Monday, July 20, 2015

Di Afrika target 90-90-90 telah tercapai, bagaimana Indonesia?



Berlangganan miling list IAS (International AIDS Society) Conference 2015, suatu even rutin yang diselenggarakan para praktisi di bidang penanggulangan HIV dan AIDS sedunia membuat pengelola blog Apa Itu HIV dan AIDS tetap update dengan perkembangan terbaru penanggulangan HIV dan AIDS didunia.

Salah satu berita yang sangat baik adalah keberhasilan negara-negara di Afrika dalam mencapai target 90-90-90 yang ditetapkan oleh UNAIDS. Apa itu target 90-90-90? Yaitu, 90% orang diperiksa (tested), 90% orang dengan HIV diterapi (treated), dan 90% orang yang telah diterapi mengalami penurunan jumlah virus (viral load) hingga tak terdeteksi (undetected).

Yang lebih mengejutkan lagi adalah, bahwa ada 2 negara Afrika yang pencapaian targetnya sangat baik, bahkan mengalahkan negara adidaya Amerika. Tabel lengkapnya saya copykan dari web aidsmap.com sebagai berikut:

Pencapaian Botswana dan Rwanda mengalahkan Amerika. Digambar ulang dengan data dari aidsmap.com


Botswana dan Rwanda menunjukkan pencapaian yang baik karena ada komitmen politis dan kepemimpinan yang kuat. Ini adalah syarat mutlak agar penanggulangan HIV dan AIDS di suatu daerah bisa berjalan dengan baik.

Lalu, bagaimana dengan Indonesia. Hingga saat ini saya masih berusaha mencari data-datanya. Mudah-mudahan nanti bisa didapatkan dan diposting di blog ini.

Akhirnya, selamat buat Botswana dan Rwanda. Negara yang entah dimana saya sendiri tidak tahu. Tapi nama negaranya bisa berkibar-kibar di konferensi internasional karena pencapaiannya yang baik. Mudah-mudahan Indonesia segera menyusul.

Referensi:


Tuesday, July 7, 2015

Mencegah Stigma Tanggung Jawab Kita Bersama!



Stigma adalah suatu proses dinamis yang terbangun dari suatu persepsi yang telah ada sebelumnya yang menimbulkan suatu pelanggaran terhadap sikap, kepercayaan, dan nilai. Stigma dapat mendorong seseorang untuk mempunyai prasangka pemikiran, perilaku, dan atau tindakan oleh pihak pemerintah, masyarakat, pemberi kerja, penyedia pelayanan kesehatan, teman sekerja, para teman, dan keluarga-keluarga (Castro dan Farmer, 2010).
No Stigma!


Goffman (1963) membuat konsep tentang stigma yaitu suatu atribut yang mendiskreditkan secara signifikan. Goffman juga mengemukakan istilah stigma merujuk pada keadaan suatu kelompok sosial yang membuat identitas terhadap seseorang atau kelompok berdasarkan sifat fisik, perilaku, ataupun sosial yang dipersepsikan menyimpang dari norma-norma dalam komunitas tersebut.

Herek dan Glunt (1991) sebagaimana dikutip Waluyo et al. (2006) meneliti tentang opini masyarakat Amerika tentang HIV-AIDS yang ternyata cukup mengejutkan hasilnya, dimana sebagian besar memandang penderita HIV-AIDS harus dikucilkan dan diintimidasi agar dapat dipisahkan dari kehidupan “normal”. Kelompok yang diteliti ini juga mempersalahkan mereka yeng menderita HIV-AIDS, mengapa mereka sampai tertular HIV-AIDS.

Tindakan menstigma atau stigmatisasi terjadi melalui beberapa proses yang berbeda-beda seperti:

  1. Stigma aktual (actual) atau stigma yang dialami (experienced) terjadi jika ada orang atau masyarakat yang melakukan tindakan nyata, baik verbal maupun non verbal yang menyebabkan orang lain dibedakan dan disingkirkan.
  2. Stigma potensial atau yang dirasakan (felt) terjadi jika tindakan stigma belum terjadi tetapi ada tanda atau perasaan tidak nyaman. Sehingga orang cenderung tidak mengakses layanan kesehatan.
  3. Stigma internal atau stigmatisasi diri adalah seseorang yang menghakimi dirinya sendiri sebagai “tidak berhak” atau “tidak disukai masyarakat”. Hal ini diperkuat oleh Ahwan (2014) yang menyatakan bentuk lain dari stigma yang berkembang melalui internalisasi oleh ODHA dengan persepsi negatif tentang diri mereka sendiri. Hal ini dikenal dengan stigma diri sendiri atau self stigmatization. Waluyo et al. (2006) juga menyatakan adanya pengaruh pemahaman dan kepercayaan seseorang terhadap terjadinya stigma pada dirinya sendiri  akibat proses gabungan antara proses psikologis dan budaya yang berkembang
Adapun faktor-faktor yang dapat mempengaruhi stigma terhadap orang dengan HIV-AIDS:

  1. Pendapat bahwa HIV-AIDS adalah penyakit mematikan
  2. Pendapat bahwa HIV-AIDS adalah penyakit karena perbuatan melanggar susila, kotor, tidak bertanggung jawab
  3. Pendapat bahwa orang dengan HIV-AIDS pasti dengan sengaja menularkan penyakitnya
  4. Kurangnya pengetahuan yang benar tentang cara penularan HIV. Waluyo et al. (2006) menarik kesimpulan dalam penelitiannya bahwa ketidaktahuan pasien, keluarga, dan orang-orang di sekitar pasien HIV-AIDS, membuat tes HIV yang harus secara dini dilakukan oleh pasien maupun orang-orang di sekitar pasien yang beresiko, tidak dapat dilakukan dengan segera. Deteksi dini pada orang beresiko HIV-AIDS tidak dapat dilakukan dan dapat berdampak pada tidak optimalnya terapi ARV yang diberikan pada pasien HIV-AIDS. Karena semakin dini deteksi dilakukan maka akan semakin baik hasil yang didapatkan pada terapi ARV pasien HIV-AIDS.
Stigma harus kita cegah bersama karena dapat menyebabkan diskriminasi yang selanjutnya akan mengakibatkan:

  1. Isolasi 
  2. Hilangnya pendapatan atau mata pencaharian
  3. Penyangkalan atau pembatasan akses pada layanan kesehatan
  4. Kekerasan fisik dan emosional
Selain itu, dengan mencegah stigma, ada banyak hal yang bisa kita capai bersama, antara lain kita dapat:

  1. Memperkuat respon efektif untuk mengatasi HIV-AIDS
  2. Mendorong pengembangan dan rasa percaya diri yang kuat pada ODHA.
  3. Menciptakan role model positif dan memahami upaya anti stigma dan diskriminasi lebih jauh.
  4. Memperkuat ikatan ODHA, keluarga mereka dan komunitas untuk bersama
Untuk mengatasi stigma, kita dapat memainkan peran untuk mengedukasi pihak lain, menyuarakan dan menunjukkan sikap dan perilaku baru. Beberapa langkah praktis yang dapat dilakukan untuk menghadapi stigma dan diskriminasi adalah sebagai berikut:

  1. Jadilah contoh yang baik, caranya ialah dengan menerapkan pengetahuan yang sudah kita miliki. Salah satu sumber pengetahuan yang wajib menjadi acuan adalah yang berasal dari Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Dengan pengetahuan yang baik akan berbagai fakta yang ada, kita mulai bisa memikirkan kata-kata yang kita gunakan sehari-hari dan bagaimana cara kita berperilaku terhadap ODHA selama ini. Kemudian, coba pikirkan apa yang bisa kita buat berbeda dari cara pikir dan tindakan kita selama ini. 
  2. Berbagi dengan orang lain, caranya sama dengan di atas. Fakta-fakta yang sudah kita ketahui kita bagikan ke orang lain dengan mengajak mereka berdiskusi tentang stigma dan bagaimana cara-cara yang tepat untuk mengubahnya.
  3. Mengatasi masalah stigma ketika kita melihatnya terjadi di rumah, kantor, maupun di masyarakat dengan cara berbicara tentang apa masalahnya dan buat orang lain paham bahwa stigma itu melukai.
  4. Lawan stigma melalui kelompok. Dalam kelompok kita bisa menyampaikan situasi tentang stigma yang ada di lingkungan kita. Lewat kelompok suara kita akan lebih didengar karena bersuara bersama-sama tentu lebih besar dampaknya daripada suara individu.
  5. Tidak cukup hanya mengatakan bahwa stigma itu “buruk” atau “salah” namun lebih baik jika langsung bertindak untuk melakukan perubahan. 
  6. Berpikir besar, mulai dari yang kecil, dan bertindak sekarang.
Studi yang dilakukan oleh Herek dan Capitano (1993) sebagaimana dikutip Waluyo et al. (2006) menunjukkan bahwa pemberian informasi saja tidaklah cukup untuk meminimalkan stigma yang terjadi di masyarakat. Selain memberikan informasi yang lengkap dan benar, untuk melengkapi langkah di atas, kita dapat pula melakukan hal-hal ini supaya masyarakat mulai membicarakan dan mulai bertindak untuk melawan stigma:

  1. Testimoni oleh ODHA maupun keluarganya mengenai pengalaman mereka hidup dengan HIV atau hidup dengan orang yang positif HIV. 
  2. Pengawasan bahasa (language watch). Lakukan “survey mendengarkan” untuk mengidentifikasi kata-kata yang menstigma yang sering digunakan di masyarakat (di media maupun di lagu-lagu yang populer)
  3. Community mapping mengenai stigma untuk mengidentifikasi titik-titik stigma di masyarakat dengan menunjukkan peta wilayah komunitas dalam pertemuan. 
  4. Community walk, berupa ajakan untuk mengambil langkah untuk mengurangi stigma yang berlangsung di masyarakat setelah proses community mapping.
  5. Pertunjukan drama berdasarkan kisah nyata pada berbagai kesempatan. 
  6. Pameran gambar sebagai sarana untuk memulai diskusi mengenai stigma.

Untuk melakukan langkah-langkah di atas tentu kita bertanya-tanya. Adakah pedoman yang bisa digunakan? Adakah sumber referensi yang dapat dipercaya? Untuk mudahnya kunjungi saja laman Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN). Komisi ini secara teratur menyelenggarakan berbagai even yang bertujuan menyebarkan informasi yang lengkap dan benar tentang penangulangan HIV-AIDS di Indonesia. Salah satu even terdekat yang akan dilakukan adalah Pertemuan Nasional AIDS V (Pernas AIDS V) yang akan berlangsung bulan Oktober nanti. Pertemuan ini menjadi ajang pembelajaran dan saling berbagi antar lembaga atau individu yang terlibat dalam penanggulangan HIV-AIDS di Indonesia.

Jadi? Mari kita mulai pencegahan stigma untuk penanggulangan HIV-AIDS yang lebih baik. Mulai dari keluarga, komunitas, dan masyarakat yang lebih luas. Mulai dari melakukan hal kecil hingga perlahan bergerak untuk melakukan hal yang lebih besar. Niscaya ke depannya dengan partisipasi kita, program penanggulangan HIV-AIDS akan lebih baik.


Rujukan:

Buku Pedoman Penghapusan Stigma dan Diskriminasi Bagi Pengelola Program, Petugas Layanan Kesehatan, dan Kader. Kementerian Kesehatan RI Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan, Direktorat Pengendalian Penyakit Menular Langsung. 2012.

Persepsi Pasien Dengan HIV/ AIDS dan Keluarganya Tentang HIV/ AIDS dan Stigma Masyarakat terhadap Pasien HIV/ AIDS. Waluyo A., Nurachmah E., Rosakawati. Jurnal Keperawatan Indonesia Vol. 10 No.2 September 2006; hal 61-69. 

