Showing posts with label ARV. Show all posts
Showing posts with label ARV. Show all posts

Tuesday, February 19, 2013

Garani MW1 - Obat herbal penyembuh HIV?

Baru-baru ini ada peningkatan trend pencarian dengan tag "HIV cure" dan yang tertinggi muncul dalam peringkat atas adalah Garani MW1. Obat herbal dari Malawi ini dipercaya dapat "menyembuhkan" orang terinfeksi HIV. Bentuk obatnya berupa bubuk yang dikonsumsi dengan menggunakan sendok (teh).

Lebih lengkapnya dapat disimak dalam beberapa link di bawah ini:



http://www.nyasatimes.com
Link tersebut berisi sekilas tentang Garani MW1 dan tentang penemunya yaitu Gloria Kantema Jeremiah. Semua artikel berbahasa Inggris. Mudah-mudahan nanti ada waktu untuk dituliskan versi Indonesia yang berisi ringkasan semua artikel tersebut.

Apakah ini harapan palsu? atau memang titik cerah dalam bidang penemuan "cure" untuk infeksi HIV? Yang jelas, obat HIV sebenarnya sederhana, jauhi stigma pada orang yang terinfeksi HIV atau dalam tahap AIDS. Orang yang terinfeksi HIV seharusnya diperlakukan sama dengan orang terinfeksi penyakit apapun. Tidak usah dibeda-bedakan. Salam!

Wednesday, January 30, 2013

Scientists hail 'potential cure for AIDS'

Ada harapan baru bahwa AIDS bisa disembuhkan? Berikut ini adalah artikel yang saya copy-kan dari ABC.net. Selengkapnya silahkan di klik pada link-nya. Ada video dan audio yang melengkapi artikel tersebut berisi wawancara di televisi ABC (video) dan penjelasan hasil penelitian terbaru di Australia (audio).


Scientists from the Queensland Institute of Medical Research say they have made a breakthrough that could lead to a potential cure for AIDS.
Associate Professor David Harrich says they have discovered how to modify a protein in HIV so that, instead of replicating, it protects against the infection.
"I consider that this is fighting fire with fire," he said.
"What we've actually done is taken a normal virus protein that the virus needs to grow, and we've changed this protein, so that instead of assisting the virus, it actually impedes virus replication and does it quite strongly."
Associate Professor Harrich says the modified protein cannot cure HIV but it has protected human cells from AIDS in the laboratory.
"This therapy is potentially a cure for AIDS," he said.
"So it's not a cure for HIV infection, but it potentially could end the disease.
"So this protein present in immune cells would help to maintain a healthy immune system so patients can handle normal infections."
More than 30,000 people have been diagnosed with HIV in Australia.
If clinical trials are successful, one treatment could be effective enough to replace the multiple therapies they currently need.
"Drug therapy targets individual enzymes or proteins and they have one drug, one protein," Associate Professor Harrich said.
"They have to take two or three drugs, so this would be a single agent that essentially has the same effect.
"So in that respect, this is a world-first agent that's able to stop HIV with a single agent at multiple steps of the virus life cycle."
He says the new treatment has the potential to make big improvements in the quality of life for those carrying HIV.
"I think what people are looking for is basically a means to go on and live happy and productive lives with as little intrusion as possible," he said.
"You either have to eliminate the virus infection or alternatively you have to eliminate the disease process and that's what this could do, potentially for a very long time."
Professor Harrich says animal trials are due to start this year and early indications are positive.
"This particular study is going to have some hurdles to jump through, but so far every test that we have put this protein through has passed with flying colours," he said.
"This particular year we're moving this into animal models, and based on the preliminary data we have done we expect that this will proceed really quickly."
The research is published in the journal Human Gene Therapy.

PrEP: Alat baru untuk pencegahan HIV?

Pra eksposur* profilaksis, atau PrEP, adalah alat pencegahan baru untuk infeksi HIV. PrEP menggunakan metode di mana orang-orang yang tidak memiliki infeksi HIV minum pil setiap hari untuk mengurangi risiko terinfeksi. Pil tersebut mengandung obat-obatan yang mencegah HIV membuat virus baru sejak virus memasuki tubuh. Dengan cara ini obat PrEP dapat membantu menjaga virus agar tidak membuat infeksi permanen.
Tenovir drug
 
Menyediakan obat pencegahan sebelum terkena kuman atau virus bukanlah praktek baru dan telah digunakan untuk mencegah penyakit lainnya. Misalnya, ketika orang melakukan perjalanan ke suatu daerah di mana malaria adalah umum, mereka disarankan untuk minum obat malaria sebelum dan selama perjalanan untuk mencegah terinfeksi jika digigit oleh nyamuk pembawa parasit malaria. Namun, penggunaan obat untuk mencegah infeksi HIV baru-baru ini telah dievaluasi. Bila digunakan secara konsisten, PrEP telah terbukti mengurangi risiko infeksi HIV di antara orang dewasa yang berisiko sangat tinggi untuk infeksi HIV melalui hubungan seks, termasuk laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki dan heteroseksual-aktif baik pria ataupun wanita. CDC juga mengevaluasi efektivitas PrEP dalam mencegah infeksi HIV di antara individu terpapar HIV melalui narkoba suntik, namun hasil tersebut belum tersedia.
 
Untuk beberapa individu yang berisiko sangat tinggi untuk eksposur seksual HIV, PrEP mungkin merupakan tambahan metode pencegahan sangat dibutuhkan - tetapi tidak akan cocok untuk semua orang. PrEP adalah pendekatan intensif yang membutuhkan kepatuhan yang ketat untuk minum obat setiap hari dan secara teratur melakukan tes HIV. PrEP tidak dimaksudkan untuk digunakan secara tunggal, melainkan dalam kombinasi dengan metode pencegahan HIV lainnya. Jika digunakan secara efektif dan oleh orang yang beresiko sangat tinggi, PrEP mungkin dapat memainkan peran dalam membantu untuk mengurangi jumlah infeksi HIV baru di Amerika Serikat. Atau bahkan di seluruh dunia?

Lebih lengkapnya silahkan klik link berikut: PrEP


*paparan, pajanan

Wednesday, October 31, 2012

Perpres Tentang Obat ARV Generik Disambut Positif

Mari kita lawan jika ada upaya melemahkan Perpres 76 / 2012 ini. ARV Generik adalah Hak Rakyat!

Perpres Tentang Obat ARV Generik Disambut Positif 

KOMPAS.com - Keputusan pemerintah Indonesia untuk menerbitkan Perpres tentang paten tujuh obat HIV dan Hepatitis B disambut positf oleh berbagai pihak. Langkah ini dinilai sebagai suatu hal yang berani dan sangat penting bagi pengendalian HIV/AIDS di Indonesia.

"Langkah yang diambil Indonesia ini merupakan sebuah manuver penting, tidak hanya berdampak penting bagi para penderita HIV di negaranya yang selama ini telah gigih berkampanye mendukung langkah tersebut, namun juga bagi negara-negara berkembang lainnya ", ungkap Direktur Advokasi Kebijakan Access Campaign MSF (Médecins Sans Frontières/Dokter Lintas Batas) Michelle Childs dalam siaran persnya kepada Kompas.com. 

"Ini merupakan sebuah lisensi dengan dampak terbesar yang pernah dikeluarkan oleh pemerintah, serta dengan jelas mencerminkan realitas jangkauan opsi-opsi pengobatan yang dibutuhkan," tambahnya.

Pada 3 September lalu, pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 76 Tahun 2012 tentang Pelaksaaan Paten oleh Pemerintah terhadap Obat Antiviral dan Antiretroviral, yang intinya mengatur tentang “hak guna pemerintah” - sejenis lisensi wajib yang membebaskan pemerintah dari pembatasan hak paten. Langkah ini ditempuh guna memproduksi tujuh jenis obat-obatan generik yang sangat penting dalam terapi HIV dan Hepatitis B.  Paten yang diambil alih ini tadinya dimiliki oleh perusahaan farmasi terkemuka seperti Merck, GSK, Bristol Myers Squibb, Abbott and Gilead. 

Obat-obatan tersebut adalah efavirenz, abacavir, tenofovir, lopinavir/ritonavir, didanosine, dan kombinasi dosis-tetap tenofovir/emtricitabine serta tenofovir/emtricitabine/efavirenz.  Selama ini obat-obatan ini didapatkan dengan cara mengimport dari luar negeri. Dengan hadirnya Perpres ini, produksi obat-obatan ini bisa dilakukan oleh perusahaan dalam negeri yang ditunjuk pemerintah dengan kewajiban pembayaran royalti sebesar 0,5% kepada perusahaan pemegang paten. Hal ini akan menjamin sekitar 310.000 orang yang hidup dengan HIV di Indonesia untuk bisa memiliki akses terhadap obat-obatan penting penyambung nyawa mereka.

Sambutan positif juga disampaikan Indonesia AIDS Coalition (IAC), sebuah LSM yang bekerja mempromosikan transparansi dan akuntabilitas pemerintah dalam program penanggulangan AIDS di Indonesia.  IAC menilai penerbitan Perpres tersebut sebagai langkah yang membanggakan dan mengundang perhatian dunia internasional.

"Kehadiran Perpes ini telah menunjukkan pemerintah kita berdiri bersama kepentingan rakyat banyak dan bukan kepentingan korporasi. Indonesia AIDS Coalition menyambut baik keluarnya Perpres 76 ini”, ujar Aditya Wardhana, Direktur Eksekutif IAC.

Hadirnya Perpres ini kata Aditya akan sangat membantu menurunkan epidemi AIDS di Indonesia. Tingkat keberhasilan terapi obat ARV pada ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) telah terbukti secara ilmiah mampu menurunkan tingkat penularan baru HIV sebesar 96 persen. Dengan semakin banyaknya jenis ARV, maka harapan dan keberhasilan pengobatan pada ODHA akan semakin meningkat sehingga penularan baru dapat diturunkan.

Perlu diketahui bahwa selama ini ganjalan bagi ODHA dalam memulai dan menjalankan terapi ARV adalah masih adanya ketakutan akan efek samping dari obat yang jenisnya terbatas serta keberlanjutan terapi ini. Adanya produksi dalam negeri dengan jenis yang memadai diharapkan akan memupus ketakutan-ketakutan ini.
 
“Kehadiran ARV secara berkesinambungan juga akan membantu menghilangkan stigma bahwa HIV sama dengan kematian. Ini adalah pesan positif bagi kesehatan publik. Dengan terapi ARV, ODHA bisa tetap bertahan sehat sampai berpuluh tahun. Ini merupakan kampanye bagi masyarakat untuk kemudian berani melakukan tes HIV. Lebih cepat kita tahu status HIV, semakin cepat kita bisa kendalikan epidemi AIDS ini bersama” tutup Aditya.


#ODHABerhakSehat

Salam,
Aditya Wardhana
Indonesia AIDS Coalition
Phone: +62 21 70 8888 27

Mobile: +62 858 147 147 69
Skype: awardhana
Website: www.iac.or.id / www.odhaberhaksehat.org

"Promoting transparency, accountability and civil participation on AIDS response"
 
Di posting ulang di blog ini untuk mendukung program ARV generik. Salam. (Admin)

Monday, July 23, 2012

Ending AIDS: AIDS 2012 opens in Washington


Dr. Diane Havlir, AIDS 2012 US Co-Chair, speaking at the opening session. © IAS/Ryan Rayburn - Commercialimage.net
However, this goal will only be achieved with the necessary political will and international solidarity.
Delegates at the opening ceremony of AIDS 2012 were reminded of recent research findings about prevention methods, which – if widely implemented – could lead to major reductions in the rates of HIV transmission and AIDS-related deaths.
These include:
It was emphasised that these methods provide additional support to well-established methods of prevention, such as condom distribution, voluntary counselling and testing, and harm reduction for injecting drug users. However, all of these initiatives still need scaling-up in many parts of the world.
Delegates and supporters worldwide were encouraged to sign the Washington Declaration, a statement of the steps that need to be taken – based on the latest scientific evidence – to drive down new infections and increase the proportion of people who are receiving life-saving treatment:
  • An increase in targeted investments.
  • Ensure evidence-based HIV prevention, treatment and care in accord with the human rights of those at greatest risk and in greatest need.
  • Markedly increase HIV testing, counselling and linkages to prevention, care and support services.
  • Identify, diagnose and treat TB.
  • Mobilisation and meaningful involvement of affected communities must be at the core of collective responses.