Tuesday, March 17, 2015

Mengenal Konseling Untuk HIV dan AIDS



Apakah konseling itu?

Konseling adalah proses membantu seseorang untuk belajar mencari solusi bagi masalah emosi, interpersonal dan pengambilan keputusan, membantu klien menolong diri sendiri. Konseling dilakukan baik untuk individu, pasangan atau keluarga, membantu individu bertanggung jawab atas hidupnya dengan mengembangkan kemampuan pengambilan keputusan yang bijak dan realistis, menimbang setiap konsekuensi dari perilaku, memberikan informasi yang berfokus pada klien dan secara spesifik tertuju pada kebutuhan, isu dan seputar klien sebagai individu, melalui proses internal, kolaboratif, bertanggung jawab menuju pada suatu tujuan. 

Dalam hal tersebut, termasuk juga mengembangkan otonomi dan tanggung jawab diri pribadi klien dengan mempertimbangkan situasi interpersonal, sosial/ budaya, kesiapan untuk berubah, mengajukan pertanyaan, menyediakan informasi, mengulas opsi dan mengembangkan rencana tindakan.

Melakukan konseling tidak mudah namun juga tidak sulit karena itu seorang yang melakukan kegiatan konseling seharusnya mengerti rambu-rambu pelaksanaan konseling agar tidak terjebak pada kegiatan yang bukan konseling yakni bersikap mengarahkan, menyarankan, menasehati, ngobrol, menginterogasi, membuat pengakuan, mendoakan, memberi harapan, dan lain-lain.
Konseling. Sumber: theseedofhope.org

Apakah Konseling HIV dan AIDS itu?

Konseling HIV dan AIDS bersifat komunikasi rahasia antara klien dan petugas kesehatan, bertujuan memungkinkan klien menghadapi stres dan menentukan pilihan pribadi berkaitan dengan HIV dan AIDS. Proses konseling termasuk melakukan evaluasi risiko penularan HIV pribadi, memberikan fasilitasi perubahan perilaku, dan melakukan evaluasi mekanisme coping ketika klien dihadapkan pada hasil tes positif (+).

Konseling pencegahan dan perubahan perilaku guna mencegah penularan. Diagnosis HIV mempunyai banyak dampak, ada dampak psikologik, sosial, fisik dan spiritual. HIV merupakan penyakit yang mengancam kehidupan.

Adapun proses konseling adalah sebagai berikut:

Tahap pertama: Dimulai dari membina hubungan baik dan membina kepercayaan, dengan menjaga rahasia dan mendiskusikan keterbatasan rahasia, melakukan ventilasi permasalahan, mendorong ekspresi perasaan, diutamakan dapat menggali masalah, terus mendorong klien menceritakannya.
Upayakan dapat memperjelas harapan klien dengan mendeskripsikan apa yang konselor dapat lakukan dan cara kerja mereka serta memberi pernyataan jelas bahwasanya komitmen konselor akan bekerja bersama dengan klien.

Tahap kedua: Mendefinisikan dan pengertian peran, memberikan batasan dan kebutuhan untuk mengungkapkan peran dan batasan hubungan konseling, mulai dengan memaparkan dan memperjelas tujuan dan kebutuhan klien, menyusun prioritas tujuan dan kebutuhan klien, mengambil riwayat rinci  dengan menceritakan hal yang spesifik, menggali keyakinan, pengetahuan dan keprihatinan klien.

Tahap ketiga: Proses dukungan konseling lanjutan yakni dengan meneruskan ekspresi perasaan/ pikiran, mengidentifikasi opsi, mengidentifikasi ketrampilan, penyesuaian diri yang telah ada, mengembangkan keterampilan penyesuaian diri lebih lanjut, mengevaluasi opsi dan implikasinya, memungkinkan perubahan perilaku, mendukung dan menjaga kerjasama dalam masalah klien, monitoring perbaikan tujuan yang terindentifikasi, memberikan rujukan yang sesuai.

