Wednesday, February 27, 2013

Penting: Info tentang interaksi obat!

Kaletra (lopinavir/ritonavir) label update: drug interaction information

Pic Source: www.drugline.org
On January 17, 2013, FDA approved revisions to the Kaletra (lopinavir/ritonavir) labels to include new drug interaction information. The following updates were included.
Anticoagulants: Rivaroxaban. Avoid concomitant use of rivaroxaban and Kaletra. Coadministration of Kaletra and rivaroxaban is expected to result in increased exposure of rivaroxaban which may led to risk of increased bleeding

Anticonvulsants: Lamotrigine and valproate. Coadministration of Kaletra and lamotrigine or valproate may decrease the exposure of lamotrigine or valproate. A dose increase of the lamotrigine or valproate may be needed when coadministered with Kaletra and therapeutic concentration monitoring for lamotrigine may be indicated; particularly during dosage adjustments.

Corticosteroids (systemic); Budesonide and prednisone. Concomitant use may result in increased steroid concentrations and reduced serum cortisol concentrations. Concomitant use of glucocorticoids that are metabolized by CYP3A, particularly for long-term use, should consider the potential benefit of treatment versus the risk of systemic corticosteroid effects. Concomitant use may increase the risk for development of systemic corticosteroid effects including Cushing’s syndrome and adrenal suppression.

HCV-Protease Inhibitor: Boceprevir. It is not recommended to coadminister Kaletra and boceprevir. Concomitant administration of Kaletra and boceprevir reduced boceprevir, lopinavir and ritonavir steady-state exposures

HCV-Protease Inhibitor: Telaprevir. It is not recommended to coadminister Kaletra and telaprevir. Concomitant administration of Kaletra and telaprevir reduced steady-state telaprevir exposure, while the steady-state lopinavir exposure was not affected.

Inhalded or Intransal Steroids: e.g. Budesonide: Concomitant use of Kaletra and fluticasone or other glucocorticoids that are metabolized by CYP3A is not recommended unless the potential benefit of treatment outweighs the risk of systemic corticosteroid effects. Concomitant use may result in increased steroid concentrations and reduce serum cortisol concentrations. Systemic corticosteroid effects including Cushing’s syndrome and adrenal suppression have been reported during postmarketing use in patients when certain ritonavir-containing products have been coadministered with fluticasone propionate or budesonide.

PDE5 Inhibitors: Avanafil. Do not use Kaletra with avanafil because a safe and effective avanafil dosage regimen has not been established.
Drug interaction or clinical studies reveal no clinically significant interaction between Kaletra and raltegravir.
 
The updated labeling will be made available through Drugs@FDA.
 
Kaletra is a product of Abbott Laboratories.
 
Richard Klein
Office of Special Health Issues
Food and Drug Administration
 
Kimberly Struble
Division of Antiviral Products
Food and Drug Administration
 
Posting ulang dengan mengutip persis dari sumbernya: FDA
 

Ciri-ciri orang terinfeksi HIV?



Pertanyaan “nyasar” muncul di laman Facebook Blog Apa Itu HIV dan AIDS. Bunyinya sederhana: “Apa saja sih ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV?” Pertanyaan sederhana yang kadang agak sulit dijawab. Jika ditanyakan apa saja ciri-ciri orang yang baru saja terinfeksi HIV mungkin jawabannya adalah sebagai berikut: demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha. Lho? Gejala-gejala itu kan bisa ditemukan pada infeksi penyakit lain juga? 

Pic Source: www.letsthinkthing.wordpress.com
Betul, gejala-gejala ini hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau lainnya. Gejala-gejala ini kemudian bisa hilang dengan sendirinya. Atau karena si penderita merasa itu adalah gejala pilek atau sakit kepala biasa, bisa saja dia mengkonsumsi obat-obat “warung” dan lalu gejala-gejala itupun hilang dengan sendirinya. Karena itu, banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi hingga bertahun-tahun sampai mencapai stadium lanjut.

Jika sudah sampai pada stadium lanjut, Pusat Pengendalian Penyakit (Center for Disease Control/ CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu:

1. Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan
2. Batuk kering
3. Demam berulang atau berkeringat saat malam hari
4. Kelelahan
5. Diare yang lebih dari seminggu
6. Kehilangan memori
7. Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.

Itu adalah gejala yang umum yang sering ditemukan. Pada intinya, infeksi HIV menyebabkan penurunan kekebalan tubuh sehingga penyakit-penyakit yang tadinya sulit menyerang tubuh dapat dengan mudah masuk dan “menjajah” tubuh. 

Ibaratnya, kekebalan tubuh itu adalah polisi atau tentara yang menjaga tubuh dari serangan berbagai penyakit. Virus HIV menyebabkan kekebalan tubuh menurun dengan menghancurkan sel-sel penjaga tubuh yang dikenal dengan nama sel darah putih atau lebih spesifik lagi sel CD4. 

Nah, kembali ke infeksi virus HIV tadi, lalu apa ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV? Setelah gejala-gejala ringan tadi (lihat di atas) menghilang, maka orang yang terinfeksi HIV tak ada bedanya dengan orang biasa. Tidak ada ciri khas yang bisa membedakan orang terinfeksi HIV dengan orang kebanyakan. Kalau mau dijawab juga apa ciri-cirinya, ambillah sebuah cermin dan lihatlah bayangan dalam cermin itu. Seperti itulah ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV :-) 

Tidak ada seorangpun yang bisa secara sembarang menunjuk seseorang dan menyatakannya terinfeksi HIV. Infeksi HIV hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan darah. Itupun dilakukan secara sukarela dan orang yang memeriksakan darahnya berhak untuk tidak mempublikasikan statusnya positif atau negatif.

Mau tau lebih banyak? Follow saja Blog Apa Itu HIV dan AIDS. Jangan lupa “Like” lamannya di Facebook.

Tuesday, February 19, 2013

Garani MW1 - Obat herbal penyembuh HIV?

Baru-baru ini ada peningkatan trend pencarian dengan tag "HIV cure" dan yang tertinggi muncul dalam peringkat atas adalah Garani MW1. Obat herbal dari Malawi ini dipercaya dapat "menyembuhkan" orang terinfeksi HIV. Bentuk obatnya berupa bubuk yang dikonsumsi dengan menggunakan sendok (teh).

Lebih lengkapnya dapat disimak dalam beberapa link di bawah ini:



http://www.nyasatimes.com
Link tersebut berisi sekilas tentang Garani MW1 dan tentang penemunya yaitu Gloria Kantema Jeremiah. Semua artikel berbahasa Inggris. Mudah-mudahan nanti ada waktu untuk dituliskan versi Indonesia yang berisi ringkasan semua artikel tersebut.

Apakah ini harapan palsu? atau memang titik cerah dalam bidang penemuan "cure" untuk infeksi HIV? Yang jelas, obat HIV sebenarnya sederhana, jauhi stigma pada orang yang terinfeksi HIV atau dalam tahap AIDS. Orang yang terinfeksi HIV seharusnya diperlakukan sama dengan orang terinfeksi penyakit apapun. Tidak usah dibeda-bedakan. Salam!