Stigma dan Diskriminasi HIV & AIDS pada Orang dengan HIV dan AIDS (ODHA) di masyarakat basis anggota Nahdlatul Ulama (NU) Bangil – Studi kajian peran strategis Faith Based Organization (FBO) dalam isu HIV. Zainul A. Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Yudharta Pasuruan. 2014.

Tuesday, June 16, 2015

Inilah Cara Memupus Mitos Seputar HIV dan AIDS!



Dalam dunia penanggulangan HIV dan AIDS, para pegiat sosial sering diperhadapkan dengan berbagai pertanyaan yang kadang sulit dijawab dan kalaupun berhasil dijawab, masih membuat bingung orang yang bertanya.

Hal-hal sulit itu sebenarnya terbagi atas 2 bagian besar yaitu Mitos dan Fakta. Apakah nyamuk bisa menularkan HIV, misalnya, adalah pertanyaan yang terus menerus saya terima ketika melakukan sosialisasi awal tentang HIV dan AIDS entah itu di sekolah atau pada masyarakat umum.

Supaya pembaca lebih paham mengenai mitos-mitos apa saja yang berkembang di dunia penanggulangan HIV  dan AIDS, maka beberapa mitos yang saya sarikan dari beberapa sumber akan kita bahas di sini.

Mitos Pertama “Saya bisa terinfeksi HIV jika berada di sekitar orang yang HIV positif”

Berbagai fakta memperlihatkan bahwa HIV tidak ditularkan melalui sentuhan, air mata, keringat, ataupun air ludah. HIV hanya ditularkan melalui darah, semen (cairan kelamin laki-laki), cairan vagina, dan air susu ibu. Dengan demikian anda tak akan terinfeksi HIV jika melakukan kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Menghirup udara bersama-sama dengan orang yang HIV positif
  2. Menyentuh dudukan toilet atau gagang pintu setelah disentuh orang yang HIV positif
  3. Minum dari mata air yang sama yang diminum orang yang HIV positif
  4. Berpelukan, berciuman, atau berjabat tangan dengan orang yang HIV positif
  5. Berbagi peralatan makan bersama orang yang HIV positif
  6. Menggunakan alat-alat olahraga di tempat fitness bersama-sama dengan orang yang HIV positif

Mitos yang Kedua “Saya tak perlu khawatir menjadi HIV positif – obat-obat baru akan menjaga saya tetap sehat”

Betul, obat yang disebut ARV (Anti Retro Viral) memang semakin lama semakin baik dan terbukti memperpanjang hidup banyak orang dengan HIV positif. Namun bagaimanapun juga obat-obat ini harganya mahal dan tetap ada efek sampingnya. Tidak ada satu obatpun yang menjamin kesembuhan. Selain itu, adanya jenis HIV yang kebal obat merupakan tantangan tersendiri untuk dunia penanggulangan HIV dan AIDS.

Mitos yang Ketiga “Saya bisa terinfeksi HIV dari gigitan nyamuk”

Karena HIV menular melalui darah, banyak orang menjadi salah persepsi bahwa gigitan nyamuk atau serangga penghisap darah lainnya bisa menularkan HIV. Beberapa studi  yang dilakukan memperlihatkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung penularan melalui nyamuk atau serangga pengisap darah lainnya tersebut. Bahkan, di area dengan nyamuk yang banyak dan kasus HIV yang banyak pun tidak didapatkan penularan melalui nyamuk. Ketika nyamuk mengigit ternyata dia tidak memasukkan darah terakhir yang dia hisap ke tempat gigitan yang baru. Jadi, hanya menghisap saja. Selain itu, HIV juga tidak bertahan hidup lama jika berada dalam tubuh serangga. Fakta lain yang mendukung bahwa nyamuk tidak dapat menularkan HIV adalah dari jumlah orang yang terinfeksi HIV itu sendiri. Sebagian besar persentasenya berada pada usia produktif. Sedangkan, kalau seandainya nyamuk menularkan HIV maka persentase orang yang terinfeksi harus sama untuk semua kategori usia.

Mitos yang keempat “Jika saya HIV positif maka hidup saya sudah berakhir”

Pada awal-awal epideminya, kasus kematian karena AIDS sangat tinggi. Namun, saat ini, obat-obat anti retroviral memungkinkan orang yang HIV positif bahkan orang yang sudah pada tahap AIDS untuk hidup lebih lama, normal dan produktif.

Mitos yang kelima “AIDS adalah genosida”
Pada satu penelitian yang dilakukan di Amerika Latin, masih ada 30% orang yang beranggapan bahwa AIDS adalah cara pemerintah untuk menyingkirkan kaum minoritas. Hal yang sama juga kerap saya temui ketika memberikan sosialisasi awal tentang HIV di Papua. Banyak yang beranggapan bahwa HIV dan AIDS adalah cara pemerintah Indonesia untuk menyingkirkan suku asli Papua. Biasanya hal ini diungkapkan dengan kalimat, “Dulu tidak ada HIV dan AIDS tapi semenjak pemerintah datang, baru kita tahu ada HIV dan AIDS, itu kenapa e?”. Nah, kalau sudah ada pertanyaan seperti itu maka pemaparan sejarah HIV pun kembali ditampilkan. Selain itu, perlu disampaikan juga bahwa dengan adanya pemeriksaan kesehatan yang lebih baik saat ini merupakan salah satu faktor ditemukannya semakin banyak kasus HIV di Papua.

Mitos yang keenam “Saya bukan gay dan tak pernah menggunakan narkoba suntik – pasti saya tak mungkin terinfeksi HIV”

Dulu memang penyebaran HIV sempat diduga berasal dari hubungan sejenis terutama laki-laki dengan laki-laki. Namun saat ini penyebarannya lebih luas. Tidak hanya di kalangan homoseksual namun juga di kalangan heteroseksual.

Mitos yang ketujuh “Jika saya sedang menjalani pengobatan, maka saya tak mungkin menularkan HIV”

Ketika pengobatan yang dijalani berjalan dengan baik, maka jumlah virus dalam darah akan turun hingga tak terdekteksi saat dilakukan pemeriksaan darah. Penelitian memperlihatkan bahwa virus tersebut ternyata bersembunyi di bagian tubuh yang lain sehingga lebih baik jika perilaku seks yang aman tetap diterapkan supaya tidak ada orang lain yang tertular.

Mitos yang kedelapan “Saya dan pasangan saya keduanya HIV positif, jadi tak masalah kalau tidak mempraktekkan perilaku seks yang aman”

Walau anda dan pasangan keduanya HIV positif, mempraktekkan perilaku seks yang aman tetap diperlukan. Misalnya, tetap menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pasangan atau menggunakan dental dams saat melakukan seks oral dengan pasangan. Hal ini bisa mencegah anda terinfeksi lagi oleh jenis HIV yang resisten terhadap obat.
Dental Dams (Sumber: sanctuaryhealth.com)


Mitos kesembilan “Saya bisa langsung tahu gejalanya kalau tiba-tiba pasangan saya HIV positif”

Seseorang bisa saja HIV positif dan tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan anda HIV positif adalah dengan melakukan pemeriksaan darah.

Mitos kesepuluh “Anda tak bisa terinfeksi HIV karena melakukan oral seks”

Memang benar kalau oral seks lebih rendah resikonya dibandingkan dengan tipe hubungan seks yang lain. Tetapi tetap saja ada resiko tertular jika melakukan hubungan seks secara oral dengan laki-laki atau perempuan yang HIV positif. Selalu gunakan pelindung lateks saat melakukan hubungan seks secara oral.
Nah,sudah cukup jelas kan? Beberapa mitos yang paling sering disampaikan sudah dibahas, namun ternyata ada juga beberapa pernyataan yang kadang harus diteliti dulu apakah pernyataan tersbut tergolong mitos atau fakta. Berikut ini akan dibahas apakah pernyataan-pernyataan tersebut tergolong mitos atau fakta.

Menggunakan dental dams. Sumber: meatincorporated.blogspot.com


HIV Positif sama dengan AIDS?

Ini adalah mitos. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menghancurkan sel-sel imun CD4 tubuh. Sel-sel imun CD4 adalah sel yang bertugas membantu melawan penyakit yang masuk dalam tubuh. Dengan terapi yang baik, seseorang bisa HIV positif selama bertahun-tahun atau berpuluh tahun tanpa masuk ke tahap AIDS. Seseorang didiagnosis AIDS jika dia adalah HIV positif dengan infeksi opportunistik yang berkembang dalam tubuhnya atau perhitungan CD4 nya turun di bawah 200.

HIV dapat disembuhkan!

Ini adalah mitos. Hingga saat ini tidak ada yang dapat menyembuhkan HIV, tetapi pengobatan atau terapi yang baik dengan ARV dapat menurunkan jumlah virus menjadi sangat rendah dan membantu memperbaiki sistim imun. Beberapa jenis ARV bekerja menghambat protein HIV yang dibutuhkannya untuk membelah diri, jenis yang lain bekerja dengan menghalangi virus masuk ke sel-sel imun dan material genetiknya. Sebelum memulai pengobatan, tentu dokter akan memperhatikan beberapa hal terkait sistim imun anda dan jumlah virus dalam tubuh anda.

Siapa saja bisa terinfeksi HIV!

Betul! Ini adalah fakta. Hingga September 2014, jumlah total kasus HIV yang didata adalah 150,296 kasus dan untuk AIDS total 55,799 kasus. Kalau dilihat penyebarannya berdasarkan golongan umur, maka di semua golongan umur terbukti ada yang menjadi korban, bahkan hingga masuk tahap AIDS. Dilihat dari cara penyebarannya pun demikian beragam walau penularan melalui hubungan seks secara heteroseksual masih merupakan sumber penularan tertinggi. Artinya, siapa saja memang bisa terinfeksi HIV!

Kasus HIV dan AIDS di Indonesia hingga akhir September 2014. Sumber: spiritia.or.id

Anda bisa tetap mempunyai bayi walau HIV positif

Betul! Ini adalah fakta yang bisa ditemukan saat ini. Walau ibu yang HIV positif berpotensi besar menularkan ke bayinya, melalui konsultasi dan perencanaan yang baik bersama dokter, kemungkinan penularan dari ibu ke bayi bisa ditekan hingga minimal sehingga tak jarang ditemukan walau ibunya HIV positif, bayi yang dilahirkan bisa HIV negatif. 

Pemaparan di atas tentu masih terbatas. Di luar sana masih banyak mitos-mitos tentang HIV dan AIDS yang masih harus dipatahkan. Dibuktikan bahwa itu hanya sekedar mitos yang tidak layak dipercaya. 

Lalu bagaimana caranya kita memupus mitos-mitos itu?

Pertama, dengan mencari sumber-sumber literatur yang tepat. Jangan menggunakan informasi yang didapat dari situs tanya jawab sebagai informasi yang akurat kecuali kalau dalam situs tanya jawab itu tercantum sumber aslinya dan sumber asli itu sudah kita cek dan ricek kembali.

Kedua, segera memperbaiki atau meralat jika kita menemukan ada informasi yang kurang tepat yang beredar di sekitar kita tentang HIV dan AIDS. Kalau perlu, ajak siapapun untuk berdiskusi.

Ketiga, gunakan semua sumber penyebaran informasi yang ada untuk menyebarluaskan informasi tentang HIV dan AIDS dengan lengkap dan benar. Jika kita memiliki media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain, boleh juga kita menyebarkan informasi yang kita dapatkan ke followers atau sesame rekan pengguna medsos. Lebih mudah lagi, jika kita mengikuti Facebook KPA Nasional atau Twitter KPA Nasional. Kalau follow twitternya kan mudah tinggal RT (re-tweet) saja.

Follow Facebook dan Twitter KPAN. Sumber: aidsindonesia.or.id


Keempat, aktif dalam forum-forum diskusi tentang HIV dan AIDS. Penanggulangan HIV dan AIDS saat ini berkembang dengan pesat. Ada terapi jenis baru, misalnya yang mungkin belum tersebar luas atau belum pernah didiskusikan sebelumnya, bisa langsung diketahui jika terlibat aktif dalam forum diskusi. Forum-forum diskusi juga menolong kita untuk sewaktu-waktu bertanya jika menemukan hal-hal sulit dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Pengalaman orang lain yang pernah menghadapi masalah serupa mungkin bisa diterapkan untuk mengatasi masalah kita. Salah satu forum diskusi yang rutin diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) adalah Pertemuan Nasional AIDS (Pernas AIDS). Tahun ini adalah tahun kelima diselenggarakannya Pernas AIDS tersebut.

Sementara ini 4 langkah itu dulu yang bisa saya sampaikan. Mungkin pembaca memiliki langkah-langkah berikutnya yang tak kalah penting. Silahkan dishare ya… 

Akhirnya, mari kita pupus mitos dan sebar-luaskan fakta sehingga makin banyak orang memahami tentang HIV dan AIDS dengan lengkap dan benar!

Sumber:

Tuesday, March 17, 2015

Mengenal Konseling Untuk HIV dan AIDS



Apakah konseling itu?

Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan, membantu klien menolong diri sendiri. Konseling dilakukan baik untuk individu, pasangan atau keluarga, membantu individu bertanggung jawab atas hidupnya dengan mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak dan realistis, menimbang setiap konsekuensi dari perilaku, memberikan informasi yang berfokus pada klien dan secara spesifik tertuju pada kebutuhan, isu dan seputar klien sebagai individu, melalui proses internal, kolaboratif, bertanggung jawab menuju pada suatu tujuan. 

Dalam hal tersebut, termasuk juga mengembangkan otonomi dan tanggung jawab diri pribadi klien dengan mempertimbangkan situasi interpersonal, sosial/ budaya, kesiapan untuk berubah, mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas opsi dan mengembangkan rencana tindakan.

Melakukan konseling tidak mudah namun juga tidak sulit karena itu seorang yang melakukan kegiatan konseling seharusnya mengerti rambu-rambu pelaksanaan konseling agar tidak terjebak pada kegiatan yang bukan konseling yakni bersikap mengarahkan, menyarankan, menasehati, ngobrol, menginterogasi, membuat pengakuan, mendoakan, memberi harapan, dan lain-lain.
Konseling. Sumber: theseedofhope.org

Apakah Konseling HIV dan AIDS itu?

Konseling HIV dan AIDS bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan, bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV dan AIDS. Proses konseling termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes positif (+).

Konseling pencegahan dan perubahan perilaku guna mencegah penularan. Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak, ada dampak psikologik, sosial, fisik dan spiritual. HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.

Adapun proses konseling adalah sebagai berikut:

Tahap pertama: Dimulai dari membina hubungan baik dan membina kepercayaan, dengan menjaga rahasia dan mendiskusikan keterbatasan rahasia, melakukan ventilasi permasalahan, mendorong ekspresi perasaan, diutamakan dapat menggali masalah, terus mendorong klien menceritakannya.
Upayakan dapat memperjelas harapan klien dengan mendeskripsikan apa yang konselor dapat lakukan dan cara kerja mereka serta memberi pernyataan jelas bahwasanya komitmen konselor akan bekerja bersama dengan klien.

Tahap kedua: Mendefinisikan dan pengertian peran, memberikan batasan dan kebutuhan untuk mengungkapkan peran dan batasan hubungan konseling, mulai dengan memaparkan dan memperjelas tujuan dan kebutuhan klien, menyusun prioritas tujuan dan kebutuhan klien, mengambil riwayat rinci  dengan menceritakan hal yang spesifik, menggali keyakinan, pengetahuan dan keprihatinan klien.

Tahap ketiga: Proses dukungan konseling lanjutan yakni dengan meneruskan ekspresi perasaan/ pikiran, mengidentifikasi opsi, mengidentifikasi ketrampilan, penyesuaian diri yang telah ada, mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut, mengevaluasi opsi dan implikasinya, memungkinkan perubahan perilaku, mendukung dan menjaga kerjasama dalam masalah klien, monitoring perbaikan tujuan yang terindentifikasi, memberikan rujukan yang sesuai.

Tahap empat: Untuk menutup atau mengakhiri hubungan konseling. Disarankan kepada klien dapat bertindak sesuai rencana klien menata dan menyesuaiakan diri dengan fungsi sehari-hari, bangun eksistensi sistem dukungan dan dukungan yang diakses, lalu mengidentifikasi strategi untuk memelihara hal yang sudah beruhah baik.

Untuk pengungkapan diri harus didiskusikan dan direncanakan, alur interval parjanjian diperpanjang, disertai pengenalan dan pengaksesan sumber daya dan rujukan yang tersedia, lalu pastikan bahwa ketika ia membutuhkan para konselor senantiasa bersedia membantu.

Menutup atau mengakhiri konseling dengan mengatur penutupan dengan diskusi dan rencana selanjutnya, bisa saja dengan membuat perjanjian pertemuan yang makin lama makin panjang intervalnya. Senantiasa menyediakan sumber dan rujukan yang telah dikenali dan dapat diakses sambil memastikan klien dapat mengakses konselor jika ia memilih untuk kembali ketika membutuhkan.

Tujuan Konseling HIV dan AIDS

Konseling HIV dan AIDS merupakan proses dengan 3 (tiga) tujuan umum: 
  1. Dukungan psikologik misalnya dukungan emosi, psikologi sosial, spiritual sehingga rasa sejahtera terbangun pada odha dan yang terinfeksi virus lainnya.
  2. Pencegahan penularan HIV dan AIDS melalui informasi tentang perilaku berisiko (seperti seks tak aman atau penggunaan alat suntik bersama ) dan membantu orang untuk membangun ketrampilan pribadi yang penting untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman.
  3. Memastikan terapi efektif dengan penyelesaian masalah dan isu kepatuhan

Cara untuk mencapai tujuan:
Mengajak klien mengenali perasaannya dan mengungkapkannya , menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindak lanjut yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, mendorong perubahan perilaku, memberikan informasi pencegahan, terapi dan perawatan HIV dan AIDS terkini, memberikan informasi tentang institusi (pemerintah dan non pemerintah) yang dapat membantu dibidang sosial, ekonomi dan budaya, membantu orang untuk kontak dengan institusi diatas.

Membantu klien mendapatkan dukungan dari sistem jejaring sosial, kawan dan keluarga membantu klien melakukan penyesuaian dengan rasa duka dan kehilangan, melakukan peran advokasi, misalnya membantu melawan diskriminasi, membantu individu mewaspadai hak hukumnya, membantu klien memelihara diri sepanjang hidupnya, dan membantu klien menentukan arti hidupnya. 

Selain isu yang berkaitan langsung dengan HIV dan AIDS, klien dapat menyajikan serangkaian isu tentang keadaan tidak langsung berkaitan dengan HIV terkait kebutuhan terapi spesifik misalnya: disfungsi seksual, serangan panik dari isu terdahulu yang belum terselesaikan (misalnya: isu seksual, ketergantungan napza), dan masalah keluarga.

Bagaimana para pembaca? Tentu informasi di atas masih banyak kekurangannya, yuk kita diskusikan lebih lanjut di laman Facebook Apa Itu HIV dan AIDS. Atau tweet di @ApaItuHIV_AIDS

Disarikan dari berbagai sumber termasuk Pokdisus.