Tahap empat: Untuk menutup atau mengakhiri hubungan konseling. Disarankan kepada klien dapat bertindak sesuai rencana klien menata dan menyesuaiakan diri dengan fungsi sehari-hari, bangun eksistensi sistem dukungan dan dukungan yang diakses, lalu mengidentifikasi strategi untuk memelihara hal yang sudah beruhah baik.

Untuk pengungkapan diri harus didiskusikan dan direncanakan, alur interval parjanjian diperpanjang, disertai pengenalan dan pengaksesan sumber daya dan rujukan yang tersedia, lalu pastikan bahwa ketika ia membutuhkan para konselor senantiasa bersedia membantu.

Menutup atau mengakhiri konseling dengan mengatur penutupan dengan diskusi dan rencana selanjutnya, bisa saja dengan membuat perjanjian pertemuan yang makin lama makin panjang intervalnya. Senantiasa menyediakan sumber dan rujukan yang telah dikenali dan dapat diakses sambil memastikan klien dapat mengakses konselor jika ia memilih untuk kembali ketika membutuhkan.

Tujuan Konseling HIV dan AIDS

Konseling HIV dan AIDS merupakan proses dengan 3 (tiga) tujuan umum: 
  1. Dukungan psikologik misalnya dukungan emosi, psikologi sosial, spiritual sehingga rasa sejahtera terbangun pada odha dan yang terinfeksi virus lainnya.
  2. Pencegahan penularan HIV dan AIDS melalui informasi tentang perilaku berisiko (seperti seks tak aman atau penggunaan alat suntik bersama ) dan membantu orang untuk membangun ketrampilan pribadi yang penting untuk perubahan perilaku dan negosiasi praktek aman.
  3. Memastikan terapi efektif dengan penyelesaian masalah dan isu kepatuhan

Cara untuk mencapai tujuan:
Mengajak klien mengenali perasaannya dan mengungkapkannya , menggali opsi dan membantu klien membangun rencana tindak lanjut yang berkaitan dengan isu yang dihadapi, mendorong perubahan perilaku, memberikan informasi pencegahan, terapi dan perawatan HIV dan AIDS terkini, memberikan informasi tentang institusi (pemerintah dan non pemerintah) yang dapat membantu dibidang sosial, ekonomi dan budaya, membantu orang untuk kontak dengan institusi diatas.

Membantu klien mendapatkan dukungan dari sistem jejaring sosial, kawan dan keluarga membantu klien melakukan penyesuaian dengan rasa duka dan kehilangan, melakukan peran advokasi, misalnya membantu melawan diskriminasi, membantu individu mewaspadai hak hukumnya, membantu klien memelihara diri sepanjang hidupnya, dan membantu klien menentukan arti hidupnya. 

Selain isu yang berkaitan langsung dengan HIV dan AIDS, klien dapat menyajikan serangkaian isu tentang keadaan tidak langsung berkaitan dengan HIV terkait kebutuhan terapi spesifik misalnya: disfungsi seksual, serangan panik dari isu terdahulu yang belum terselesaikan (misalnya: isu seksual, ketergantungan napza), dan masalah keluarga.

Bagaimana para pembaca? Tentu informasi di atas masih banyak kekurangannya, yuk kita diskusikan lebih lanjut di laman Facebook Apa Itu HIV dan AIDS. Atau tweet di @ApaItuHIV_AIDS

Disarikan dari berbagai sumber termasuk Pokdisus.

Thursday, January 8, 2015

Masturbasi sebagai solusi atasi PMS?



Beberapa pertanyaan mampir di inbox Laman Facebook Apa Itu HIV dan AIDS yang mempertanyakan tentang masturbasi, termasuk pertanyaan apakah melakukan masturbasi bisa menyebabkan tertular penyakit menular seksual (PMS) termasuk HIV. Untuk itu artikel ini akan mencoba mengulas sedikit tentang masturbasi  yang diolah dari berbagai sumber sehingga ada pemahaman bagi pembaca tentang apa itu masturbasi dan bagaimana menyikapinya.


Masturbasi (istilah lainnya onani atau rancap) adalah perangsangan seksual yang sengaja dilakukan pada organ kelamin untuk memperoleh kenikmatan dan kepuasan seksual. Perangsangan ini dapat dilakukan tanpa alat bantu ataupun menggunakan suatu objek atau alat, atau kombinasi dari keduanya. Masturbasi merupakan suatu bentuk autoerotisisme yang paling umum, meskipun hal tersebut dapat pula dilakukan dengan bantuan orang lain secara bersama (Mutual Masturbation).

Pada sebuah penelitian terungkap bahwa 95% pria dan 89% wanita pernah melakukan masturbasi. Masturbasi merupakan tindakan seksual pertama yang dilakukan oleh sebagian besar pria dan wanita, meskipun lebih banyak wanita yang telah melakukan sanggama sebelum mereka pernah melakukan masturbasi. Sebagian besar pria yang melakukan masturbasi cenderung melakukannya lebih sering dibandingkan wanita, dan mereka cenderung selalu atau biasanya mengalami orgasme ketika bermasturbasi. Ini adalah perilaku seksual yang paling umum nomor dua setelah sanggama, bahkan masih saja ada yang melakukan masturbasi meskipun telah memiliki pasangan seksual tetap. Sebuah survei yang dilakukan oleh Kinsey pada tahun 2010, mencatat bahwa sebagian besar remaja berusia di bawah 18 tahun telah melakukan masturbasi. Tercatat, 80 persen remaja laki-laki dan 59 persen remaja perempuan telah melakukan masturbasi. Semakin beranjaknya usia, pengakuan ini meningkat. Melewati usia 18 tahun, 92 persen wanita mengakui telah melakukan masturbasi di usia muda.
Lukisan Wegener tentang Masturbasi pada wanita. Sumber: wikipedia

Seringkali setelah masa bayi, sebagian besar anak-anak kadangkala menemukan kenikmatan ketika organ genitalnya dirangsang, tetapi jangan dipahami perilaku ini sebagai "seksual" sebelum mereka memasuki masa remaja. Selama masa remaja, persentase mereka (baik laki-laki maupun perempuan) yang melakukan masturbasi meningkat dengan pesat, terutama pada pria. Sebagian besar orang terus melakukan masturbasi ketika mereka telah dewasa, dan banyak juga yang melakukannya sepanjang hidup mereka. Kaum wanita biasanya menggunakan alat untuk melakukan masturbasi, di antaranya menggunakan timun, terung, maupun alat-alat modern berupa vibrator dan dildo.

Cara masturbasi pada laki-laki dan perempuan umumnya dilakukan dengan cara menggosok atau mengelus-elus daerah kemaluan dengan telapak tangan atau jari, dan dimungkinkan juga menggesek-gesekkan kemaluan mereka pada objek seperti bantal. Organ tubuh lainnya juga dapat merasakan kenikmatan bermasturbasi dengan cara menyentuh, menggosok, atau mencubit puting atau organ tubuh lainnya yang peka rangsangan seksual. Laki-laki maupun perempuan terkadang menggunakan zat pelumas untuk mengintensifkan sensasi saat masturbasi. Membaca, melihat, mendengar, atau berfantasi hal-hal pornografi sering digunakan sebagai bumbu tambahan bermasturbasi. Sering kali orang akan mengingat kenangan dan fantasi selama masturbasi.

