayat Seksual (Sexual History)



Ketika seorang pasien dengan kecurigaan IMS datang pada dokter atau seseorang datang pada konselor atau tenaga medis, maka mendapatkan riwayat seksual dari orang yang bersangkutan itu sangat penting. Dari riwayat seksual dapat diketahui banyak hal, dari mulai sumber infeksi sampai ke berapa banyak kemungkinan infeksi telah menyebar.

Gambar dari Carapedia (Sumber Carapedia: clearwatercounselling.net)
Riwayat seksual membantu tenaga medis atau konselor untuk mengidentifikasi sejauh mana pasien atau orang tersebut beresiko terkena infeksi menular seksual hingga infeksi HIV. Beberapa orang sangat tidak nyaman membicarakan riwayat seksualnya. Seorang konselor atau tenaga medis harus bisa menyatakan betapa pentingnya pemeriksaan ini. Mengambil dan mencatat riwayat seksual itu harus ditekankan sama pentingnya dengan pemeriksaan medis atau pemeriksaan fisik yang lain.

Sebelumnya berikan pengantar sebelum memulai mengambil riwayat seksual. Berikut ini contoh dialog pembuka:

“Saya akan bertanya kepada anda beberapa pertanyaan tentang kesehatan seksual anda dan praktek seksual anda. Saya mengerti kalau ini adalah hal yang sangat pribadi, tapi ini penting untuk status kesehatan anda seutuhnya nanti.”

“Untuk anda ketahui, saya menanyakan hal yang sama kepada semua orang dewasa yang berobat/ konseling ke saya tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status perkawinan mereka. Pertanyaan ini penting karena menyangkut wilayah lain dari kesehatan fisik dan mental anda. Seperti pada kunjungan anda terdahulu, informasi ini akan tetap dirahasiakan. Apakah anda mempunyai pertanyaan sebelum kita mulai?”

Pada dasarnya pengambilan/ pencatatan riwayat seksual terdiri atas 5 bagian besar yang biasa disebut dengan 5 P:

  1. Partners – Pasangan 
  2. Practices – Praktek/ pengalaman seksual
  3. Protection from STDs – Perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual
  4. Past History of STDs – Pengalaman menderita/ mengidap IMS sebelumnya
  5. Prevention of Pregnancy – Pencegahan Kehamilan

Bisa saja ditambah bagian pertanyaan yang lain sesuai dengan kondisi masing-masing konseli atau pasien.

Partners – Pasangan
Penting untuk menanyakan jumlah dan jenis kelamin dari pasangan seksual si konseli atau pasien untuk melihat seberapa besar resikonya untuk kemungkinan terkena/ mengidap IMS. Jangan pernah membuat asumsi pribadi tentang orientasi seksual si konseli atau pasien.

Jika hanya 1 (satu) partner teridentifikasi selama 12 bulan terakhir, pastikan untuk menanyakan berapa lama hubungan itu telah berlangsung. Tanyakan juga tentang faktor resiko yang mungkin dimiliki oleh si partner tersebut. Faktor resiko itu bisa saja berupa pasangan lain yang dimiliki si partner atau pengalaman masa lalu si partner dengan obat-obatan atau narkotika. 

Jika ternyata didapatkan ada lebih dari satu partner yang teridentifikasi, pastikan untuk mengeksplorasi faktor resiko lain seperti penggunaan proteksi atau kondom dan juga faktor-faktor resiko lain seperti pasangan seksual sebelumnya dan riwayat penggunaan obat-obatan atau narkotika.
Berikut ini contoh dialognya:

“Apakah anda saat ini aktif secara seksual?”
“Jika tidak, kapan terakhir kali anda aktif secara seksual?”
“Dalam beberapa bulan terakhir, berapa pasangan seksual yang anda miliki?”
“Dalam 12 bulan terakhir, berapa pasangan seksual yang anda miliki?”
“Apakah partner seksual anda laki-laki, perempuan, atau keduanya?”

Jika konseli atau pasien menjawab bahwa partner seksualnya adalah dua-duanya (laki-laki dan perempuan) maka pertanyaan pertama dan kedua di atas diajukan untuk setiap partner yang konseli atau pasien miliki. Walau pasien atau konseli pernah seksual aktif di masa lalu dan tidak di masa sekarang, adalah tetap penting untuk mengambil/ mencatat riwayat seksualnya.

Practices – Praktek/ pengalaman seksual
Jika si pasien atau konseli memiliki lebih dari satu pasangan seksual selama 12 bulan terakhir atau misalnya dia berhubungan dengan seorang partner yang juga berhubungan dengan orang lain, anda harus mengeksplorasi praktek seksualnya, seperti misalnya, bagaimana praktek seksual itu dilakukan dan apakah ada penggunaan proteksi/ kondom.

Bertanya tentang praktek seksualnya akan membantu penilaian seberapa besar resikonya, seberapa baik strategi meminimalisir resiko tersebut, dan penentuan test apa yang bisa dilakukan kasusnya, serta mengidentifikasi dari bagian tubuh mana perlu diambil specimen untuk dilakukan test. Berikut ini adalah contoh dialognya:

“Saya akan lebih jauh menanyakan mengenai hubungan seks yang anda lakukan selama 12 bulan terakhir ini untuk mengetahui seberapa besar resiko anda mengidap Infeksi Menular Seksual.”
“Apa saja jenis hubungan seksual yang pernah anda lakukan? Genital (penis masuk ke dalam vagina)? Anal (penis masuk ke dalam anus)? Oral (mulut pada penis, vagina, atau anus)?

Protection from STDs – Perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual
Untuk mengetahui lebih banyak tentang riwayat dan perilaku seksual pasien atau konseli, usahakan menggunakan pertanyaan terbuka. Dari jawaban yang diberikan, anda akan tahu bagaimana mengarahkan dialog untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin.

Perlu bagi anda untuk menentukan sejauh mana level atau tingkatan pengurangan resiko yang dibutuhkan untuk masing-masing kasus per pasien atau konseli. Jika pasien atau konseli memang memiliki hanya satu pasangan selama 12 bulan terakhir maka dialog ke arah pengurangan resiko mungkin tidak terlalu dibutuhkan.

Bagaimanapun juga, dalam beberapa situasi, anda harus bisa mengeksplorasi si pasien atau konseli mengenai abstinensia, pandangan tentang monogami, pemakaian kondom, dan persepsi pasien tentang resiko yang dihadapinya dan resiko yang dihadapi pasangannya serta bagaimana kesiapannya untuk melakukan serangkaian test dan bagaimana menghadapi hasil test tersebut. Berikut ini contoh dialognya:

“Apakah anda dan pasangan (pasangan-pasangan) menggunakan proteksi untuk menghindari infeksi menular seksual? Jika tidak, bolehkah anda sampaikan alasannya?”
“Jika anda menggunakan proteksi, proteksi jenis apa yang anda dan pasangan (pasangan-pasangan) gunakan?”
“Berapa sering anda menggunakan jenis proteksi ini?”
Jika jawabannya, “kadang-kadang”, tanyakan lagi, “pada situasi apa dan dengan siapa anda menggunakan proteksi tersebut?”
“Apakah anda mempunyai pertanyaan lain, atau adakah jenis proteksi lain terhadap IMS yang ingin anda diskusikan saat ini?” 

Past History of STDs – Pengalaman menderita/ mengidap IMS sebelumnya
Sejarah IMS sebelumnya dapat membantu seberapa besar resiko yang dia hadapi saat ini. Berikut ini adalah contoh dialognya:

“Apakah anda pernah didiagnosis mengidap IMS? Kapan? Bagaimana pengobatan yang ada terima saat itu?”
“Adakah gejala berulang yang anda dapati?”
“Apakah anda pernah ditest untuk HIV atau jenis IMS lainnya? Apakah anda ingin ditest saat ini?”
“Apakah partner anda saat ini (atau partner sebelumnya) pernah didiagnosis atau diobati untuk IMS? Apakah saat itu anda juga ditest untuk kasus IMS yang sama?”
“Jika ya, kapan anda ditest? Apa diagnosisnya saat itu? Bagaimana pengobatannya saat itu?”

Prevention of Pregnancy – Pencegahan Kehamilan
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dari 4 seksi sebelumnya, anda bisa menentukan seberapa besar resiko si pasien atau konseli tadi untuk hamil atau menjadi seorang ayah. Jika demikian, jangan lupa menanyakan apakah kehamilan itu diinginkan atau tidak.
Pertanyaan yang diajukan harus tepat sesuai dengan jenis kelamin:

“Apakah anda saat ini sedang berusaha untuk hamil?”
“Apakah anda sadar akan kemungkinan anda bisa hamil (atau menghamili pasangan anda)?”
“Apakah anda memakai sejenis kontrasepsi atau sedang mempraktekkan cara untuk mengontrol kehamilan? Apakah anda memerlukan informasi terkait cara-cara mengontrol kehamilan?”

Pada akhir wawancara pasien atau konseli bisa saja memberikan informasi susulan atau pertanyaan yang sebelumnya tidak siap untuk dia diskusikan bersama anda. Untuk itu silahkan tambahkan beberapa pertanyaan seperti berikut:

“Apa hal lain tentang kesehatan seksual atau praktek seksual lain yang harus kita diskusikan untuk menjamin kesehatan anda?”
“Apakah anda mempunyai perhatian khusus atau pertanyaan lain berkaitan dengan kesehatan seksual atau praktek seksual yang ingin kita diskusikan bersama?”

Pada akhir diskusi, sampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan akan keterusterangan yang telah pasien atau konseli berikan. Untuk pasien dengan resiko IMS, perlu dipengaruhi untuk segera melakukan serangkaian test dan perbaikan perilaku dalam hal penggunaan proteksi.

Bacaan:
Centers fos Disease Control and Prevention - Sexual Transmitted Disease
Apa Itu HIV dan AIDS - Kesehatan Reproduksi

Thursday, March 7, 2013

Penting! Pencegahan Infeksi Menular Seksual (IMS)


Pic Source: www.cfocstore.aosoft.com

Untuk mencegah supaya seseorang tidak mudah terkena Infeksi Menular Seksual sebenarnya mudah saja, yaitu tidak usah berhubungan seks sama sekali (Abstinensia). Tapi disadari juga bahwa seks adalah kebutuhan dasar yang harus dipenuhi juga. Menghindari berhubungan seks dengan seseorang yang mempunyai “keanehan”pada organ genitalianya adalah cara utama supaya tidak terkena IMS. Apa yang dimaksud dengan “keanehan” tadi? Adanya tanda kemerahan pada alat kelamin, ada semacam kutil, atau ada keluarnya cairan yang tidak semestinya yang berwarna keruh dan berbau tidak menyenangkan. Cara lain adalah memastikan penggunaan “proteksi” saat berhubungan seks. Satu-satunya seks tanpa “proteksi” yang aman adalah jika anda dan pasangan yakin dan betul-betul hanya melakukan hubungan seks di antara anda berdua saja, dan anda berdua telah pernah di test minimal 6 bulan lalu dengan hasil negative untuk IMS. Jika tidak, maka di bawah ini ada beberapa cara yang bisa anda dan pasangan lakukan untuk menghindari terjangkit IMS:

  1. Gunakan kondom berbahan dasar lateks tiap kali berhubungan seks. Jika memakai cairan pelumas (lubrikasi), pastikan cairan tersebut berbahan dasar air, bukan minyak. Karena minyak akan mengurangi kualitas kondom yang digunakan. Gunakan kondom pada seluruh aktifitas seksual (tidak hanya pada saat coitus saja). Perlu diketahui juga bahwa kondom tidak pernah 100% efektif untuk mencegah seluruh jenis IMS atau kehamilan namun kondom akan sangat efektif sekali jika digunakan benar-benar sesuai anjuran. Pelajarilah cara menggunakan kondom dengan baik dan benar!
  2. Hindari berbagi-pakai untuk handuk dan pakaian.
  3. Selalu berbasuh sebelum dan sesudah berhubungan seks/ intercourse. 
  4. Dapatkan vaksinasi untuk Hepatitis B secara lengkap. Ada 3 seri suntikan yang harus didapatkan untuk kriteria lengkap.
  5. Lakukan test HIV. 
  6. Jika anda bermasalah dengan alkohol atau penyalah-gunaan obat, segeralah mencari pertolongan. Orang yang mabuk atau dalam pengaruh obat-obatan seringkali gagal untuk melakukan seks secara aman.
  7. Tidak melakukan seks sama sekali adalah cara paling aman untuk mencegah terjangkit IMS.
Pernah dipikirkan atau dikatakan bahwa menggunakan kondom dengan tambahan nonoxynol-9 akan membantu mencegah IMS dengan acara membunuh organism penyebab IMS tersebut. Penelitian terbaru ternyata membuktikan teori ini salah. Nonoxynol-9 ternyata bisa mengiritasi vagina dan meningkatkan kemungkinan terjangkit IMS. Rekomendasi yang digunakan saat ini adalah: tidak menggunakan kondom yang mengandung nonoxynol-9.

Bagaimana saya bisa mencegah menyebarkan IMS?

Supaya anda tidak menyebarkan IMS ke orang lain maka:

  1. Jangan berhubungan seks sampai anda berobat ke dokter.
  2. Ikuti dengan tepat semua instruksi dari dokter tentang pengobatan.
  3. Gunakan kondom setiap berhubungan seks, terutama dengan “partner” baru.
  4.  Jangan lupa kembali ke dokter untuk control dan periksa ulang. 
  5. Pastikan “partner” dan pasangan anda juga mendapatkan terapi untuk IMS.

Dikutip dan diterjemahkan dari www.webmd.com