Tuesday, June 16, 2015

Inilah Cara Memupus Mitos Seputar HIV dan AIDS!



Dalam dunia penanggulangan HIV dan AIDS, para pegiat sosial sering diperhadapkan dengan berbagai pertanyaan yang kadang sulit dijawab dan kalaupun berhasil dijawab, masih membuat bingung orang yang bertanya.

Hal-hal sulit itu sebenarnya terbagi atas 2 bagian besar yaitu Mitos dan Fakta. Apakah nyamuk bisa menularkan HIV, misalnya, adalah pertanyaan yang terus menerus saya terima ketika melakukan sosialisasi awal tentang HIV dan AIDS entah itu di sekolah atau pada masyarakat umum.

Supaya pembaca lebih paham mengenai mitos-mitos apa saja yang berkembang di dunia penanggulangan HIV  dan AIDS, maka beberapa mitos yang saya sarikan dari beberapa sumber akan kita bahas di sini.

Mitos Pertama “Saya bisa terinfeksi HIV jika berada di sekitar orang yang HIV positif”

Berbagai fakta memperlihatkan bahwa HIV tidak ditularkan melalui sentuhan, air mata, keringat, ataupun air ludah. HIV hanya ditularkan melalui darah, semen (cairan kelamin laki-laki), cairan vagina, dan air susu ibu. Dengan demikian anda tak akan terinfeksi HIV jika melakukan kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Menghirup udara bersama-sama dengan orang yang HIV positif
  2. Menyentuh dudukan toilet atau gagang pintu setelah disentuh orang yang HIV positif
  3. Minum dari mata air yang sama yang diminum orang yang HIV positif
  4. Berpelukan, berciuman, atau berjabat tangan dengan orang yang HIV positif
  5. Berbagi peralatan makan bersama orang yang HIV positif
  6. Menggunakan alat-alat olahraga di tempat fitness bersama-sama dengan orang yang HIV positif

Mitos yang Kedua “Saya tak perlu khawatir menjadi HIV positif – obat-obat baru akan menjaga saya tetap sehat”

Betul, obat yang disebut ARV (Anti Retro Viral) memang semakin lama semakin baik dan terbukti memperpanjang hidup banyak orang dengan HIV positif. Namun bagaimanapun juga obat-obat ini harganya mahal dan tetap ada efek sampingnya. Tidak ada satu obatpun yang menjamin kesembuhan. Selain itu, adanya jenis HIV yang kebal obat merupakan tantangan tersendiri untuk dunia penanggulangan HIV dan AIDS.

Mitos yang Ketiga “Saya bisa terinfeksi HIV dari gigitan nyamuk”

Karena HIV menular melalui darah, banyak orang menjadi salah persepsi bahwa gigitan nyamuk atau serangga penghisap darah lainnya bisa menularkan HIV. Beberapa studi  yang dilakukan memperlihatkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung penularan melalui nyamuk atau serangga pengisap darah lainnya tersebut. Bahkan, di area dengan nyamuk yang banyak dan kasus HIV yang banyak pun tidak didapatkan penularan melalui nyamuk. Ketika nyamuk mengigit ternyata dia tidak memasukkan darah terakhir yang dia hisap ke tempat gigitan yang baru. Jadi, hanya menghisap saja. Selain itu, HIV juga tidak bertahan hidup lama jika berada dalam tubuh serangga. Fakta lain yang mendukung bahwa nyamuk tidak dapat menularkan HIV adalah dari jumlah orang yang terinfeksi HIV itu sendiri. Sebagian besar persentasenya berada pada usia produktif. Sedangkan, kalau seandainya nyamuk menularkan HIV maka persentase orang yang terinfeksi harus sama untuk semua kategori usia.

Mitos yang keempat “Jika saya HIV positif maka hidup saya sudah berakhir”

Pada awal-awal epideminya, kasus kematian karena AIDS sangat tinggi. Namun, saat ini, obat-obat anti retroviral memungkinkan orang yang HIV positif bahkan orang yang sudah pada tahap AIDS untuk hidup lebih lama, normal dan produktif.

Mitos yang kelima “AIDS adalah genosida”
Pada satu penelitian yang dilakukan di Amerika Latin, masih ada 30% orang yang beranggapan bahwa AIDS adalah cara pemerintah untuk menyingkirkan kaum minoritas. Hal yang sama juga kerap saya temui ketika memberikan sosialisasi awal tentang HIV di Papua. Banyak yang beranggapan bahwa HIV dan AIDS adalah cara pemerintah Indonesia untuk menyingkirkan suku asli Papua. Biasanya hal ini diungkapkan dengan kalimat, “Dulu tidak ada HIV dan AIDS tapi semenjak pemerintah datang, baru kita tahu ada HIV dan AIDS, itu kenapa e?”. Nah, kalau sudah ada pertanyaan seperti itu maka pemaparan sejarah HIV pun kembali ditampilkan. Selain itu, perlu disampaikan juga bahwa dengan adanya pemeriksaan kesehatan yang lebih baik saat ini merupakan salah satu faktor ditemukannya semakin banyak kasus HIV di Papua.

Mitos yang keenam “Saya bukan gay dan tak pernah menggunakan narkoba suntik – pasti saya tak mungkin terinfeksi HIV”

Dulu memang penyebaran HIV sempat diduga berasal dari hubungan sejenis terutama laki-laki dengan laki-laki. Namun saat ini penyebarannya lebih luas. Tidak hanya di kalangan homoseksual namun juga di kalangan heteroseksual.

Mitos yang ketujuh “Jika saya sedang menjalani pengobatan, maka saya tak mungkin menularkan HIV”

Ketika pengobatan yang dijalani berjalan dengan baik, maka jumlah virus dalam darah akan turun hingga tak terdekteksi saat dilakukan pemeriksaan darah. Penelitian memperlihatkan bahwa virus tersebut ternyata bersembunyi di bagian tubuh yang lain sehingga lebih baik jika perilaku seks yang aman tetap diterapkan supaya tidak ada orang lain yang tertular.

Mitos yang kedelapan “Saya dan pasangan saya keduanya HIV positif, jadi tak masalah kalau tidak mempraktekkan perilaku seks yang aman”

Walau anda dan pasangan keduanya HIV positif, mempraktekkan perilaku seks yang aman tetap diperlukan. Misalnya, tetap menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pasangan atau menggunakan dental dams saat melakukan seks oral dengan pasangan. Hal ini bisa mencegah anda terinfeksi lagi oleh jenis HIV yang resisten terhadap obat.
Dental Dams (Sumber: sanctuaryhealth.com)


Mitos kesembilan “Saya bisa langsung tahu gejalanya kalau tiba-tiba pasangan saya HIV positif”

Seseorang bisa saja HIV positif dan tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan anda HIV positif adalah dengan melakukan pemeriksaan darah.

Mitos kesepuluh “Anda tak bisa terinfeksi HIV karena melakukan oral seks”

Memang benar kalau oral seks lebih rendah resikonya dibandingkan dengan tipe hubungan seks yang lain. Tetapi tetap saja ada resiko tertular jika melakukan hubungan seks secara oral dengan laki-laki atau perempuan yang HIV positif. Selalu gunakan pelindung lateks saat melakukan hubungan seks secara oral.
Nah,sudah cukup jelas kan? Beberapa mitos yang paling sering disampaikan sudah dibahas, namun ternyata ada juga beberapa pernyataan yang kadang harus diteliti dulu apakah pernyataan tersbut tergolong mitos atau fakta. Berikut ini akan dibahas apakah pernyataan-pernyataan tersebut tergolong mitos atau fakta.

Menggunakan dental dams. Sumber: meatincorporated.blogspot.com


HIV Positif sama dengan AIDS?

Ini adalah mitos. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menghancurkan sel-sel imun CD4 tubuh. Sel-sel imun CD4 adalah sel yang bertugas membantu melawan penyakit yang masuk dalam tubuh. Dengan terapi yang baik, seseorang bisa HIV positif selama bertahun-tahun atau berpuluh tahun tanpa masuk ke tahap AIDS. Seseorang didiagnosis AIDS jika dia adalah HIV positif dengan infeksi opportunistik yang berkembang dalam tubuhnya atau perhitungan CD4 nya turun di bawah 200.

HIV dapat disembuhkan!

Ini adalah mitos. Hingga saat ini tidak ada yang dapat menyembuhkan HIV, tetapi pengobatan atau terapi yang baik dengan ARV dapat menurunkan jumlah virus menjadi sangat rendah dan membantu memperbaiki sistim imun. Beberapa jenis ARV bekerja menghambat protein HIV yang dibutuhkannya untuk membelah diri, jenis yang lain bekerja dengan menghalangi virus masuk ke sel-sel imun dan material genetiknya. Sebelum memulai pengobatan, tentu dokter akan memperhatikan beberapa hal terkait sistim imun anda dan jumlah virus dalam tubuh anda.

Siapa saja bisa terinfeksi HIV!

Betul! Ini adalah fakta. Hingga September 2014, jumlah total kasus HIV yang didata adalah 150,296 kasus dan untuk AIDS total 55,799 kasus. Kalau dilihat penyebarannya berdasarkan golongan umur, maka di semua golongan umur terbukti ada yang menjadi korban, bahkan hingga masuk tahap AIDS. Dilihat dari cara penyebarannya pun demikian beragam walau penularan melalui hubungan seks secara heteroseksual masih merupakan sumber penularan tertinggi. Artinya, siapa saja memang bisa terinfeksi HIV!

Kasus HIV dan AIDS di Indonesia hingga akhir September 2014. Sumber: spiritia.or.id

Anda bisa tetap mempunyai bayi walau HIV positif

Betul! Ini adalah fakta yang bisa ditemukan saat ini. Walau ibu yang HIV positif berpotensi besar menularkan ke bayinya, melalui konsultasi dan perencanaan yang baik bersama dokter, kemungkinan penularan dari ibu ke bayi bisa ditekan hingga minimal sehingga tak jarang ditemukan walau ibunya HIV positif, bayi yang dilahirkan bisa HIV negatif. 

Pemaparan di atas tentu masih terbatas. Di luar sana masih banyak mitos-mitos tentang HIV dan AIDS yang masih harus dipatahkan. Dibuktikan bahwa itu hanya sekedar mitos yang tidak layak dipercaya. 

Lalu bagaimana caranya kita memupus mitos-mitos itu?

Pertama, dengan mencari sumber-sumber literatur yang tepat. Jangan menggunakan informasi yang didapat dari situs tanya jawab sebagai informasi yang akurat kecuali kalau dalam situs tanya jawab itu tercantum sumber aslinya dan sumber asli itu sudah kita cek dan ricek kembali.

Kedua, segera memperbaiki atau meralat jika kita menemukan ada informasi yang kurang tepat yang beredar di sekitar kita tentang HIV dan AIDS. Kalau perlu, ajak siapapun untuk berdiskusi.

Ketiga, gunakan semua sumber penyebaran informasi yang ada untuk menyebarluaskan informasi tentang HIV dan AIDS dengan lengkap dan benar. Jika kita memiliki media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain, boleh juga kita menyebarkan informasi yang kita dapatkan ke followers atau sesame rekan pengguna medsos. Lebih mudah lagi, jika kita mengikuti Facebook KPA Nasional atau Twitter KPA Nasional. Kalau follow twitternya kan mudah tinggal RT (re-tweet) saja.

Follow Facebook dan Twitter KPAN. Sumber: aidsindonesia.or.id


Keempat, aktif dalam forum-forum diskusi tentang HIV dan AIDS. Penanggulangan HIV dan AIDS saat ini berkembang dengan pesat. Ada terapi jenis baru, misalnya yang mungkin belum tersebar luas atau belum pernah didiskusikan sebelumnya, bisa langsung diketahui jika terlibat aktif dalam forum diskusi. Forum-forum diskusi juga menolong kita untuk sewaktu-waktu bertanya jika menemukan hal-hal sulit dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Pengalaman orang lain yang pernah menghadapi masalah serupa mungkin bisa diterapkan untuk mengatasi masalah kita. Salah satu forum diskusi yang rutin diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) adalah Pertemuan Nasional AIDS (Pernas AIDS). Tahun ini adalah tahun kelima diselenggarakannya Pernas AIDS tersebut.

Sementara ini 4 langkah itu dulu yang bisa saya sampaikan. Mungkin pembaca memiliki langkah-langkah berikutnya yang tak kalah penting. Silahkan dishare ya… 

Akhirnya, mari kita pupus mitos dan sebar-luaskan fakta sehingga makin banyak orang memahami tentang HIV dan AIDS dengan lengkap dan benar!

Sumber:

Tuesday, March 17, 2015

Mengenal Konseling Untuk HIV dan AIDS



Apakah konseling itu?

Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan, membantu klien menolong diri sendiri. Konseling dilakukan baik untuk individu, pasangan atau keluarga, membantu individu bertanggung jawab atas hidupnya dengan mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak dan realistis, menimbang setiap konsekuensi dari perilaku, memberikan informasi yang berfokus pada klien dan secara spesifik tertuju pada kebutuhan, isu dan seputar klien sebagai individu, melalui proses internal, kolaboratif, bertanggung jawab menuju pada suatu tujuan. 

Dalam hal tersebut, termasuk juga mengembangkan otonomi dan tanggung jawab diri pribadi klien dengan mempertimbangkan situasi interpersonal, sosial/ budaya, kesiapan untuk berubah, mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas opsi dan mengembangkan rencana tindakan.

Melakukan konseling tidak mudah namun juga tidak sulit karena itu seorang yang melakukan kegiatan konseling seharusnya mengerti rambu-rambu pelaksanaan konseling agar tidak terjebak pada kegiatan yang bukan konseling yakni bersikap mengarahkan, menyarankan, menasehati, ngobrol, menginterogasi, membuat pengakuan, mendoakan, memberi harapan, dan lain-lain.
Konseling. Sumber: theseedofhope.org

Apakah Konseling HIV dan AIDS itu?

Konseling HIV dan AIDS bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan, bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV dan AIDS. Proses konseling termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes positif (+).

Konseling pencegahan dan perubahan perilaku guna mencegah penularan. Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak, ada dampak psikologik, sosial, fisik dan spiritual. HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.

Adapun proses konseling adalah sebagai berikut:

Tahap pertama: Dimulai dari membina hubungan baik dan membina kepercayaan, dengan menjaga rahasia dan mendiskusikan keterbatasan rahasia, melakukan ventilasi permasalahan, mendorong ekspresi perasaan, diutamakan dapat menggali masalah, terus mendorong klien menceritakannya.
Upayakan dapat memperjelas harapan klien dengan mendeskripsikan apa yang konselor dapat lakukan dan cara kerja mereka serta memberi pernyataan jelas bahwasanya komitmen konselor akan bekerja bersama dengan klien.

Tahap kedua: Mendefinisikan dan pengertian peran, memberikan batasan dan kebutuhan untuk mengungkapkan peran dan batasan hubungan konseling, mulai dengan memaparkan dan memperjelas tujuan dan kebutuhan klien, menyusun prioritas tujuan dan kebutuhan klien, mengambil riwayat rinci  dengan menceritakan hal yang spesifik, menggali keyakinan, pengetahuan dan keprihatinan klien.

Tahap ketiga: Proses dukungan konseling lanjutan yakni dengan meneruskan ekspresi perasaan/ pikiran, mengidentifikasi opsi, mengidentifikasi ketrampilan, penyesuaian diri yang telah ada, mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut, mengevaluasi opsi dan implikasinya, memungkinkan perubahan perilaku, mendukung dan menjaga kerjasama dalam masalah klien, monitoring perbaikan tujuan yang terindentifikasi, memberikan rujukan yang sesuai.

Tahap empat: Untuk menutup atau mengakhiri hubungan konseling. Disarankan kepada klien dapat bertindak sesuai rencana klien menata dan menyesuaiakan diri dengan fungsi sehari-hari, bangun eksistensi sistem dukungan dan dukungan yang diakses, lalu mengidentifikasi strategi untuk memelihara hal yang sudah beruhah baik.

Untuk pengungkapan diri harus didiskusikan dan direncanakan, alur interval parjanjian diperpanjang, disertai pengenalan dan pengaksesan sumber daya dan rujukan yang tersedia, lalu pastikan bahwa ketika ia membutuhkan para konselor senantiasa bersedia membantu.

Menutup atau mengakhiri konseling dengan mengatur penutupan dengan diskusi dan rencana selanjutnya, bisa saja dengan membuat perjanjian pertemuan yang makin lama makin panjang intervalnya. Senantiasa menyediakan sumber dan rujukan yang telah dikenali dan dapat diakses sambil memastikan klien dapat mengakses konselor jika ia memilih untuk kembali ketika membutuhkan.

Tujuan Konseling HIV dan AIDS

Konseling HIV dan AIDS merupakan proses dengan 3 (tiga) tujuan umum: 
  1. Dukungan psikologik misalnya dukungan emosi, psikologi sosial, spiritual sehingga rasa sejahtera terbangun pada odha dan yang terinfeksi virus lainnya.
  2. Pencegahan penularan HIV dan AIDS melalui informasi tentang perilaku berisiko (seperti seks tak aman atau penggunaan alat suntik bersama ) dan membantu orang untuk membangun ketrampilan pribadi yang penting untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman.
  3. Memastikan terapi efektif dengan penyelesaian masalah dan isu kepatuhan

Cara untuk mencapai tujuan:
Mengajak klien mengenali perasaannya dan mengungkapkannya , menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindak lanjut yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, mendorong perubahan perilaku, memberikan informasi pencegahan, terapi dan perawatan HIV dan AIDS terkini, memberikan informasi tentang institusi (pemerintah dan non pemerintah) yang dapat membantu dibidang sosial, ekonomi dan budaya, membantu orang untuk kontak dengan institusi diatas.

Membantu klien mendapatkan dukungan dari sistem jejaring sosial, kawan dan keluarga membantu klien melakukan penyesuaian dengan rasa duka dan kehilangan, melakukan peran advokasi, misalnya membantu melawan diskriminasi, membantu individu mewaspadai hak hukumnya, membantu klien memelihara diri sepanjang hidupnya, dan membantu klien menentukan arti hidupnya. 

Selain isu yang berkaitan langsung dengan HIV dan AIDS, klien dapat menyajikan serangkaian isu tentang keadaan tidak langsung berkaitan dengan HIV terkait kebutuhan terapi spesifik misalnya: disfungsi seksual, serangan panik dari isu terdahulu yang belum terselesaikan (misalnya: isu seksual, ketergantungan napza), dan masalah keluarga.

Bagaimana para pembaca? Tentu informasi di atas masih banyak kekurangannya, yuk kita diskusikan lebih lanjut di laman Facebook Apa Itu HIV dan AIDS. Atau tweet di @ApaItuHIV_AIDS

Disarikan dari berbagai sumber termasuk Pokdisus.

Thursday, January 8, 2015

Masturbasi sebagai solusi atasi PMS?



Beberapa pertanyaan mampir di inbox Laman Facebook Apa Itu HIV dan AIDS yang mempertanyakan tentang masturbasi, termasuk pertanyaan apakah melakukan masturbasi bisa menyebabkan tertular penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV. Untuk itu artikel ini akan mencoba mengulas sedikit tentang masturbasi  yang diolah dari berbagai sumber sehingga ada pemahaman bagi pembaca tentang apa itu masturbasi dan bagaimana menyikapinya.


Masturbasi (istilah lainnya onani atau rancap) adalah perangsangan seksual yang sengaja dilakukan pada organ kelamin untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Perangsangan ini dapat dilakukan tanpa alat bantu ataupun menggunakan suatu objek atau alat, atau kombinasi dari keduanya. Masturbasi merupakan suatu bentuk autoerotisisme yang paling umum, meskipun hal tersebut dapat pula dilakukan dengan bantuan orang lain secara bersama (Mutual Masturbation).

Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95% pria dan 89% wanita pernah melakukan masturbasi. Masturbasi merupakan tindakan seksual pertama yang dilakukan oleh sebagian besar pria dan wanita, meskipun lebih banyak wanita yang telah melakukan sanggama sebelum mereka pernah melakukan masturbasi. Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung selalu atau biasanya mengalami orgasme ketika bermasturbasi. Ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua setelah sanggama, bahkan masih saja ada yang melakukan masturbasi meskipun telah memiliki pasangan seksual tetap. Sebuah survei yang dilakukan oleh Kinsey pada tahun 2010, mencatat bahwa sebagian besar remaja berusia di bawah 18 tahun telah melakukan masturbasi. Tercatat, 80 persen remaja laki-laki dan 59 persen remaja perempuan telah melakukan masturbasi. Semakin beranjaknya usia, pengakuan ini meningkat. Melewati usia 18 tahun, 92 persen wanita mengakui telah melakukan masturbasi di usia muda.
Lukisan Wegener tentang Masturbasi pada wanita. Sumber: wikipedia

Seringkali setelah masa bayi, sebagian besar anak-anak kadangkala menemukan kenikmatan ketika organ genitalnya dirangsang, tetapi jangan dipahami perilaku ini sebagai "seksual" sebelum mereka memasuki masa remaja. Selama masa remaja, persentase mereka (baik laki-laki maupun perempuan) yang melakukan masturbasi meningkat dengan pesat, terutama pada pria. Sebagian besar orang terus melakukan masturbasi ketika mereka telah dewasa, dan banyak juga yang melakukannya sepanjang hidup mereka. Kaum wanita biasanya menggunakan alat untuk melakukan masturbasi, di antaranya menggunakan timun, terung, maupun alat-alat modern berupa vibrator dan dildo.

Cara masturbasi pada laki-laki dan perempuan umumnya dilakukan dengan cara menggosok atau mengelus-elus daerah kemaluan dengan telapak tangan atau jari, dan dimungkinkan juga menggesek-gesekkan kemaluan mereka pada objek seperti bantal. Organ tubuh lainnya juga dapat merasakan kenikmatan bermasturbasi dengan cara menyentuh, menggosok, atau mencubit puting atau organ tubuh lainnya yang peka rangsangan seksual. Laki-laki maupun perempuan terkadang menggunakan zat pelumas untuk mengintensifkan sensasi saat masturbasi. Membaca, melihat, mendengar, atau berfantasi hal-hal pornografi sering digunakan sebagai bumbu tambahan bermasturbasi. Sering kali orang akan mengingat kenangan dan fantasi selama masturbasi.

Hingga saat ini membicarakan tentang masturbasi masih menimbulkan pro-kontra. Ada yang mengatakan bahwa masturbasi itu perlu dilakukan dan menyehatkan namun tak sedikit yang mengangkat dampak buruk dari masturbasi sehingga melarang untuk melakukannya.
Bagi yang menyatakannya bermanfaat, maka pada wanita, manfaatnya antara lain:

  1. Kesehatan serviks, Jika anda pernah mendengar bahwa masturbasi bisa menurunkan risiko kanker prostat pada pria, maka hal yang sama juga berlaku pada wanita. Masturbasi yang dilakukan wanita diketahui berkaitan dengan kesehatan serviks. Ketika serviks membuka saat wanita mengalami orgasme, cairan serviks terdorong keluar. Dan ketika cairan tersebut melewati vagina, cairan tersebut mengeluarkan bakteri jahat yang bisa menyebabkan infeksi.
  2. Menurunkan stress, Manfaat lain dari masturbasi untuk wanita adalah bisa menurunkan stres dan ketegangan. Penelitian mengungkap bahwa orgasme bisa membuat tubuh mengeluarkan hormon yang ampuh menangkal depresi. Hal ini juga berlaku ketika wanita mengalami orgasme saat melakukan masturbasi.
  3. Menguatkan otot vagina, Masturbasi bisa membantu wanita menguatkan otot di daerah pelvis dan vagina. Hal ini karena ketika mengalami orgasme dan melakukan masturbasi, bagian uterus akan berkontraksi dan menguatkan otot di sekitar vagina.
  4. Tidur lebih nyenyak, Penelitian menunjukkan bahwa masturbasi juga bisa membantu mengatasi insomnia. Saat melakukan masturbasi, tubuh memproduksi hormon yang membuat seseorang merasa nyaman dan senang. Hormon ini muncul diikuti dengan hormon oxytocin yang bisa membantu agar Anda cepat terlelap. 
  5. Meningkatkan mood, Masturbasi dilakukan untuk menyenangkan diri sendiri. Dengan begitu, masturbasi bisa meningkatkan mood seseorang. Ketika mengalami orgasme saat masturbasi,tubuh mengeluarkan dopamin yang bisa membuat mood seseorang menjadi lebih baik.
Sedangkan bagi pria, masturbasi tidak hanya untuk memuaskan hasrat seksual saja, tapi juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Masturbasi yang sehat bisa mencegah kanker prostat dan tidak akan mengakibatkan gangguan mental seperti kecanduan seksual dengan pasangan atau gangguan seksual lainnya. Berikut ini manfaat masturbasi pada pria dewasa:

  1. Menyegarkan sperma. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ejakulasi saat masturbasi bisa membantu menjaga kualitas sperma sebab sperma yang lama akan diganti dengan memproduksi sperma yang lebih segar. Artinya, sperma segar bisa meningkatkan kesuburan pria.
  2. Mengurangi stres. Menstimulasi tubuh dengan masturbasi bisa mengurangi stres. Saat bermasturbasi, hormon oksitosin dan dopamin akan terbentuk. Kondisi ini bisa menenangkan suasana hati dan membantu seseorang tidur lebih nyenyak.
  3. Mencegah penyakit menular. Masturbasi sering disebut sebagai praktek seksual yang paling aman. Meski tidak bersentuhan langsung dengan organ genital pasangan, namun pria masih bisa merasakan kepuasan dan tentunya risiko penularan penyakit seksual pun makin sedikit.
  4. Mengurangi kemungkinan kanker prostat. Hasil studi di Australia tahun 2003 menemukan bahwa pria yang mengalami ejakulasi lebih dari lima kali dalam seminggu berisiko lebih rendah terkena kanker prostat. Masturbasi ibaratnya seperti membilas sistem reproduksi pria dan mencegah berkembangnya sel-sel kanker.
  5. Sarana latihan seks. Masturbasi juga kerap digunakan sebagai kegiatan berlatih sebelum melakukan hubungan seks yang sebenarnya. Pada wanita, masturbasi bisa membantunya mengenali titik-titik sensitif yang kemudian bisa diberitahukan kepada suami.
Masturbasi sehat secara teratur bahkan bisa juga mencegah terjadinya ejakulasi dini dan bisa melatih kontrol emosi yang lebih baik.
Namun selain bermanfaat bagi kesehatan ternyata masturbasi juga bisa menyebabkan kecanduan sehingga bisa berdampak buruk sebagai berikut:

  1. Impotensi. Gangguan pada saraf parasimpatik bisa mempengaruhi kemampuan otak dalam merespons rangsang seksual. Akibatnya kemampuan ereksi melemah, bahkan dalam tingkat keparahan tertentu bisa menyebabkan impotensi yakni gangguan seksual yang menyebabkan penis tidak bisa berdiri sama sekali.
  2. Kebocoran katup air mani. Bukan hanya ereksi saja yang terpengaruh oleh kerusakan saraf, kemampuan saluran air mani untuk membuka dan menutup pada waktu yag tepat juga terganggu. Akibatnya sperma dan air mani tidak hanya keluar saat ereksi, lendir-lendir tersebut bisa juga keluar sewaktu-waktu seperti ingus sekalipun penis sedang dalam kondisi lemas.
  3. Kebotakan. Dampak lain dari ketidakseimbangan hormon yang terjadi jika terlalu sering masturbasi adalah kerontokan rambut. Jika tidak diatasi, lama-kelamaan akan memicu kebotakan atau penipisan rambut pada pria.
  4. Nyeri punggung dan selangkangan. Kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan. Bagi yang melakukannya dengan tangan kosong tanpa pelumas, rasa nyeri juga bisa menyerang penis karena gesekan yang terjadi bisa menyebabkan lecet-lecet.
  5. Rasa letih sepanjang hari. Setiap kali tubuhnya mengejang karena orgasme, pria akan kehilangan cukup banyak energi karena hampir semua otot akan mengalami kontraksi. Akibatnya jika terlalu sering, pria akan kehilangan gairah untuk beraktivitas dan cenderung akan merasa ngantuk sepanjang hari.

Namun berapa frekuensi masturbasi yang dianggap kecanduan masih juga menjadi bahan perdebatan. Ada yang mengatakan jika lebih dari 7 kali dalam seminggu sudah termasuk kecanduan, namun ada yang menganggap frekuensi tidak masalah selama tidak mempengaruhi kinerja dan hubungan sosial seseorang.
Lukisan masturbasi pria oleh Henri Avil. Sumber: wikipedia

Lalu, apakah masturbasi bisa mengurangi kejadian PMS? Jawabannya, ya, jika dilakukan sendiri (bukan mutual masturbation atau masturbasi bersama) dengan sehat. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan diri dan alat yang akan digunakan. Bahkan ada beberapa negara yang menyarankan agar kaum remajanya melakukan masturbasi. Pada tahun 2009, pemerintah Inggris bersama dengan Uni Eropa mendorong kaum remaja untuk melakukan masturbasi setidaknya sekali setiap hari. Masturbasi tidak hanya dibenarkan secara kesehatan, tetapi juga disebut-sebut membantu mengurangi PMS dan mencegah kehamilan remaja.

Tapi tentunya, masih banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan masturbasi. Salah satunya terkait dengan pandangan agama yang anda anut. Tanyakan pada pemuka agama anda tentang pandangan agama anda tentang masturbasi. Tentu tidak nyaman, melakukan masturbasi jika masih diliputi beban rasa bersalah yang akhirnya akan merusak diri sendiri. Selain itu, coba dipikirkan kembali, adakah kegiatan lain yang lebih menarik dan lebih bermanfaat untuk dilakukan selain masturbasi? 

Hmm… semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Kalau merasa nyaman, ya silahkan, namun kalau tidak merasa nyaman, sebaiknya jangan melakukan masturbasi karena dampak masturbasi yang sehat hanya akan tercapai jika dilakukan dengan perasaan nyaman.

Bacaan: