Showing posts with label pernasaids. Show all posts
Showing posts with label pernasaids. Show all posts

Tuesday, September 1, 2015

Wahai Laki-Laki Hindarilah Perilaku Beresiko!



Mobile Man with Money? Sumber gambar: www.geeknewsblog.com


Istilah 3M atau MMM seolah lekat dengan dunia penganggulangan HIV dan AIDS serta dunia Kesehatan Reproduksi. Apa lagi kepanjangannya kalau bukan Man, Money, dan Mobile. Atau, sering pula istilah itu digabungkan menjadi satu yaitu Mobile Man with Money. Artinya, laki-laki yang sedang bepergian, entah dalam rangka tugas dari kantor yang berbekal setumpuk SPPD itu, atau memang harus berada di kota atau bahkan negara yang berbeda yang mengharuskannya untuk berada jauh dari keluarga.

Kenapa harus laki-laki? Apakah tidak ada perempuan yang juga bepergian dan tinggal jauh dari keluarga karena tuntutan pekerjaan? Bukankah kesetaraan gender saat ini telah membawa persamaan hak untuk bekerja antara laki-laki dan perempuan? Ternyata, banyak penelitian membuktikan bahwa memang masih laki-laki lah yang berkontribusi paling tinggi terhadap penyebaran infeksi HIV ke orang lain. Dan orang lain itu sebagian besar adalah perempuan!

Istilah 3M sendiri sepertinya mengisyaratkan adanya 3 faktor yang memungkinkan terjadinya penularan HIV yang dibawa oleh laki-laki. Lebih tepatnya tinggal 2 (dua) faktor karena menjadi laki-laki itu sendiri (“man”) sudah memenuhi salah satu faktornya. Tinggallah faktor kedua yaitu “mobile”, yang bisa bermakna laki-laki tersebut sedang bepergian, sedang dalam perjalanan, atau sedang tinggal di suatu tempat untuk waktu cukup lama sementara keluarga berada di tempat atau kota yang lain. Kemudian faktor ketiga yaitu “money”, bukankah ada kata bijak yang menyatakan bahwa akar kejahatan adalah uang? Artinya, tanpa uang tak mungkin “man” bisa membeli seks komersil. Tanpa uang tak akan ada istilah “om-om senang” dan “sugar daddy” atau “boda-boda men” di salah satu negara Afrika. 

Sebenarnya 3 syarat itu sendiri masih kurang jika ingin menularkan HIV. Ada satu syarat lagi yang harus terpenuhi yaitu: keinginan. Tanpa keinginan atau hasrat, tentu 3M tadi tak akan bermakna. Sayangnya, keinginan itu timbulnya cepat karena ada pengaruh eksternal. Apa itu? Minuman dan pertemanan. Dimana laki-laki berkumpul takkan lepas dari omongan tentang pekerjaan dan perempuan. Benarkah? Hmm, mungkin hal ini harus diteliti lebih lanjut. 

Lantas, apa yang dimaksud dengan perilaku beresiko? Bagi laki-laki, jelas perilaku beresiko adalah perilaku yang mendatangkan resiko. Lha, bukankah menjadi laki-laki harus berani menghadapi resiko? Kalau tidak berani menerima resiko, bukan laki-laki dong namanya?

Benar sekali! Dalam kehidupan ini memang banyak resiko yang harus ditanggung oleh laki-laki. Anda adalah kepala keluarga. Anda adalah tiang penyangga keluarga. Anda adalah kebanggaan istri dan anak-anak Anda. Namun, dalam hal penularan HIV dari orang ke orang ada resiko mutlak yang harus Anda hindari. Apa itu? Resiko tertular. Tidak hanya tertular HIV namun juga berbagai penyakit menular seksual lainnya. 

Apa saja penyakit menular yang bisa didapat akibat hubungan seks yang beresiko? Klik saja di web nya Komisi PenanggulanganAIDS Nasional (KPAN) pasti lengkap informasinya. Komisi ini secara teratur mengadakan ajang Pertemuan Nasional (Pernas) yang membahas segala hal yang berkaitan dengan penanggulangan HIV dan AIDS di Indonesia. Tahun ini ada Pernas AIDS V yang menandakan telah kelima kalinya pertemuan nasional itu diadakan. Dari informasi di web tersebut, Anda akan tahu kalau perilaku beresiko itu antara lain: berganti-ganti pasangan seks dan berhubungan seks secara tak aman alias tanpa pelindung. 

Coba bayangkan, sebagai kepala keluarga yang menjadi tiang penyangga dan kebanggaan keluarga, harus merana akibat terkena penyakit menular seksual. Anda bolak-balik sakit dan tidak bisa mencari nafkah untuk keluarga tercinta. Masihkah layak Anda disebut penyangga dan kebanggaan keluarga?

Makanya, hindari perilaku beresiko dengan cara gampang. Bunuh keinginannya! Anda bisa jadi sedang jauh dari keluarga, sedang tugas ke luar kota, dan mempunyai banyak uang dari hasil pekerjaan Anda, tapi jika Anda tak berkeinginan untuk membeli seks komersil tidak masalah kan? Selain itu, supaya tak berkeinginan, kirimkan saja cepat-cepat uang yang Anda hasilkan ke keluarga. Niscaya, keinginan itu akan hilang dengan sendirinya karena salah satu syarat untuk transaksi sudah tidak ada.

Tapi keinginan itu begitu kuat, begitu kata Anda. Seperti ada sesuatu yang menumpuk dan harus dikeluarkan biar lega, lanjut Anda lagi menjelaskan. Belum lagi ada ajakan teman-teman yang tak enak dong untuk ditolak, lanjut Anda lagi berupaya membela diri. Anda ini memang paling bisa memberikan alasan.

Wah, kalau sudah begitu alasan Anda, sudahlah saya angkat tangan saja. Anda silahkan saja berurusan dengan kawan saya. Kondom namanya.

Sunday, August 9, 2015

Hindari Diskriminasi Bukti Kepedulian Kita Tinggi!



Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mendeskripsikan diskriminasi sebagai pembedaan perlakuan terhadap sesama warga negara berdasarkan warna kulit, golongan, suku, ekonomi, agama, dan lain sebagainya. Lebih lanjut beberapa contohnya adalah sebagai berikut:
  1. Diskriminasi kelamin, merupakan pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan perbedaan jenis kelamin; 
  2. Diskriminasi ras, adalah anggapan segolongan ras tertentu bahwa rasnya itulah yang paling unggul dibandingkan dengan golongan ras lain. Diskriminasi ini kemudian memunculkan sikap rasisme, yaitu pembedaan sikap dan perlakuan terhadap kelompok masyarakat tertentu karena perbedaan warna kulit.  
  3. Diskriminasi sosial adalah pembedaan sikap dan perlakuan terhadap sesama manusia berdasarkan kedudukan sosialnya.
Pengertian diskriminasi dalam ruang lingkup hukum hak asasi manusia Indonesia (human rights law) dapat dilihat dalam Pasal 1 Ayat (3) UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang berbunyi, “Diskriminasi adalah setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang langsung atau tak langsung didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama, suku, ras, etnik, kelompok, golongan, status sosial, status ekonomi, jenis kelamin, bahasa, keyakinan politik, yang berakibat pengurangan, penyimpangan, atau penghapusan, pengakuan, pelaksanaan atau penggunaan hak asasi manusia dan kebebasan dasar dalam kehidupan baik individual maupun kolektif dalam bidang politik, ekonomi, hukum, sosial, budaya, dan aspek kehidupan lainnya”.

Sumber gambar: workplace-dynamics.com


Diskriminasi jelas dilarang. Tak ada satu orangpun yang boleh melakukannya dengan alasan apapun. Ketentuan mengenai larangan diskriminasi diatur dalam International Covenant on Civil and Political Rights (ICCPR) yang telah diratifikasi oleh Indonesia dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005. Article 2 ICCPR berbunyi, “Each State Party to the present Covenant undertakes to respect and ensure to all individuals within its territory and subject to its jurisdiction the rights recognized in the present Covenant, without distinction of any kind, such as race, color, sex, language, religion, political or other opinion, national or social origin, property, birth or other status”.

Mengacu pada kedua pemaknaan tersebut, Mahkamah Konstitusi dalam Putusan 028-029/PUU-IV/2006 menyatakan bahwa diskriminasi harus diartikan sebagai setiap pembatasan, pelecehan, atau pengucilan yang didasarkan pada pembedaan manusia atas dasar agama (religion), ras (race), warna (color), jenis kelamin (sex), bahasa (language), kesatuan politik (political opinion).

UNAIDS  mendefinisikan stigma dan diskriminasi terkait dengan HIV sebagai ciri negatif yang diberikan pada seseorang sehingga menyebabkan tindakan yang tidak wajar dan tidak adil terhadap orang tersebut berdasarkan status HIV-nya.

Contoh-contoh diskriminasi meliputi:

  1. Keluarga yang tega mengusir anaknya karena menganggapnya sebagai aib 
  2. Rumah sakit dan tenaga kesehatan yang menolak untuk menerima ODHA atau menempatkan ODHA di kamar tersendiri karena takut tertular. 
  3. ODHA sulit diterima oleh dunia kerja dengan alasan kesehatan dan produktifitas. 
  4. Atasan yang memberhentikan pegawainya berdasarkan status HIV mereka. 
  5. Keluarga/ masyarakat yang menolak ODHA 
  6. Mengkarantina ODHA karena menganggap bahwa HIV-AIDS adalah penyakit kutukan atau hukuman Tuhan bagi orang yang berbuat dosa. 
  7. Sekolah tidak mau menerima anak dengan HIV karena takut murid lain akan ketakutan. 
  8. ODHA mengalami masalah dalam mengurus asuransi kesehatan.
Sebagai manusia, kita dituntut untuk peduli terhadap sesama. Manusia adalah mahluk sosial yang tidak bisa hidup tanpa orang lain. Tidak ada definisi khusus tentang apa itu peduli terhadap sesama. Namun ada yang mendefinisikannya sebagai perasaan bertanggung jawab atas kesulitan yang dihadapi oleh sesamanya/ orang lain di mana seseorang terdorong untuk melakukan sesuatu untuk mengatasinya. 

ODHA adalah manusia biasa sama seperti kita. Mereka tidak memilih untuk menjadi ODHA namun seperti ada kata bijak dalam sebuah kitab, ODHA ada bersama-sama dengan kita supaya banyak pekerjaan Tuhan bisa dinyatakan melalui kepedulian kita terhadapnya.

Bagaimana menumbuhkan sikap peduli? Pertama, harus secepatnya mencari informasi. Bicara tentang ODHA berarti bicara tentang penanggulangan HIV dan AIDS. Salah satu sumber informasi terpercaya adalah laman web Komisi Penanggulangan AIDSNasional (KPAN), selain blog ini tentunya :-) Secara rutin KPAN bekerjasama dengan berbagai pihak menyelenggarakan ajang untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman. Salah satunya adalah Pertemuan Nasional AIDS (Pernas AIDS). Tahun ini adalah untuk kelima kalinya ajang itu diselenggarakan. Jika tertarik untuk mengikutinya, langsung saja klik di laman web Pernas AIDS ini ya… 

Salah satu cara mendapatkan informasi tentang HIV dan AIDS adalah melalui media sosial. Sumber: Facebook dan Twitter KPAN.


Diskriminasi terhadap ODHA memang tak terlepas dari stigma yang dilekatkan oleh orang-orang terhadap ODHA. Untuk itu, perlu juga diketahui beberapa tindakan yang mengurangi stigma secara individu, antara lain:

  1. Waspada terhadap bahasa yang kita gunakan dan hindari kata-kata yang menstigma 
  2. Sediakan perhatian untuk mendengarkan dan mendukung anggota keluarga ODHA di rumah 
  3. Kunjungi dan dukung ODHA beserta keluarganya di lingkungan tempat tinggal kita. 
  4. Doronglah ODHA untuk menggunakan layanan yang tersedia seperti konseling, tes HIV, pengobatan medis, ART, dan merujuk mereka kepada siapapun yang dapat menolong.

Dengan menghilangkan stigma maka diskriminasi bisa kita hindari. Dengan menghindari diskriminasi merupakan bukti bahwa kepedulian kita tinggi.

Bacaan:
Buku Pedoman Penghapusan Stigma dan Diskriminasi Bagi Pengelola Program, Petugas Layanan Kesehatan dan Kader

Tuesday, June 16, 2015

Inilah Cara Memupus Mitos Seputar HIV dan AIDS!



Dalam dunia penanggulangan HIV dan AIDS, para pegiat sosial sering diperhadapkan dengan berbagai pertanyaan yang kadang sulit dijawab dan kalaupun berhasil dijawab, masih membuat bingung orang yang bertanya.

Hal-hal sulit itu sebenarnya terbagi atas 2 bagian besar yaitu Mitos dan Fakta. Apakah nyamuk bisa menularkan HIV, misalnya, adalah pertanyaan yang terus menerus saya terima ketika melakukan sosialisasi awal tentang HIV dan AIDS entah itu di sekolah atau pada masyarakat umum.

Supaya pembaca lebih paham mengenai mitos-mitos apa saja yang berkembang di dunia penanggulangan HIV  dan AIDS, maka beberapa mitos yang saya sarikan dari beberapa sumber akan kita bahas di sini.

Mitos Pertama “Saya bisa terinfeksi HIV jika berada di sekitar orang yang HIV positif”

Berbagai fakta memperlihatkan bahwa HIV tidak ditularkan melalui sentuhan, air mata, keringat, ataupun air ludah. HIV hanya ditularkan melalui darah, semen (cairan kelamin laki-laki), cairan vagina, dan air susu ibu. Dengan demikian anda tak akan terinfeksi HIV jika melakukan kegiatan-kegiatan berikut:

  1. Menghirup udara bersama-sama dengan orang yang HIV positif
  2. Menyentuh dudukan toilet atau gagang pintu setelah disentuh orang yang HIV positif
  3. Minum dari mata air yang sama yang diminum orang yang HIV positif
  4. Berpelukan, berciuman, atau berjabat tangan dengan orang yang HIV positif
  5. Berbagi peralatan makan bersama orang yang HIV positif
  6. Menggunakan alat-alat olahraga di tempat fitness bersama-sama dengan orang yang HIV positif

Mitos yang Kedua “Saya tak perlu khawatir menjadi HIV positif – obat-obat baru akan menjaga saya tetap sehat”

Betul, obat yang disebut ARV (Anti Retro Viral) memang semakin lama semakin baik dan terbukti memperpanjang hidup banyak orang dengan HIV positif. Namun bagaimanapun juga obat-obat ini harganya mahal dan tetap ada efek sampingnya. Tidak ada satu obatpun yang menjamin kesembuhan. Selain itu, adanya jenis HIV yang kebal obat merupakan tantangan tersendiri untuk dunia penanggulangan HIV dan AIDS.

Mitos yang Ketiga “Saya bisa terinfeksi HIV dari gigitan nyamuk”

Karena HIV menular melalui darah, banyak orang menjadi salah persepsi bahwa gigitan nyamuk atau serangga penghisap darah lainnya bisa menularkan HIV. Beberapa studi  yang dilakukan memperlihatkan bahwa tidak ada bukti yang mendukung penularan melalui nyamuk atau serangga pengisap darah lainnya tersebut. Bahkan, di area dengan nyamuk yang banyak dan kasus HIV yang banyak pun tidak didapatkan penularan melalui nyamuk. Ketika nyamuk mengigit ternyata dia tidak memasukkan darah terakhir yang dia hisap ke tempat gigitan yang baru. Jadi, hanya menghisap saja. Selain itu, HIV juga tidak bertahan hidup lama jika berada dalam tubuh serangga. Fakta lain yang mendukung bahwa nyamuk tidak dapat menularkan HIV adalah dari jumlah orang yang terinfeksi HIV itu sendiri. Sebagian besar persentasenya berada pada usia produktif. Sedangkan, kalau seandainya nyamuk menularkan HIV maka persentase orang yang terinfeksi harus sama untuk semua kategori usia.

Mitos yang keempat “Jika saya HIV positif maka hidup saya sudah berakhir”

Pada awal-awal epideminya, kasus kematian karena AIDS sangat tinggi. Namun, saat ini, obat-obat anti retroviral memungkinkan orang yang HIV positif bahkan orang yang sudah pada tahap AIDS untuk hidup lebih lama, normal dan produktif.

Mitos yang kelima “AIDS adalah genosida”
Pada satu penelitian yang dilakukan di Amerika Latin, masih ada 30% orang yang beranggapan bahwa AIDS adalah cara pemerintah untuk menyingkirkan kaum minoritas. Hal yang sama juga kerap saya temui ketika memberikan sosialisasi awal tentang HIV di Papua. Banyak yang beranggapan bahwa HIV dan AIDS adalah cara pemerintah Indonesia untuk menyingkirkan suku asli Papua. Biasanya hal ini diungkapkan dengan kalimat, “Dulu tidak ada HIV dan AIDS tapi semenjak pemerintah datang, baru kita tahu ada HIV dan AIDS, itu kenapa e?”. Nah, kalau sudah ada pertanyaan seperti itu maka pemaparan sejarah HIV pun kembali ditampilkan. Selain itu, perlu disampaikan juga bahwa dengan adanya pemeriksaan kesehatan yang lebih baik saat ini merupakan salah satu faktor ditemukannya semakin banyak kasus HIV di Papua.

Mitos yang keenam “Saya bukan gay dan tak pernah menggunakan narkoba suntik – pasti saya tak mungkin terinfeksi HIV”

Dulu memang penyebaran HIV sempat diduga berasal dari hubungan sejenis terutama laki-laki dengan laki-laki. Namun saat ini penyebarannya lebih luas. Tidak hanya di kalangan homoseksual namun juga di kalangan heteroseksual.

Mitos yang ketujuh “Jika saya sedang menjalani pengobatan, maka saya tak mungkin menularkan HIV”

Ketika pengobatan yang dijalani berjalan dengan baik, maka jumlah virus dalam darah akan turun hingga tak terdekteksi saat dilakukan pemeriksaan darah. Penelitian memperlihatkan bahwa virus tersebut ternyata bersembunyi di bagian tubuh yang lain sehingga lebih baik jika perilaku seks yang aman tetap diterapkan supaya tidak ada orang lain yang tertular.

Mitos yang kedelapan “Saya dan pasangan saya keduanya HIV positif, jadi tak masalah kalau tidak mempraktekkan perilaku seks yang aman”

Walau anda dan pasangan keduanya HIV positif, mempraktekkan perilaku seks yang aman tetap diperlukan. Misalnya, tetap menggunakan kondom saat berhubungan seksual dengan pasangan atau menggunakan dental dams saat melakukan seks oral dengan pasangan. Hal ini bisa mencegah anda terinfeksi lagi oleh jenis HIV yang resisten terhadap obat.
Dental Dams (Sumber: sanctuaryhealth.com)


Mitos kesembilan “Saya bisa langsung tahu gejalanya kalau tiba-tiba pasangan saya HIV positif”

Seseorang bisa saja HIV positif dan tidak menunjukkan gejala selama bertahun-tahun. Satu-satunya cara untuk mengetahui apakah pasangan anda HIV positif adalah dengan melakukan pemeriksaan darah.

Mitos kesepuluh “Anda tak bisa terinfeksi HIV karena melakukan oral seks”

Memang benar kalau oral seks lebih rendah resikonya dibandingkan dengan tipe hubungan seks yang lain. Tetapi tetap saja ada resiko tertular jika melakukan hubungan seks secara oral dengan laki-laki atau perempuan yang HIV positif. Selalu gunakan pelindung lateks saat melakukan hubungan seks secara oral.
Nah,sudah cukup jelas kan? Beberapa mitos yang paling sering disampaikan sudah dibahas, namun ternyata ada juga beberapa pernyataan yang kadang harus diteliti dulu apakah pernyataan tersbut tergolong mitos atau fakta. Berikut ini akan dibahas apakah pernyataan-pernyataan tersebut tergolong mitos atau fakta.

Menggunakan dental dams. Sumber: meatincorporated.blogspot.com


HIV Positif sama dengan AIDS?

Ini adalah mitos. Human Immunodeficiency Virus (HIV) adalah virus yang menghancurkan sel-sel imun CD4 tubuh. Sel-sel imun CD4 adalah sel yang bertugas membantu melawan penyakit yang masuk dalam tubuh. Dengan terapi yang baik, seseorang bisa HIV positif selama bertahun-tahun atau berpuluh tahun tanpa masuk ke tahap AIDS. Seseorang didiagnosis AIDS jika dia adalah HIV positif dengan infeksi opportunistik yang berkembang dalam tubuhnya atau perhitungan CD4 nya turun di bawah 200.

HIV dapat disembuhkan!

Ini adalah mitos. Hingga saat ini tidak ada yang dapat menyembuhkan HIV, tetapi pengobatan atau terapi yang baik dengan ARV dapat menurunkan jumlah virus menjadi sangat rendah dan membantu memperbaiki sistim imun. Beberapa jenis ARV bekerja menghambat protein HIV yang dibutuhkannya untuk membelah diri, jenis yang lain bekerja dengan menghalangi virus masuk ke sel-sel imun dan material genetiknya. Sebelum memulai pengobatan, tentu dokter akan memperhatikan beberapa hal terkait sistim imun anda dan jumlah virus dalam tubuh anda.

Siapa saja bisa terinfeksi HIV!

Betul! Ini adalah fakta. Hingga September 2014, jumlah total kasus HIV yang didata adalah 150,296 kasus dan untuk AIDS total 55,799 kasus. Kalau dilihat penyebarannya berdasarkan golongan umur, maka di semua golongan umur terbukti ada yang menjadi korban, bahkan hingga masuk tahap AIDS. Dilihat dari cara penyebarannya pun demikian beragam walau penularan melalui hubungan seks secara heteroseksual masih merupakan sumber penularan tertinggi. Artinya, siapa saja memang bisa terinfeksi HIV!

Kasus HIV dan AIDS di Indonesia hingga akhir September 2014. Sumber: spiritia.or.id

Anda bisa tetap mempunyai bayi walau HIV positif

Betul! Ini adalah fakta yang bisa ditemukan saat ini. Walau ibu yang HIV positif berpotensi besar menularkan ke bayinya, melalui konsultasi dan perencanaan yang baik bersama dokter, kemungkinan penularan dari ibu ke bayi bisa ditekan hingga minimal sehingga tak jarang ditemukan walau ibunya HIV positif, bayi yang dilahirkan bisa HIV negatif. 

Pemaparan di atas tentu masih terbatas. Di luar sana masih banyak mitos-mitos tentang HIV dan AIDS yang masih harus dipatahkan. Dibuktikan bahwa itu hanya sekedar mitos yang tidak layak dipercaya. 

Lalu bagaimana caranya kita memupus mitos-mitos itu?

Pertama, dengan mencari sumber-sumber literatur yang tepat. Jangan menggunakan informasi yang didapat dari situs tanya jawab sebagai informasi yang akurat kecuali kalau dalam situs tanya jawab itu tercantum sumber aslinya dan sumber asli itu sudah kita cek dan ricek kembali.

Kedua, segera memperbaiki atau meralat jika kita menemukan ada informasi yang kurang tepat yang beredar di sekitar kita tentang HIV dan AIDS. Kalau perlu, ajak siapapun untuk berdiskusi.

Ketiga, gunakan semua sumber penyebaran informasi yang ada untuk menyebarluaskan informasi tentang HIV dan AIDS dengan lengkap dan benar. Jika kita memiliki media sosial seperti Facebook, Twitter, dan lain-lain, boleh juga kita menyebarkan informasi yang kita dapatkan ke followers atau sesame rekan pengguna medsos. Lebih mudah lagi, jika kita mengikuti Facebook KPA Nasional atau Twitter KPA Nasional. Kalau follow twitternya kan mudah tinggal RT (re-tweet) saja.

Follow Facebook dan Twitter KPAN. Sumber: aidsindonesia.or.id


Keempat, aktif dalam forum-forum diskusi tentang HIV dan AIDS. Penanggulangan HIV dan AIDS saat ini berkembang dengan pesat. Ada terapi jenis baru, misalnya yang mungkin belum tersebar luas atau belum pernah didiskusikan sebelumnya, bisa langsung diketahui jika terlibat aktif dalam forum diskusi. Forum-forum diskusi juga menolong kita untuk sewaktu-waktu bertanya jika menemukan hal-hal sulit dalam penanggulangan HIV dan AIDS. Pengalaman orang lain yang pernah menghadapi masalah serupa mungkin bisa diterapkan untuk mengatasi masalah kita. Salah satu forum diskusi yang rutin diselenggarakan Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) adalah Pertemuan Nasional AIDS (Pernas AIDS). Tahun ini adalah tahun kelima diselenggarakannya Pernas AIDS tersebut.

Sementara ini 4 langkah itu dulu yang bisa saya sampaikan. Mungkin pembaca memiliki langkah-langkah berikutnya yang tak kalah penting. Silahkan dishare ya… 

Akhirnya, mari kita pupus mitos dan sebar-luaskan fakta sehingga makin banyak orang memahami tentang HIV dan AIDS dengan lengkap dan benar!

Sumber: