Showing posts with label HIV dan AIDS. Show all posts
Showing posts with label HIV dan AIDS. Show all posts

Friday, November 1, 2013

Truvada: 5 Hal yang harus diketahui tentang obat pertama untuk pencegahan infeksi HIV



Para praktisi medis saat ini mempunyai senjata baru untuk melawan HIV dan AIDS dalam kotak senjata mereka dan kali ini senjata yang cukup tangguh. Untuk pertama kalinya, Badan POM Amerika (FDA) menyetujui terapi yang akan mencegah infeksi HIV pada orang yang sehat (belum terinfeksi).

Obat tersebut disebut Truvada, yang telah disetujui sebagai terapi pada orang yang terinfeksi HIV dengan cara kerja menurunkan jumlah virus yang beredar dalam sirkulasi darah. Bukan hanya itu, percobaan juga telah membuktikan bahwa Truvada juga dapat melindungi orang yang tidak terinfeksi namun beresiko terinfeksi HIV jika mereka meminum Truvada sehari sebelum terpapar dan sehari setelah terpapar. Maksudnya terpapar adalah “berhubungan seks atau terjadi pertukaran cairan dengan orang yang sudah terinfeksi HIV”.

Sumber: www.natap.org
Persetujuan FDA ini ternyata memicu kontroversi. Beberapa praktisi kesehatan masyarakat berargumen bahwa obat ini akan memicu salah paham di antara para pengguna dan membuat mereka berpikir bahwa mereka kebal dan tidak mungkin terinfeksi dan oleh karena itu pada akhirnya memicu tingkat penggunaan kondom yang semakin rendah. Walau demikian, FDA tetap yakin bahwa manfaat Truvada membuat obat ini layak untuk mendapat persetujuan peredarannya. Untuk itu marilah kita ketahui beberapa hal tentang Truvada.

Siapa saja yang dapat mengkonsumsi Truvada?

Obat yang diproduksi oleh Gilead Sciences Inc. ini disetujui untuk digunakan pada orang yang tidak terinfeksi yang beresiko tinggi terinfeksi HIV melalui hubungan seksual. Ini termasuk para pekerja seks komersial, orang-orang dengan partner hubungan seksual yang HIV +, serta orang-orang dengan resiko tinggi terpapar, misalnya orang yang sering menggunakan obat-obat injeksi atau IDU (Injecting Drug Users). 

Seberapa efektif obat ini mencegah terinfeksi HIV?

Pada sebuah studi, seorang gay dan biseksual yang mengkonsumsi Truvada setiap hari dan mendapat konseling tentang praktek hubungan seks yang aman ternyata mengurangi resiko mereka untuk terinfeksi sampai 42%. Di studi yang lain, yang melibatkan pasangan heteroseksual dimana salah satunya adalah HIV +, maka partner seksnya berkurang resiko terinfeksinya hingga 75% jika mereka mengkonsumsi Truvada.

Apakah Truvada menyembuhkan AIDS?

Tidak. Obat ini hanya dapat mengurangi jumlah virus dalam tubuh dan memperlambat progres menuju AIDS untuk orang yang sudah terinfeksi (HIV +). Untuk orang yang sehat, yang belum terinfeksi, obat ini dapat mengurangi kemampuan HIV untuk menguasai sel sehat dan memulai infeksi, dengan cara memblok aktifitas enzim yang diperlukan oleh virus (HIV) untuk bereplikasi (bertambah banyak).

Kenapa persetujuan FDA untuk Truvada menjadi kontroversial?

Ada ahli yang mengatakan bahwa orang sehat yang belum terinfeksi bisa salah menggunakan obat ini – obat ini harus digunakan setiap hari agar menjadi efektif – yang dapat memicu HIV menjadi resisten (kebal) terhadap terapi yang sesungguhnya.

Sumber: www.drugs.com
Selain itu, ahli kesehatan masyarakat juga ada yang beranggapan bahwa penggunaan obat ini bisa menurunkan perilaku seks aman akibat orang tersebut merasa tak akan terinfeksi selama menggunakan Truvada. Namun, pasien yang menerima Truvada tetap diharapkan mempraktekkan perilaku seksual yang aman, salah satunya dengan tetap menggunakan kondom, terlibat dalam konseling, dan melakukan pemeriksaan (test) HIV secara teratur. Percobaan yang telah dilakukan ternyata tidak membuktikan bahwa pengguna Truvada menjadi lebih terlibat dalam hubungan seks yang beresiko. 

Para peneliti, sayangnya, tidak dapat menjelaskan kenapa pada pekerja seks komersial yang menggunakan Truvada ternyata tetap terinfeksi HIV. Mereka berpikir bahwa itu mungkin diakibatkan salah dalam menakar dosis, atau mungkin saja ada hubungannya dengan lingkungan vagina yang membuat obat menjadi kurang efektif.

Kenapa persetujuan oleh FDA ini penting?

Persetujuan ini merupakan lompatan besar di bidang pencegahan HIV dan AIDS, tidak hanya di Amerika namun di seluruh dunia. Begitu Truvada digunakan sebagai salah satu cara mengurangi infeksi HIV maka dunia yang terus berkembang pada suatu saat bisa membuat pil-pil lain yang bisa digunakan orang yang tidak terinfeksi namun beresiko tinggi terinfeksi HIV agar tetap tidak terinfeksi. Para ahli kesehatan masyarakat juga bersemangat untuk membangun strategi pencegahan yang lebih efektif, dengan menyadari bahwa salah satu cara menghentikan epidemi ini adalah dengan mencegah terjadinya infeksi baru dan mengobati yang telah terinfeksi dengan baik.

Lalu bagaimana di Indonesia ya? Dengan semakin banyaknya orang yang terinfeksi dan maraknya perilaku beresiko, apakah sudah saatnya kita mulai menyediakan Truvada?

Alice Park is a writer at TIME. Find her on Twitter at @aliceparkny. You can also continue the discussion on TIME’s Facebook page and on Twitter at @TIME.

Diterjemahkan oleh Willy Sitompul untuk Apa Itu HIV dan AIDS. Diskusi lebih lanjut tentang ini dapat dilakukan lewat Twitter di @ApaItuHIV_AIDS.

Wednesday, February 27, 2013

Penting: Info tentang interaksi obat!

Kaletra (lopinavir/ritonavir) label update: drug interaction information

Pic Source: www.drugline.org
On January 17, 2013, FDA approved revisions to the Kaletra (lopinavir/ritonavir) labels to include new drug interaction information. The following updates were included.
Anticoagulants: Rivaroxaban. Avoid concomitant use of rivaroxaban and Kaletra. Coadministration of Kaletra and rivaroxaban is expected to result in increased exposure of rivaroxaban which may led to risk of increased bleeding

Anticonvulsants: Lamotrigine and valproate. Coadministration of Kaletra and lamotrigine or valproate may decrease the exposure of lamotrigine or valproate. A dose increase of the lamotrigine or valproate may be needed when coadministered with Kaletra and therapeutic concentration monitoring for lamotrigine may be indicated; particularly during dosage adjustments.

Corticosteroids (systemic); Budesonide and prednisone. Concomitant use may result in increased steroid concentrations and reduced serum cortisol concentrations. Concomitant use of glucocorticoids that are metabolized by CYP3A, particularly for long-term use, should consider the potential benefit of treatment versus the risk of systemic corticosteroid effects. Concomitant use may increase the risk for development of systemic corticosteroid effects including Cushing’s syndrome and adrenal suppression.

HCV-Protease Inhibitor: Boceprevir. It is not recommended to coadminister Kaletra and boceprevir. Concomitant administration of Kaletra and boceprevir reduced boceprevir, lopinavir and ritonavir steady-state exposures

HCV-Protease Inhibitor: Telaprevir. It is not recommended to coadminister Kaletra and telaprevir. Concomitant administration of Kaletra and telaprevir reduced steady-state telaprevir exposure, while the steady-state lopinavir exposure was not affected.

Inhalded or Intransal Steroids: e.g. Budesonide: Concomitant use of Kaletra and fluticasone or other glucocorticoids that are metabolized by CYP3A is not recommended unless the potential benefit of treatment outweighs the risk of systemic corticosteroid effects. Concomitant use may result in increased steroid concentrations and reduce serum cortisol concentrations. Systemic corticosteroid effects including Cushing’s syndrome and adrenal suppression have been reported during postmarketing use in patients when certain ritonavir-containing products have been coadministered with fluticasone propionate or budesonide.

PDE5 Inhibitors: Avanafil. Do not use Kaletra with avanafil because a safe and effective avanafil dosage regimen has not been established.
Drug interaction or clinical studies reveal no clinically significant interaction between Kaletra and raltegravir.
 
The updated labeling will be made available through Drugs@FDA.
 
Kaletra is a product of Abbott Laboratories.
 
Richard Klein
Office of Special Health Issues
Food and Drug Administration
 
Kimberly Struble
Division of Antiviral Products
Food and Drug Administration
 
Posting ulang dengan mengutip persis dari sumbernya: FDA
 

Ciri-ciri orang terinfeksi HIV?



Pertanyaan “nyasar” muncul di laman Facebook Blog Apa Itu HIV dan AIDS. Bunyinya sederhana: “Apa saja sih ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV?” Pertanyaan sederhana yang kadang agak sulit dijawab. Jika ditanyakan apa saja ciri-ciri orang yang baru saja terinfeksi HIV mungkin jawabannya adalah sebagai berikut: demam, sakit kepala, kelelahan, mual, diare dan pembengkakan kelenjar getah bening di leher, ketiak atau pangkal paha. Lho? Gejala-gejala itu kan bisa ditemukan pada infeksi penyakit lain juga? 

Pic Source: www.letsthinkthing.wordpress.com
Betul, gejala-gejala ini hampir sama dengan penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus atau lainnya. Gejala-gejala ini kemudian bisa hilang dengan sendirinya. Atau karena si penderita merasa itu adalah gejala pilek atau sakit kepala biasa, bisa saja dia mengkonsumsi obat-obat “warung” dan lalu gejala-gejala itupun hilang dengan sendirinya. Karena itu, banyak orang yang terinfeksi HIV tidak menyadari bahwa dirinya sudah terinfeksi hingga bertahun-tahun sampai mencapai stadium lanjut.

Jika sudah sampai pada stadium lanjut, Pusat Pengendalian Penyakit (Center for Disease Control/ CDC) mengungkapkan ada beberapa gejala yang menunjukkan stadium lanjut dari HIV yaitu:

1. Kehilangan berat badan dengan cepat tanpa adanya alasan
2. Batuk kering
3. Demam berulang atau berkeringat saat malam hari
4. Kelelahan
5. Diare yang lebih dari seminggu
6. Kehilangan memori
7. Depresi dan juga gangguan saraf lainnya.

Itu adalah gejala yang umum yang sering ditemukan. Pada intinya, infeksi HIV menyebabkan penurunan kekebalan tubuh sehingga penyakit-penyakit yang tadinya sulit menyerang tubuh dapat dengan mudah masuk dan “menjajah” tubuh. 

Ibaratnya, kekebalan tubuh itu adalah polisi atau tentara yang menjaga tubuh dari serangan berbagai penyakit. Virus HIV menyebabkan kekebalan tubuh menurun dengan menghancurkan sel-sel penjaga tubuh yang dikenal dengan nama sel darah putih atau lebih spesifik lagi sel CD4. 

Nah, kembali ke infeksi virus HIV tadi, lalu apa ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV? Setelah gejala-gejala ringan tadi (lihat di atas) menghilang, maka orang yang terinfeksi HIV tak ada bedanya dengan orang biasa. Tidak ada ciri khas yang bisa membedakan orang terinfeksi HIV dengan orang kebanyakan. Kalau mau dijawab juga apa ciri-cirinya, ambillah sebuah cermin dan lihatlah bayangan dalam cermin itu. Seperti itulah ciri-ciri orang yang terinfeksi HIV :-) 

Tidak ada seorangpun yang bisa secara sembarang menunjuk seseorang dan menyatakannya terinfeksi HIV. Infeksi HIV hanya bisa diketahui lewat pemeriksaan darah. Itupun dilakukan secara sukarela dan orang yang memeriksakan darahnya berhak untuk tidak mempublikasikan statusnya positif atau negatif.

Mau tau lebih banyak? Follow saja Blog Apa Itu HIV dan AIDS. Jangan lupa “Like” lamannya di Facebook.

Friday, October 19, 2012

Nutrisi Tak Cukup, Percepat Penyebaran HIV di Papua?


Saya agak terkejut walau tidak begitu kaget (lho?) melihat salah satu berita di VoA News tentang kelangkaan pangan yang bisa memperparah wabah HIV dan AIDS. Menurut saya,  masalah ini bukan hanya berlangsung di Afrika atau beberapa tempat lain yang disebutkan dalam berita itu (San Fransisco dan Amerika Utara) tetapi juga bisa ditemui di Indonesia khususnya di Papua. Mengapa Papua? Kondisi Papua saat ini sangat memprihatinkan. Isu besar penyebaran HIV dan AIDS sangat mencolok. Prevalensi rata-rata sebesar 2,4%, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Itu baru prevalensi rata-rata. Prevalensi lebih tinggi bisa ditemukan di daerah pesisir sulit 3,2% dan pegunungan sebesar 2,9% (Sumber: STHP Papua 2006).   

HIV dan AIDS dan gizi sangat terkait erat. Kaitannya bisa dua arah. Yaitu HIV dan AIDS mempengaruhi status gizi seseorang menjadi buruk atau sebaliknya status gizi seseorang yang rentan mengakibatkannya terinfeksi HIV. Gizi buruk dapat merusak sistem kekebalan tubuh dan memberikan kontribusi pada percepatan full-blown AIDS. Di lain pihak, HIV dan AIDS itu sendiri dapat menyebabkan kekurangan gizi. HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh, sehingga mengurangi kemampuan tubuh untuk melawan infeksi. Akibatnya, orang yang HIV-positif dapat menjadi rentan terhadap periode sakit berulang yang berkepanjangan, yang dapat mengurangi nafsu makan mereka dan mengganggu penyerapan nutrisi. Infeksi juga meningkatkan kebutuhan tubuh akan nutrisi penting. Banyak orang yang terinfeksi HIV tidak dapat memenuhi kebutuhan gizi tambahan dan menjadi lemah dan kurang gizi. Di Papua khususnya di wilayah pegunungan tengah, masalah nutrisi atau kecukupan gizi menjadi masalah penting tatkala melihat pola makan sehari-hari mereka. Setiap hari hipere (ubi jalar) menjadi andalan masyarakat untuk dikonsumsi sehari-hari.

Pemberian Makanan Tambahan (dok. pribadi)
Diet yang memadai dan seimbang merupakan komponen penting dari pelayanan dasar bagi orang-orang yang hidup dengan HIV dan AIDS. Mengingat kurangnya fasilitas medis dan obat-obatan untuk AIDS di sebagian besar negara-negara berkembang yang terkena dampak apalagi di daerah seperti Papua pegunungan, sangat penting bahwa upaya yang kuat untuk mencapai dan mempertahankan nutrisi yang baik untuk orang yang terinfeksi HIV harus dilakukan sebagai prioritas atau langkah utama. Tingginya prevalensi HIV di Papua ditengarai akibat kurangnya pengetahuan tentang HIV dan AIDS yang menyebabkan tingginya perilaku seks bebas, usia yang lebih dini dalam melakukan hubungan seks (15 tahun), serta tuntutan ekonomi yang memicu commercial seks (seks dengan bayaran).[1]
HIV dan AIDS serta kematian yang terkait dengannya adalah penyebab utama atau kontributor terhadap kerawanan pangan rumah tangga. Hal ini dapat dimengerti mengingat bahwa penyakit ini biasanya menyerang para anggota rumah tangga yang paling produktif. Ketika para pencari nafkah menjadi sakit, rumah tangga tidak hanya harus mengelola kurangnya tenaga kerja dan pendapatan, tetapi juga harus mengelola hilangnya tenaga kerja yang harus merawat orang sakit tersebut. AIDS umumnya ditandai dengan periode berulang dari penyakit yang mengakibatkan hilangnya tenaga kerja dan pendapatan yang mengakibatkan biaya perawatan kesehatan juga meningkat.

Bakar batu, tradisi saat buka kebun (dok. pribadi)
Di daerah pedesaan, produksi pertanian cenderung bergantung pada tenaga kerja. Sedangkan tenaga kerja biasanya hanya terkonsentrasi pada periode tertentu setiap tahunnya. Contoh: di pegunungan tengah Papua, Wamena misalnya, tenaga kerja biasanya terkonsentrasi pada musim tanam dan musim panen. Keadaan sakit atau pemakaman selama masa tersebut mungkin berarti bahwa seluruh atau sebagian dari waktu penanaman, musim tanam atau panen tidak berjalan sebagaimana mestinya. Kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat juga akhirnya sangat berkurang.
Ketika seorang anggota rumah tangga dewasa meninggal, orang tua yang masih hidup, kakek-nenek, kerabat dan bahkan anak-anak sendiri harus membantu memenuhi ketersediaan makanan dalam rumah tangga, pendapatan dan perawatan untuk anak yang membutuhkan, menjadi suatu tugas yang sering terlalu banyak bagi mereka untuk ditangani. Putus asa untuk bertahan hidup, dapat mendorong beberapa anggota rumah tangga untuk bertukar seks untuk uang, makanan, barang atau jasa, atau untuk meninggalkan rumah untuk mencari pekerjaan. Hal ini menghadapkan mereka untuk risiko yang lebih besar terhadap infeksi HIV. Kesulitan finansial ini memacu tingginya angka pekerja seks jalanan.[2]
Saat ini, kebanyakan yatim piatu dengan AIDS dirawat melalui jaringan keluarga. Namun dengan meningkatnya jumlah kasus HIV dan AIDS tetap saja akan meningkatkan jumlah anak-anak yang akan berakhir hidup di jalanan tanpa perawatan atau dukungan yang memadai. Seiring dengan waktu anak-anak inipun berpotensi menjadi pekerja seks jalanan pula.

Dampak epidemi pada individu, masyarakat atau suatu lembaga sangat terkait pada kapasitas mereka untuk mengatasi (ability to cope). Tahap dan pola penyebaran HIV dan AIDS di suatu negara juga penting dalam menganalisis kemampuan untuk mengatasi ini. Pada tahap awal, misalnya, ketika prevalensi HIV rendah, hanya sedikit dampak yang dirasakan pada rumah tangga dan masyarakat. Ketika prevalensi HIV semakin meningkat, virus mulai menyebar ke kelompok mobile dan berisiko tinggi. Dampaknya paling benar-benar dirasakan ketika sejumlah besar orang telah terinfeksi HIV dan kematian karena AIDS mulai meningkat.
Kombinasi intervensi dan bagaimana intervensi tersebut akan diimplementasikan akan berbeda tergantung dari tahap epidemi di daerah tersebut. Respon terhadap krisis HIV dan AIDS yang sudah ada, akan secara fundamental berbeda intervensinya dari mempersiapkan krisis yang mungkin timbul.
Di bawah ini adalah contoh dari beberapa intervensi yang dapat dilakukan di Papua yang bertujuan untuk melindungi dan memperbaiki gizi dan keamanan pangan di antara rumah tangga terdampak HIV. Daftar ini bukan daftar terlengkap tetapi hanya bertujuan untuk memberikan gambaran metode mencoba-dan-teruji  (tried and tested) yang dapat digunakan untuk memberikan ilustrasi kepada para pemangku kepentingan apa yang secara layak dapat dilakukan di sektor pangan dan pertanian.

Melakukan Peningkatan Kesadaran (raising awareness)
Kesadaran perlu dibangun terutama tentang hubungan antara HIV dan AIDS, kerawanan pangan dan kekurangan gizi di antara orang-orang yang terlibat dalam perumusan kebijakan dan program, orang yang terlibat dalam perencanaan dan pengembangan proyek agar mereka bisa:
  1. Meninjau dan memasukkan HIV dan AIDS dalam kebijakan pembangunan yang ada, baik itu di level program atau proyek;
  2. Meninjau dan memasukkan tujuan keamanan pangan dan gizi  dalam kebijakan, program dan proyek yang berhubungan dengan HIV dan AIDS.
Perawatan Gizi bagi Orang yang Hidup dengan HIV dan AIDS
Mengingat dampak gizi yang baik pada kualitas hidup dan harapan pada orang yang hidup dengan HIV dan AIDS, program yang meningkatkan akses fisik ke pangan yang bergizi cukup hingga baik dalam kuantitas dan kualitas sangat diperlukan. Ini termasuk program berkebun di rumah (kebun gizi) atau intervensi pertanian lainnya yang dapat menghasilkan berbagai bahan makanan yang dibutuhkan dengan cara yang hemat biaya.
Karena rumah tangga sering kehabisan sumber daya produktif setelah full-blown AIDS, bank makanan lokal dan bantuan pangan dari luar mungkin diperlukan ketika keluarga tidak bisa lagi memenuhi kebutuhan mereka sendiri.
Perawatan gizi/ nutrisi juga melibatkan pendidikan gizi utama dan upaya komunikasi melalui komunitas yang ada dan organisasi perawatan berbasis rumah, atau bisa melalui media radio khususnya pedesaan. Komunikasi dan program pendidikan dan pelatihan berbasis komunitas perlu dikembangkan dan dipelihara.

Mata Pencaharian dan Dukungan Keamanan Pangan untuk Rumah Tangga Terdampak HIV dan AIDS
Intervensi (bisa digabung dengan bantuan pangan), diperlukan untuk membantu rumah tangga yang terkena HIV dan AIDS. Intervensi ini mungkin termasuk bagaimana meningkatkan produksi pangan pendukung dan diversifikasi pangan.
Intervensi ini mungkin tergantung pada tipe rumah tangga: misalnya, rumah tangga dengan yatim piatu atau tanpa kepala keluarga, perlu lebih banyak dukungan dan bantuan langsung. Perempuan sebagai kepala keluarga sering perlu dilindungi untuk peningkatan akses terhadap alat-alat produksi, sedangkan rumah tangga yang membina anak yatim dapat mengambil manfaat dalam peningkatan akses ke keuangan mikro, dan lain-lain.

Sistem Dukungan dan Kepedulian akan Mata Pencaharian Berbasis Masyarakat
Karena rumah tangga terdampak HIV dan AIDS sangat tergantung pada organisasi berbasis masyarakat untuk perawatan dan dukungan, kapasitas organisasi-organisasi ini perlu diperkuat dan didirikan (jika belum ada). Mereka perlu dipromosikan dalam masyarakat di mana mereka belum ada. Kapasitas fisik organisasi perawatan lokal (seperti mutual-help groups dan panti asuhan di daerah perkotaan) yang memberikan perawatan gizi dan bantuan makanan juga perlu diperkuat.
Mengingat tingginya pergantian relawan dalam masyarakat, program-program pelatihan yang diadaptasi secara lokal pada perawatan gizi dan bantuan makanan untuk orang yang hidup dengan atau terpengaruh oleh HIV dan AIDS perlu dibentuk.

Akses ke pendidikan, keterampilan hidup, dan pelatihan kejuruan
Dalam kenyataan sering ditemukan banyak anak yatim piatu dan anak-anak rentan tidak dapat bersekolah, bahkan ketika ada program insentif, dan hanya sedikit yang menerima pendidikan di luar tingkat dasar. Padahal mereka memiliki kebutuhan jangka panjang, termasuk kebutuhan keterampilan hidup dan pendidikan kejuruan, khususnya yang berkaitan dengan gizi, pangan dan pertanian. Oleh karena itu penting untuk memberikan pendidikan dan pelatihan semacam itu baik melalui jalur formal dan informal.

Saya berharap mudah-mudahan contoh intervensi tersebut dapat diterapkan di Papua khususnya di wilayah pegunungan tengah. Semoga!


[1] L. Butt, G. Numbery, and J. Morin. Preventing AIDS in Papua, December 2002.
[2] ibid

Tuesday, October 2, 2012

Refleksi LASS: Perjalanan 6 tahun - by Very Kamil*


Salam!
Kawan-kawan, saya copykan tulisan yang dimuat di buletin PKNI yang terbaru.

Wassalam,
-ver
 
“ … Setelah mendengarkan uraian dari Saudara tadi, saya menyimpulkan apa yang anda lakukan adalah baik. Anda mencoba melakukan ajakan pada kebaikan. Anda menawarkan para pecandu untuk mengurangi kemudharatan, mengajak untuk menuju kesembuhan … “ komentar pak Kiyai, seorang pengasuh pesantren di Jawa Barat, setelah presentasi tentang Harm Reduction lebih kurang 6 tahun lalu. Pak Kiyai melanjutkan uraiannya tentang sebuah hadits yang intinya menyatakan bahwa keutamaan mengajak orang yang dalam jalan sesat untuk kembali pada kebaikan dan kebenaran adalah lebih besar dari pada mati syahid. Sejak itu saya menjadi semakin yakin bahwa apa yang kami lakukan adalah benar. Termasuk dalam melaksanakan program Layanan Alat dan Jarum Suntik Steril. (catatan refleksi penulis)

 Jika kita menelusuri sejarah harm Reduction di Indonesia, ada beberapa batu loncatan yang dapat digunakan sebagai ilustrasi. Ada yang menyebutkan bahwa tahun 1999 sebagai tahun awal respon  terhadap permasalahan AIDS di kalangan pengguna Napza suntik (penasun). Karena pada tahun itu dilakukan sebuah workshop nasional yang diselenggarakan kementrian kesehatan (waktu itu Departemen Kesehatan) dengan dukungan dari berbagai lembaga non pemerintah local  dan internasional. Kedua, pada tahun yang sama, sebuah NGO, Yayasan Hati-hati , memulai kegiatan pendampingan pada kelompok penasun di wilayah Pantai Kuta, Bali. Dengan bekal pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki, para petugas lapangan Yayasan Hati-hati yang hampir semuanya adalah bekas pengguna napza suntik, melakukan pendampingan termasuk membagikan alat suntik steril kepada para penasun.
Sejak tahun 2001, FHI melalui program ASA, memulai upaya pengembangan program Harm Reduction dengan dukungan konsultan berpengalaman, Prof. Wayne Wiebel. ‘Dr. Drugs” , demikian nama jalanan professor yang telah mengujicobakan model penjangkauan yang dikenal dengan ILOM, atau diterjemahkan sebagai model penjangkauan menggunakan pemimpin sesama.
Pada tahun 2002, sejumlah LSM mitra Program ASA melakukan penjangkauan dan pendampingan pada IDU. Pada tahun 2003, program dukungan AUSAID, yang kemudian menjadi  IHPCP, juga mulai giat memberikan dukungan pada upaya penanggulangan AIDS pada kelompok penasun di wilayah Indonesia Timur.
Dengan dukungan pendanaan USAID, Program ASA memberikan kontrak kepada AHRN dan CHR untuk memberikan dukungan atas upaya pengembangan program Haam Reduction di Idnonesia. Kedua lembaga ini diamanatkan untuk memberikan advokasi dalam mendapatkan dukungan dari instustuio kepolisian, institusi  dan lembaga pemasyarakatan, serta mendorong dan memberkan penguatan terhadap jaringan masyarakat sipil dalam penanggulangan AIDS pada penasun. Pada tahun 2003, Jangkar dimulai.

Dukungan Nyata
Kontroversi LASS sudah muncul sejak Harm Reduction disosialisasikan di Indonesia. Perjalanan ini ditandai dengan MoU antara KPA BNN, kertas-kertas kerja dari Kepolisian terkait penanggulangan AIDS pada pengguna Narkoba, komitmen Indonesia untuk 3 by 5 (inisiatif WHO), dan lain-lain. Pada tahun 2005, perkembangan HR di Indonesia ditandai dengan dukungan pemerintah secara formal dan sungguh-sungguh dengan diadakannya Pertemuan Nasional HR (PNHR) pertama di Jakarta. Empat buku panduan pengembangan program dan kebijakan terkait Harm Reduction diluncurkan oleh Departemen Kesehatan RI pada waktu yang bersamaan. Pada pertemuan nasional tersebut program AIDS Malysia  mengirimkan Dr. Adeeba untuk melihat dan belajar dari proses implementasi Harm reduction yang dilakukan di Indonesia.
Akhirnya berkat upaya bersama yang dilakukan berbagai pihak pada tahun-tahun  sebelumnya, para aktivis HR berhasil mendorong munculnya  kebijakan pertama pemerintah yang secara tegas menjelaskan tentang program Harm Reduction termasuk dengan Layanan Alat Suntik Steril . Hal ini secara jelas terlihat dari  Permenkes No 567/ 2006. Kebijakan ini diikuti oleh munculnya Kebijakan nasional HR yang dikeluarkan oleh Menkokesra selaku Kepala KPAN. Kebijakan nasional menekankan pentingnya menerapkan program Harm reduction secara komprehensif, termasuk LASS. Isi dari Permenkokesra seharusnya juga mengikat institusi Polri, dimana Kapolri dan Kepala BNN juga menjadi anggota KPA Nasional.
Secara jelas dan gamblang berbagai hal termasuk LASS dipaparkan pada kedua dokumen utama tersebut. Sejak itu, program LASS berkembang di berbagai tempat di kota-kota besar di Indonesia. Pada akhir tahun 2008, menurut dokumentasi Unit IDU ASA Program, terdapat lebih dari 40 LSM yang secara aktif  melakukan pendampingan pada kelompok IDU, hampir seluruhnya menyediakan Layanan penyediaan Alat Suntik Steril.
Permenkes 567 yang menjadi panduan, dan acuan dalam pengembangan SOP atau prosedur pelaksanaan LASS, menyebutkan bahwa LASS dapat dilaksanakan dengan 3 metode distribusi. Fixed Site (layanan menetap, DIC  dan PKM atau institusi kesehatan lain); Mobile (oleh petugas lapangan ) dan Satalite, oleh relawan komunitas yang telah dipercaya dan dilatih. Pesatnya perkembangan program HR tersebut menunjukkan berhasilnya komitmen pemerintah dalam langkah awal dukungan pada program Harm reduction. 
Pada kurun waktu tersebut, LASS dilaksanakan secara optimal. Prosedur pembagian jarum  diawali dengan pengenalan pada informasi dasar, pengenalan layanan yang tersedia, sampai pada penyediaan Alat suntik steril, alcohol swab, dan kondom. Material KIE pendukung juga tersedia secara meluas dan memadai. Program dukungan ASA mencatat distribusi jarum mellaui mitranya mencapai 1,3 juta jarum pada tahun 2008.
Perjalanan ini tentu saja tidak semulus ringkasan cerita di atas. Banyak kisah pahit getir terkait dengan LASS dan program HR pada umumnya sebelum mencapai tahap tersebut. Kisah PO yang ditangkap atau ditahan, kisah PO yang dicerca masyarakt atau Toma Toga bukan kisah yang asing. Alhamdulilah, pengalaman-pengalaman tersebut semakin memperkuat program yang berjalan.

Dinamika pelaksanaan LASS
Perubahan terjadi sekitar tahun 2008 akhir ketika mulai muncul pembicaraan di kalangan activis HR bahwa LASS akan dipusatkan hanya melalui PKM. Hal ini diperkuat melalui isi proposal R8 GFATM yang diajukan. Melalui program terbesar tersebut, LSM  yang menjadi mitra pelaksana program, tidak mendapakan mandat untuk menjalankan secara langsung LASS. Akibatnya pada kedua program tersebut (mitra pada Ronde 8 dan Ronde 9) tidak memiliki indikator jumlah jarum yang terdistribusi dan jumlah penerima layanan LASS.
Sayangnya perubahan strategi ini tidak terjadi secara terbuka dan didukung dengan dokumen yang jelas. Sampai akhir 2009, tidak ada satu dokumenpun yang menyatakan perubahan SOP pada LASS. Bahkan, pada SOP layanan HR pada PKM yang diterbitkan oleh Kemenkes pada tahun 2008, menggambarkan metode distribusi jarum masih tetap sama, yaitu cara, fixed site, mobile, dan satelit. Informasi dari para petugas lapangan berikut menyebutkan bagaimana perubahan terjadi. Kebijakan tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa LASS harus memperhatikan masalah kesinambungan layanan (sustainability). Kalau di LSM tidak sustain, kalau di PKM sustain. Karena ini ‘kan layanan pemerintah. Kemudian ada yang mejelaskan pula bahwa kebijakan yang mengarahkan agar penasun mengambil jarum hanya pada PKM bisa dijakdikan sebagai indicator bahwa penasun tersebut sudah mandiri. Menjadi indikasi keberhasilan program. Seiring dengan proses amandemen UU Narkotika (yang kemduain, menjadi UU baru, bukan revisi/ amandemen), sempat keluar penjelasan bahwa pemusatan layanan pada PKM sesungguhnya dilakukan agar tidak bertentangan dengan UU Narkotika. Tentu saja semua ini hanya ucapan verbal dan tidak tertulis.
Pada tahun 2006-2007 IHPCP mulai memberikan dukungan yang lebih besar pada PKM/ penguatan institusi layanan pemerintah. Seiring dengan pengembangan layanan HR di PKM, yang sebagian juga menyediakan layanan terapi Rumatan Metadon, mulai terjadi friksi secara tidak langsung pada proses LASS. Ketika Progrm ASA sudah selesai, tdiak ada yang menyediakan suplai jarum suntiksteril bai LSM. Sementara LASS yang disediakan di PKM belum begitu optimal dalam layanannya. Masih banyak IDU yang tidak  menggunakan layanan secara masimal. Berbagai isyu muncul terkait LASS. Masalah jenis jarum yang disediakan tidak memenuhi kebutuhan penasun; sistem distribusi yang tidak standar; ada yang memberikan jarum untuk pancingan, atau pertemuan awal; tapi kemuianharus merujuk ke puskesmas. LSM pelaksana HR bekerja keras untuk membentuk mekanisme dan sistem untuk memotivasi penasun dalam  menggunakan LASS di PKM.
Dalam beberapa tahun terakhir, dari proses persiapan penyusunan proposal GF R11, pada tahun 2010, review layanan kesehatan terkait HIV dan AIDS oleh Kemenkes 2011 didukung oleh WHO, dan berbagai forum lain, temuan-temuan lapangan memperlihatkan bahwa kualitas LASS program harm reduction di Indonesia mengalami penurunan. Hal ini mengancam akan terjadinya infeksi baru dan reinfeksi di kalangan penasun. Berbagai masalah sedang melingkupi LASS. Tentang ketidakjelasan atau ketidak pastian tentang metode distribusi jarum atau alat suntik. Tentang standar layanan (apa saja material yang dibagikan, mengapa alcohol swab yang penting menjadi hilang? Bagiamna dengan material KIE, kondom, dan hal-hal lain).
Kabar bagusnya, dalam setahun terakhir HCPI (lanjutan IHPCP) telah menunjukkan kembali dukungannya pada LASS yang dialksanakan oleh LSM. Demikian juga dukungan program SUM, meskipun ada kekhawatiran bahwa kebijakan pendanaan AIDS dari USAID menyebutkan pengetatan kembali pada LASS.

Bahan Renungan
Pada bulan Juni yang lalu Persaudaraan Korban Napza Indonesia (PKNI) bekerja sama dengan Pusat Penelitian AIDS Atma Jaya Jakarta mengadakan sebuah kuliah umum  dengan topik LASS.  Dalam pertemuan tersebut saya menyimpulkan beberapa pertanyaan utama terkait LASS, yaitu:
  1. Apakah kebutuhan IDU akan jarum steril sudah terpenuhi secara adekuat? Apakah layanan LASS sudah digunakan secara maksimal untuk menghubungkan atau mempromosikan layanan-layanan terkait lainnya (kesehatan dasar, pemberian informasi, VCT, dan lain- lain)?
  1. Apakah semua sumberdaya yang diperlukan sudah tersedia dan mencukupi? (Apakah tenaga pelaksana sudah memperoleh pengayaan atau penguatan kapasitas yang memadai? Apakah material pencegahan termasuk KIE yang dibutuhkan sudah tersedia? Apakah aturan-aturan pendukung sudah tersedia, tersosialisasi dengan baik untuk para stakeholder?)
  2. Apakah dengan pengalaman dalam menjalankan dan mengelola LASS selama 6 tahun terakhir ini, pelaksanaan sudah berjalan seperti yang diharapkan?

Para pembaca yang budiman, sebagai penutup tulisan ini saya mnegajak kembali kepada kita semua untuk merenungkan kembali 3 pertanyaan di atas. Jika didengar sepintas, jawaban kita mungkin bisa beragam. Karena posisi dan cara pandang kita yang berbeda-beda. Tentu saja ada banyak informasi dari proses review, evaluasi, asesmen yang sudah dilakukan selama ini terkait LASS atau yang mencakupnya.

Masalahnya, bisakah kita sungguh-sungguh dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas? Karena jawaban  kita tersebut  akan menjawab pertanyaan Quo vadis, LASS Indonesia? Mau kemana program Harm Reduction Indonesia?  ***

*) Very Kamil
Pengamat Program AIDS Indonesia
Peneliti di Pusat Penelitian AIDS Atma Jaya Jakarta
Sedang mengikuti program S3 Sosiologi di Universitas Indonesia

PS. Kritik, komentar, pertanyan silahkan dilayangkan untuk tulisan ini melalui email ke: verykamil@gmail.com atau dalam ruang diskusi publik lainnya.

Blog ini hanya memuat kembali tulisan di atas yang didapat dari milis komunitas aids Indonesia. Dimuat karena ini adalah bahan diskusi dan informasi yang sangat menarik. Diskusi dan pertanyaan silahkan dialamatkan langsung ke email Pak Very Kamil. Terimakasih.