Hingga saat ini membicarakan tentang masturbasi masih menimbulkan pro-kontra. Ada yang mengatakan bahwa masturbasi itu perlu dilakukan dan menyehatkan namun tak sedikit yang mengangkat dampak buruk dari masturbasi sehingga melarang untuk melakukannya.
Bagi yang menyatakannya bermanfaat, maka pada wanita, manfaatnya antara lain:

  1. Kesehatan serviks, Jika anda pernah mendengar bahwa masturbasi bisa menurunkan risiko kanker prostat pada pria, maka hal yang sama juga berlaku pada wanita. Masturbasi yang dilakukan wanita diketahui berkaitan dengan kesehatan serviks. Ketika serviks membuka saat wanita mengalami orgasme, cairan serviks terdorong keluar. Dan ketika cairan tersebut melewati vagina, cairan tersebut mengeluarkan bakteri jahat yang bisa menyebabkan infeksi.
  2. Menurunkan stress, Manfaat lain dari masturbasi untuk wanita adalah bisa menurunkan stres dan ketegangan. Penelitian mengungkap bahwa orgasme bisa membuat tubuh mengeluarkan hormon yang ampuh menangkal depresi. Hal ini juga berlaku ketika wanita mengalami orgasme saat melakukan masturbasi.
  3. Menguatkan otot vagina, Masturbasi bisa membantu wanita menguatkan otot di daerah pelvis dan vagina. Hal ini karena ketika mengalami orgasme dan melakukan masturbasi, bagian uterus akan berkontraksi dan menguatkan otot di sekitar vagina.
  4. Tidur lebih nyenyak, Penelitian menunjukkan bahwa masturbasi juga bisa membantu mengatasi insomnia. Saat melakukan masturbasi, tubuh memproduksi hormon yang membuat seseorang merasa nyaman dan senang. Hormon ini muncul diikuti dengan hormon oxytocin yang bisa membantu agar Anda cepat terlelap. 
  5. Meningkatkan mood, Masturbasi dilakukan untuk menyenangkan diri sendiri. Dengan begitu, masturbasi bisa meningkatkan mood seseorang. Ketika mengalami orgasme saat masturbasi,tubuh mengeluarkan dopamin yang bisa membuat mood seseorang menjadi lebih baik.
Sedangkan bagi pria, masturbasi tidak hanya untuk memuaskan hasrat seksual saja, tapi juga memiliki banyak manfaat bagi kesehatan. Masturbasi yang sehat bisa mencegah kanker prostat dan tidak akan mengakibatkan gangguan mental seperti kecanduan seksual dengan pasangan atau gangguan seksual lainnya. Berikut ini manfaat masturbasi pada pria dewasa:

  1. Menyegarkan sperma. Dari hasil penelitian diketahui bahwa ejakulasi saat masturbasi bisa membantu menjaga kualitas sperma sebab sperma yang lama akan diganti dengan memproduksi sperma yang lebih segar. Artinya, sperma segar bisa meningkatkan kesuburan pria.
  2. Mengurangi stres. Menstimulasi tubuh dengan masturbasi bisa mengurangi stres. Saat bermasturbasi, hormon oksitosin dan dopamin akan terbentuk. Kondisi ini bisa menenangkan suasana hati dan membantu seseorang tidur lebih nyenyak.
  3. Mencegah penyakit menular. Masturbasi sering disebut sebagai praktek seksual yang paling aman. Meski tidak bersentuhan langsung dengan organ genital pasangan, namun pria masih bisa merasakan kepuasan dan tentunya risiko penularan penyakit seksual pun makin sedikit.
  4. Mengurangi kemungkinan kanker prostat. Hasil studi di Australia tahun 2003 menemukan bahwa pria yang mengalami ejakulasi lebih dari lima kali dalam seminggu berisiko lebih rendah terkena kanker prostat. Masturbasi ibaratnya seperti membilas sistem reproduksi pria dan mencegah berkembangnya sel-sel kanker.
  5. Sarana latihan seks. Masturbasi juga kerap digunakan sebagai kegiatan berlatih sebelum melakukan hubungan seks yang sebenarnya. Pada wanita, masturbasi bisa membantunya mengenali titik-titik sensitif yang kemudian bisa diberitahukan kepada suami.
Masturbasi sehat secara teratur bahkan bisa juga mencegah terjadinya ejakulasi dini dan bisa melatih kontrol emosi yang lebih baik.
Namun selain bermanfaat bagi kesehatan ternyata masturbasi juga bisa menyebabkan kecanduan sehingga bisa berdampak buruk sebagai berikut:

  1. Impotensi. Gangguan pada saraf parasimpatik bisa mempengaruhi kemampuan otak dalam merespons rangsang seksual. Akibatnya kemampuan ereksi melemah, bahkan dalam tingkat keparahan tertentu bisa menyebabkan impotensi yakni gangguan seksual yang menyebabkan penis tidak bisa berdiri sama sekali.
  2. Kebocoran katup air mani. Bukan hanya ereksi saja yang terpengaruh oleh kerusakan saraf, kemampuan saluran air mani untuk membuka dan menutup pada waktu yag tepat juga terganggu. Akibatnya sperma dan air mani tidak hanya keluar saat ereksi, lendir-lendir tersebut bisa juga keluar sewaktu-waktu seperti ingus sekalipun penis sedang dalam kondisi lemas.
  3. Kebotakan. Dampak lain dari ketidakseimbangan hormon yang terjadi jika terlalu sering masturbasi adalah kerontokan rambut. Jika tidak diatasi, lama-kelamaan akan memicu kebotakan atau penipisan rambut pada pria.
  4. Nyeri punggung dan selangkangan. Kontraksi otot saat mengalami orgasme bisa memicu nyeri otot, terutama di daerah punggung dan selangkangan. Bagi yang melakukannya dengan tangan kosong tanpa pelumas, rasa nyeri juga bisa menyerang penis karena gesekan yang terjadi bisa menyebabkan lecet-lecet.
  5. Rasa letih sepanjang hari. Setiap kali tubuhnya mengejang karena orgasme, pria akan kehilangan cukup banyak energi karena hampir semua otot akan mengalami kontraksi. Akibatnya jika terlalu sering, pria akan kehilangan gairah untuk beraktivitas dan cenderung akan merasa ngantuk sepanjang hari.

Namun berapa frekuensi masturbasi yang dianggap kecanduan masih juga menjadi bahan perdebatan. Ada yang mengatakan jika lebih dari 7 kali dalam seminggu sudah termasuk kecanduan, namun ada yang menganggap frekuensi tidak masalah selama tidak mempengaruhi kinerja dan hubungan sosial seseorang.
Lukisan masturbasi pria oleh Henri Avil. Sumber: wikipedia

Lalu, apakah masturbasi bisa mengurangi kejadian PMS? Jawabannya, ya, jika dilakukan sendiri (bukan mutual masturbation atau masturbasi bersama) dengan sehat. Salah satunya adalah dengan menjaga kebersihan diri dan alat yang akan digunakan. Bahkan ada beberapa negara yang menyarankan agar kaum remajanya melakukan masturbasi. Pada tahun 2009, pemerintah Inggris bersama dengan Uni Eropa mendorong kaum remaja untuk melakukan masturbasi setidaknya sekali setiap hari. Masturbasi tidak hanya dibenarkan secara kesehatan, tetapi juga disebut-sebut membantu mengurangi PMS dan mencegah kehamilan remaja.

Tapi tentunya, masih banyak hal yang harus dipertimbangkan sebelum melakukan masturbasi. Salah satunya terkait dengan pandangan agama yang anda anut. Tanyakan pada pemuka agama anda tentang pandangan agama anda tentang masturbasi. Tentu tidak nyaman, melakukan masturbasi jika masih diliputi beban rasa bersalah yang akhirnya akan merusak diri sendiri. Selain itu, coba dipikirkan kembali, adakah kegiatan lain yang lebih menarik dan lebih bermanfaat untuk dilakukan selain masturbasi? 

Hmm… semuanya kembali pada diri kita masing-masing. Kalau merasa nyaman, ya silahkan, namun kalau tidak merasa nyaman, sebaiknya jangan melakukan masturbasi karena dampak masturbasi yang sehat hanya akan tercapai jika dilakukan dengan perasaan nyaman.

Bacaan:

Thursday, February 13, 2014

Apa Itu SUFA?


Sumber gambar: www.acon.org.au

Salah satu diskusi yang cukup hangat di milis AIDS Ina adalah tentang SUFA. Kepanjangannya menurut salah satu anggota milis adalah Strategic Use of ARV. Intinya, SUFA adalah pemakaian ARV secara langsung begitu diketahui status HIV+ tanpa memandang nilai berapa CD4. Perlu diketahui, bahwa sejak dulu ada salah satu syarat untuk memulai terapi ARV yaitu jumlah CD4. Karena hitung CD4 ini sangat sulit diterapkan di berbagai daerah yang tidak memiliki alatnya, maka gejala klinis penyerta dan penentuan stadium menjadi tolok ukur dimulai atau tidaknya terapi ARV.
Nah, ada program baru yang saat ini memasuki implementasi pilot project di beberapa kabupaten/ kota di Indonesia yang disebut dengan SUFA. Untuk itu penting juga diketahui oleh pembaca blog Apa Itu HIV dan AIDS agar tetap update dengan informasi terkini.

Karena langsung mendapatkan ARV begitu diketahui positif maka SUFA sering juga disebut Test and Treat. Karena tujuannya juga untuk mencegah penularan (dengan menurunkan viral load) maka sering pula disebut Treatment as Prevention (TasP). SUFA diperkuat dengan surat edaran dari Menkes tertanggal 13 Maret 2013. Dengan adanya kebijakan baru ini maka Kemenkes wajib menyediakan fixed dose (FDC) 1 pil (Tenofovir, Lamivudine, Efavirenz) yang akan dikonsumsi sekali sehari.

Untuk lebih lengkapnya saya sertakan link untuk mengunggah informasi tentang kebijakan SUFA tersebut di sini. File tersebut sepertinya dibuat oleh teman-teman di IAC (Indonesia AIDS Coalition). Terimakasih sebesar-besarnya atau usaha mereka.

Semoga berguna!

Sumber: Milis AIDS Ina

Tuesday, January 14, 2014

Apa Yang Harus Dilakukan Saat Pertama Kali Mengetahui Bahwa Anda HIV-positif?

Jika Anda baru saja menemukan bahwa Anda HIV-positif, Anda mungkin merasa kewalahan, takut, dan sendirian. Ketahuilah bahwa Anda tidak sendirian. Tak terhitung orang dan sumber daya yang tersedia untuk membantu Anda dan perlu Anda ketahui bahwa ada lebih dari 100.000 orang di Indonesia yang juga HIV-positif seperti Anda dan tetap dapat melanjutkan hidupnya.

Perlu diingat bahwa menjadi HIV-positif bukanlah seperti mendapatkan hukuman mati seperti jaman dulu. HIV (Human Immunodeficiency Virus) memang menyebabkan AIDS (Acquired Immuno-Deficiency Syndrome), tapi menjadi HIV-positif tidak selalu berarti bahwa Anda sudah memiliki AIDS. Rejimen pengobatan baru telah berhasil mengubah menjadi HIV-positif menjadi kondisi yang menetap bagi banyak orang sehingga mereka tidak sampai kepada AIDS. Dengan gaya hidup sehat dan perawatan medis yang tepat, banyak orang dengan HIV-positif dapat mempunyai hidup produktif untuk waktu yang lama.

Sumber: www.aids.gov
Namun, mengetahui  bahwa Anda adalah HIV-positif tetap dapat membuat Anda terguncang. Di mana Anda harus mencari bantuan? Siapa yang harus Anda kabari pertama kali? Apa yang harus Anda lakukan pertama kali? Berikut adalah beberapa petunjuk untuk membantu Anda melalui masa sulit ini.

Konsultasi segera dengan dokter yang paham tentang HIV dan AIDS
Setelah mencari tahu Anda HIV-positif, ketakutan tentang masa depan mungkin akan sulit bagi Anda untuk mengambil tindakan. Tapi begitu Anda tahu bahwa Anda HIV-positif, segera kunjungi dokter yang berpengalaman menangani HIV dan AIDS secepat Anda bisa. Jangan menundanya. Dokter Anda akan menjalankan tes untuk melihat seberapa baik sistem kekebalan tubuh Anda bekerja, seberapa cepat HIV berkembang di tubuh Anda, dan seberapa sehat tubuh Anda secara keseluruhan. Dengan cara ini dan informasi lainnya, dokter Anda dapat bekerja dengan Anda untuk mengembangkan rencana perawatan yang terbaik, termasuk kapan dan bagaimana memulai perawatan. Obat HIV sering dapat memperlambat atau mencegah perkembangan HIV menjadi AIDS. Tapi jika tidak diterapi, tetap saja HIV dapat menyebabkan penyakit serius dan kematian.

Pelajari Apa Artinya Menjadi HIV-positif
Informasi adalah kekuatan, terutama ketika informasi yang Anda dapatkan, dapat menyelamatkan hidup Anda. Langkah-langkah ini akan memungkinkan Anda untuk mengambil peran aktif dalam perawatan Anda:
  1. Baca tentang HIV dalam bagian lain dari blog ini. Kunjungi pula banyak sumber informasi lainnya. Beberapa link dalam blog ini dapat membantu Anda untuk mendapatkan informasi baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris.
  2. Carilah informasi dari pemerintah atau organisasi pendidikan nirlaba yang fokus pada HIV dan AIDS.
  3. Pelajari tentang perawatan HIV yang masih bersifat eksperimental dan juga perawatan HIV standar, serta efek sampingnya. Untuk perawatan HIV standar akan coba kami bahas pada artikel selanjutnya di blog ini. Mudah-mudahan segera dapat sumbernya.
  4. Bicaralah dengan orang lain yang juga telah didiagnosis sebagai HIV-positif.

Carilah Layanan Dukungan untuk HIV-positif
Berbagai macam orang dapat membantu Anda dengan menyediakan dukungan emosional dan fisik yang dibutuhkan untuk dapat menerima diagnosis bahwa Anda HIV-positif. Berikut adalah beberapa langkah yang dapat diambil segera:
  1. Tanyakan kepada dokter Anda tentang kelompok dukungan HIV dan AIDS setempat. Atau, mintalah rujukan ke seorang profesional kesehatan mental, seperti psikolog, psikiater, atau pekerja sosial klinis. Tentunya rujukan ini kalau Anda membutuhkan saja. Ada beberapa orang yang tidak suka bercerita dan lebih suka menyimpan. Yang penting, Andalah yang lebih tahu apa yang Anda butuhkan.
  2. Diskusikan dengan dokter Anda informasi yang Anda peroleh dari sumber manapun. Kadang beberapa sumber memang akurat, namun ada juga yang tidak.
Saat ini banyak tersedia sumber-sumber informasi online yang sangat baik. Untuk Indonesia, website KPA Nasional tentu masih merupakan rujukan yang utama. Dari website ini akan banyak link/ tautan juga ke berbagai sumber informasi lainnya. Blog Apa Itu HIV dan AIDS memang belum terlalu lengkap, namun jika Anda membutuhkan literatur, jangan sungkan, kami usahakan mengirimkannya kepada Anda secara cuma-cuma.

Akhirnya, tak ada kata menyesali diri… hidup ini masih panjang, nikmati dengan melakukan banyak hal-hal baik dan berguna.

Bacaan: