Tuesday, March 19, 2013

Panduan Untuk Mendapatkan Riwayat Seksual (Sexual History)



Ketika seorang pasien dengan kecurigaan IMS datang pada dokter atau seseorang datang pada konselor atau tenaga medis, maka mendapatkan riwayat seksual dari orang yang bersangkutan itu sangat penting. Dari riwayat seksual dapat diketahui banyak hal, dari mulai sumber infeksi sampai ke berapa banyak kemungkinan infeksi telah menyebar.

Gambar dari Carapedia (Sumber Carapedia: clearwatercounselling.net)
Riwayat seksual membantu tenaga medis atau konselor untuk mengidentifikasi sejauh mana pasien atau orang tersebut beresiko terkena infeksi menular seksual hingga infeksi HIV. Beberapa orang sangat tidak nyaman membicarakan riwayat seksualnya. Seorang konselor atau tenaga medis harus bisa menyatakan betapa pentingnya pemeriksaan ini. Mengambil dan mencatat riwayat seksual itu harus ditekankan sama pentingnya dengan pemeriksaan medis atau pemeriksaan fisik yang lain.

Sebelumnya berikan pengantar sebelum memulai mengambil riwayat seksual. Berikut ini contoh dialog pembuka:

“Saya akan bertanya kepada anda beberapa pertanyaan tentang kesehatan seksual anda dan praktek seksual anda. Saya mengerti kalau ini adalah hal yang sangat pribadi, tapi ini penting untuk status kesehatan anda seutuhnya nanti.”

“Untuk anda ketahui, saya menanyakan hal yang sama kepada semua orang dewasa yang berobat/ konseling ke saya tanpa memandang usia, jenis kelamin, atau status perkawinan mereka. Pertanyaan ini penting karena menyangkut wilayah lain dari kesehatan fisik dan mental anda. Seperti pada kunjungan anda terdahulu, informasi ini akan tetap dirahasiakan. Apakah anda mempunyai pertanyaan sebelum kita mulai?”

Pada dasarnya pengambilan/ pencatatan riwayat seksual terdiri atas 5 bagian besar yang biasa disebut dengan 5 P:

  1. Partners – Pasangan 
  2. Practices – Praktek/ pengalaman seksual
  3. Protection from STDs – Perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual
  4. Past History of STDs – Pengalaman menderita/ mengidap IMS sebelumnya
  5. Prevention of Pregnancy – Pencegahan Kehamilan

Bisa saja ditambah bagian pertanyaan yang lain sesuai dengan kondisi masing-masing konseli atau pasien.

Partners – Pasangan
Penting untuk menanyakan jumlah dan jenis kelamin dari pasangan seksual si konseli atau pasien untuk melihat seberapa besar resikonya untuk kemungkinan terkena/ mengidap IMS. Jangan pernah membuat asumsi pribadi tentang orientasi seksual si konseli atau pasien.

Jika hanya 1 (satu) partner teridentifikasi selama 12 bulan terakhir, pastikan untuk menanyakan berapa lama hubungan itu telah berlangsung. Tanyakan juga tentang faktor resiko yang mungkin dimiliki oleh si partner tersebut. Faktor resiko itu bisa saja berupa pasangan lain yang dimiliki si partner atau pengalaman masa lalu si partner dengan obat-obatan atau narkotika. 

Jika ternyata didapatkan ada lebih dari satu partner yang teridentifikasi, pastikan untuk mengeksplorasi faktor resiko lain seperti penggunaan proteksi atau kondom dan juga faktor-faktor resiko lain seperti pasangan seksual sebelumnya dan riwayat penggunaan obat-obatan atau narkotika.
Berikut ini contoh dialognya:

“Apakah anda saat ini aktif secara seksual?”
“Jika tidak, kapan terakhir kali anda aktif secara seksual?”
“Dalam beberapa bulan terakhir, berapa pasangan seksual yang anda miliki?”
“Dalam 12 bulan terakhir, berapa pasangan seksual yang anda miliki?”
“Apakah partner seksual anda laki-laki, perempuan, atau keduanya?”

Jika konseli atau pasien menjawab bahwa partner seksualnya adalah dua-duanya (laki-laki dan perempuan) maka pertanyaan pertama dan kedua di atas diajukan untuk setiap partner yang konseli atau pasien miliki. Walau pasien atau konseli pernah seksual aktif di masa lalu dan tidak di masa sekarang, adalah tetap penting untuk mengambil/ mencatat riwayat seksualnya.

Practices – Praktek/ pengalaman seksual
Jika si pasien atau konseli memiliki lebih dari satu pasangan seksual selama 12 bulan terakhir atau misalnya dia berhubungan dengan seorang partner yang juga berhubungan dengan orang lain, anda harus mengeksplorasi praktek seksualnya, seperti misalnya, bagaimana praktek seksual itu dilakukan dan apakah ada penggunaan proteksi/ kondom.

Bertanya tentang praktek seksualnya akan membantu penilaian seberapa besar resikonya, seberapa baik strategi meminimalisir resiko tersebut, dan penentuan test apa yang bisa dilakukan kasusnya, serta mengidentifikasi dari bagian tubuh mana perlu diambil specimen untuk dilakukan test. Berikut ini adalah contoh dialognya:

“Saya akan lebih jauh menanyakan mengenai hubungan seks yang anda lakukan selama 12 bulan terakhir ini untuk mengetahui seberapa besar resiko anda mengidap Infeksi Menular Seksual.”
“Apa saja jenis hubungan seksual yang pernah anda lakukan? Genital (penis masuk ke dalam vagina)? Anal (penis masuk ke dalam anus)? Oral (mulut pada penis, vagina, atau anus)?

Protection from STDs – Perlindungan terhadap Infeksi Menular Seksual
Untuk mengetahui lebih banyak tentang riwayat dan perilaku seksual pasien atau konseli, usahakan menggunakan pertanyaan terbuka. Dari jawaban yang diberikan, anda akan tahu bagaimana mengarahkan dialog untuk memperoleh informasi sebanyak mungkin.

Perlu bagi anda untuk menentukan sejauh mana level atau tingkatan pengurangan resiko yang dibutuhkan untuk masing-masing kasus per pasien atau konseli. Jika pasien atau konseli memang memiliki hanya satu pasangan selama 12 bulan terakhir maka dialog ke arah pengurangan resiko mungkin tidak terlalu dibutuhkan.

Bagaimanapun juga, dalam beberapa situasi, anda harus bisa mengeksplorasi si pasien atau konseli mengenai abstinensia, pandangan tentang monogami, pemakaian kondom, dan persepsi pasien tentang resiko yang dihadapinya dan resiko yang dihadapi pasangannya serta bagaimana kesiapannya untuk melakukan serangkaian test dan bagaimana menghadapi hasil test tersebut. Berikut ini contoh dialognya:

“Apakah anda dan pasangan (pasangan-pasangan) menggunakan proteksi untuk menghindari infeksi menular seksual? Jika tidak, bolehkah anda sampaikan alasannya?”
“Jika anda menggunakan proteksi, proteksi jenis apa yang anda dan pasangan (pasangan-pasangan) gunakan?”
“Berapa sering anda menggunakan jenis proteksi ini?”
Jika jawabannya, “kadang-kadang”, tanyakan lagi, “pada situasi apa dan dengan siapa anda menggunakan proteksi tersebut?”
“Apakah anda mempunyai pertanyaan lain, atau adakah jenis proteksi lain terhadap IMS yang ingin anda diskusikan saat ini?” 

Past History of STDs – Pengalaman menderita/ mengidap IMS sebelumnya
Sejarah IMS sebelumnya dapat membantu seberapa besar resiko yang dia hadapi saat ini. Berikut ini adalah contoh dialognya:

“Apakah anda pernah didiagnosis mengidap IMS? Kapan? Bagaimana pengobatan yang ada terima saat itu?”
“Adakah gejala berulang yang anda dapati?”
“Apakah anda pernah ditest untuk HIV atau jenis IMS lainnya? Apakah anda ingin ditest saat ini?”
“Apakah partner anda saat ini (atau partner sebelumnya) pernah didiagnosis atau diobati untuk IMS? Apakah saat itu anda juga ditest untuk kasus IMS yang sama?”
“Jika ya, kapan anda ditest? Apa diagnosisnya saat itu? Bagaimana pengobatannya saat itu?”

Prevention of Pregnancy – Pencegahan Kehamilan
Berdasarkan pertanyaan-pertanyaan sebelumnya dari 4 seksi sebelumnya, anda bisa menentukan seberapa besar resiko si pasien atau konseli tadi untuk hamil atau menjadi seorang ayah. Jika demikian, jangan lupa menanyakan apakah kehamilan itu diinginkan atau tidak.
Pertanyaan yang diajukan harus tepat sesuai dengan jenis kelamin:

“Apakah anda saat ini sedang berusaha untuk hamil?”
“Apakah anda sadar akan kemungkinan anda bisa hamil (atau menghamili pasangan anda)?”
“Apakah anda memakai sejenis kontrasepsi atau sedang mempraktekkan cara untuk mengontrol kehamilan? Apakah anda memerlukan informasi terkait cara-cara mengontrol kehamilan?”

Pada akhir wawancara pasien atau konseli bisa saja memberikan informasi susulan atau pertanyaan yang sebelumnya tidak siap untuk dia diskusikan bersama anda. Untuk itu silahkan tambahkan beberapa pertanyaan seperti berikut:

“Apa hal lain tentang kesehatan seksual atau praktek seksual lain yang harus kita diskusikan untuk menjamin kesehatan anda?”
“Apakah anda mempunyai perhatian khusus atau pertanyaan lain berkaitan dengan kesehatan seksual atau praktek seksual yang ingin kita diskusikan bersama?”

Pada akhir diskusi, sampaikan ucapan terimakasih dan penghargaan akan keterusterangan yang telah pasien atau konseli berikan. Untuk pasien dengan resiko IMS, perlu dipengaruhi untuk segera melakukan serangkaian test dan perbaikan perilaku dalam hal penggunaan proteksi.

Bacaan:
Centers fos Disease Control and Prevention - Sexual Transmitted Disease
Apa Itu HIV dan AIDS - Kesehatan Reproduksi

No comments: