Showing posts with label PMS. Show all posts
Showing posts with label PMS. Show all posts

Friday, October 4, 2013

Tanya Jawab Seputar Premenstrual Syndrome



Para pembaca blog Apa Itu HIV dan AIDS, kali ini kita akan mengulas sedikit tentang PMS. Ada banyak pertanyaan tentang PMS atau Premenstrual syndrome yang akan terjawab dalam artikel ini. Selamat membaca!
Premenstrual syndrome (sindrom pramenstruasi) adalah gejala-gejala tidak nyaman yang umumnya dialami oleh seorang perempuan pada hari-hari menjelang terjadinya pendarahan menstruasi.

Biasanya gejala PMS paling lama dialami kurang lebih 7 hari sebelum menstruasi dimulai dan bisa saja berlanjut hingga menstruasi selesai. PMS meliputi gejala fisik dan emosional, seperti jerawat, perut kembung, keletihan, kram perut, sakit di bagian perut atau pinggang, sakit punggung, payudara terasa sakit atau membesar, sakit kepala, sembelit, diare, mengidam makanan, depresi, lekas marah, sulit berkonsentrasi, atau sulit menangani stress.

Apakah wajar jika menstruasi terasa sakit?
Pada dasarnya hal ini wajar, beberapa perempuan merasa sakit seperti kram saat mereka menstruasi. Biasanya rasa sakit ini tidak terlalu parah dan tidak berlangsung terlalu lama. Namun ada sebagian perempuan yang merasakan sakit yang cukup parah sehingga membuat aktivitas mereka terhenti. Jika sakitnya tidak tertahankan, segera hubungilah dokter.

Benarkah perubahan hormon menjelang menstruasi (premenstrual syndrome – PMS) bisa menyebabkan perubahan mood pada perempuan?
Selama ini hormon selalu dikambinghitamkan dan dijadikan dalih pembenaran perubahan mood oleh para perempuan saat menjelang menstruasi. Sebenarnya, walaupun fluktuasi hormon telah menjadi subyek penelitian selama bertahun-tahun, fakta apakah hormon bertanggung jawab terhadap gejala fisik dan psikologis yang disebut premenstrual syndrome (PMS) masih belum diketahui.

Menjelang menstruasi, perempuan memang mengalami sejumlah perubahan fisik dan psikologis, seperti payudara yang semakin melembut, perut yang kembung, mudah tersinggung/ lekas marah, mood buruk, dan gejala lainnya yang menandakan tibanya siklus menstruasi. Akan tetapi, masih merupakan perdebatan apakah semua itu disebabkan oleh fluktuasi hormon, perubahan zat kimia di dalam otak, masalah sosial, masalah emosional yang sudah ada, atau bahkan kombinasi dari ketiganya.

Apa penyebab kram saat menstruasi?
Selama menstruasi, bukaan serviks sedikit meregang untuk memungkinkan endometrium diluruhkan. Peregangan ini diyakini menjadi bagian dari sakit kram yang dialami banyak perempuan. Buktinya adalah kram mereda atau bahkan menghilang setelah mereka melahirkan bayi pertama. Dengan kelahiran normal melalui vagina bukaan serviks kini telah melebar.

Apa peran hormon dalam menstruasi?

Sejak dimulainya pubertas, LH, FSH, estrogen, dan progesterone memiliki peran penting dalam mengatur siklus menstruasi perempuan. Setiap individu memiliki pola hormonnya masing-masing, naik dan turun pada titik yang berbeda pada masing-masing siklus. Walaupun demikian, kesemuanya menghasilkan rantai peristiwa yang bisa diprediksi.

Dua area utama di dalam otak – hypothalamus dan pituitary – melepaskan hormon yang mengendalikan siklus menstruasi. Follicle Stimulating Hormone (FSH) atau hormon perangsang folikel dan Luteinizing Hormone (LH) adalah hormon-hormon primer menstruasi yang dilepaskan oleh suatu sistem dalam tubuh.

Bagaimana cara mengatasi PMS?
  1. Penelitian telah membuktikan bahwa mengkonsumsi 1200 mg kalsium setiaap hari dapat mengurangi hampir setengah dari seluruh gejala menstruasi, termasuk fluktuasi mood, depresi, dan kram saat menstruasi.
  2. Zinc dan Vitamin B dari suplemen makanan juga bisa mengurangi kram dan gejala-gejala lainnya. Namun, dosisnya harus dikonsultasikan dengan dokter agar tidak overdosis.
  3. Olah raga teratur bisa membantu meringankan, atau bahkan menghilangkan gejala PMS yang mengganggu. Misalkan, jalan cepat, jogging, atau berenang.
  4. Pola makan sehat, antara lain mengurangi asupan lemak, gula, garam, daging merah, alkohol, dan kafein; serta meningkatkan asupan karbohidrat kompleks, sayuran hijau, buah-buahan, sereal, and biji-bijian.
  5. Untuk mengatasi rasa sakit ringan saat menstruasi, cobalah mandi dengan air hangat.
  6. Kompreslah bagian perut atau bagian punggung yang terasa sakit dengan botol berisi air hangat.
  7. Minumlah air atau minuman hangat.
  8. Pijatlah perut bagian bawah dengan ringan, buatlah gerakan melingkar dengan ujung jari Anda.
  9. Belajarlah untuk mengendalikan stress dan buatlah tubuh Anda rileks dengan yoga dan meditasi.
  10. Tidurlah dengan cara meringkuk dan lutut menekuk untuk menghindari peregangan otot panggul. Anda bisa menggunakan bantal untuk menekan lembut perut bagian bawah Anda jika itu terasa nyaman. Jika Anda tidur terlentang, sanggalah lutut Anda dengan bantal agar menekuk.
  11. Alat kontrasepsi oral bisa membantu mengurangi atau bahkan menghilangkan gejala PMS bagi sejumlah perempuan tapi terkadang memiliki efek samping bagi perempuan-perempuan lainnya. Jadi sebaiknya hal ini dikonsultasikan terlebih dahulu dengan dokter.
  12. Jika kram memburuk, minumlah obat penghilang rasa sakit, seperti ibuprofen atau paracetamol.

Disarikan dari: Merawat & Menjaga Kesehatan Seksual Perempuan, Tanya-Jawab Lengkap Seputar Kesehatan Seksual Perempuan. Sri Noor Verawaty, Liswidyawati Rahayu, S.Si. Penerbit Grafindo.

Thursday, August 1, 2013

Get to know STD: Scabies



Other skin disease that is grouped into a sexually transmitted disease (STD) is Scabies. This time the learning series about STD (get to know STD) will discuss about Scabies. All the material below is quoted from Wikipedia entirely. Happy reading!

Sarcoptes Scabiei (Source: Wikipedia)
Scabies is an ancient disease. Archeological evidence from Egypt and the Middle East suggests scabies was present as early as 494 BC. The first recorded reference to scabies is believed to be from the Bible (Leviticus, the third book of Moses) circa 1200 BC. Later, in the fourth century BC, the ancient Greek philosopher Aristotle reported on "lice" that "escape from little pimples if they are pricked" scholars believe this was actually a reference to scabies.
Nevertheless, Greek physician Celsus is credited with naming the disease "scabies" and describing its characteristic features. The parasitic etiology of scabies was later documented by the Italian physician Giovanni Cosimo Bonomo (1663–99 AD) in his famous 1687 letter, "Observations concerning the fleshworms of the human body". With this discovery, scabies became one of the first diseases with a known cause.

Scabies (from Latin: scabere, "to scratch"), also called Norwegian scabies or colloquially the seven-year itch, is a contagious skin infection caused by the mite Sarcoptes scabiei. The mite is a tiny and usually not directly visible parasite which burrows under the host's skin, causing intense allergic itching. The infection in animals other than humans is caused by a different but related mite species, and is called sarcoptic mange.

Scabies is classified by the World Health Organization as a water-related disease. The disease may be transmitted from objects, but is most often transmitted by direct skin-to-skin contact, with a higher risk with prolonged contact. Initial infections require four to six weeks to become symptomatic. Reinfection, however, may manifest symptoms within as few as 24 hours. Because the symptoms are allergic, their delay in onset is often mirrored by a significant delay in relief after the parasites have been eradicated. Crusted scabies, formerly known as Norwegian scabies, is a more severe form of the infection often associated with immunosuppression.

Norwegian Scabies in HIV patient, need 6 months from first itch to be like this (Source: Wikipedia)
The characteristic symptoms of a scabies infection include intense itching and superficial burrows. The burrow tracks are often linear, to the point that a neat "line" of four or more closely placed and equally developed mosquito-like "bites" is almost diagnostic of the disease. In the classic scenario, the itch is made worse by warmth, and is usually experienced as being worse at night, possibly because there are fewer distractions. As a symptom, it is less common in the elderly.
The superficial burrows of scabies usually occur in the area of the hands, feet, wrists, elbows, back, buttocks, and external genitals. Except in infants and the immunosuppressed, infection generally does not occur in the skin of the face or scalp. The burrows are created by excavation of the adult mite in the epidermis.

In most people, the trails of the burrowing mites are linear or s-shaped tracks in the skin often accompanied by rows of small, pimple-like mosquito or insect bites. These signs are often found in crevices of the body, such as on the webs of fingers and toes, around the genital area, and under the breasts of women.

Symptoms typically appear two to six weeks after infestation for individuals never before exposed to scabies. For those having been previously exposed, the symptoms can appear within several days after infestation. However, it is not unknown for symptoms to appear after several months or years. Acropustulosis, or blisters and pustules on the palms and soles of the feet, are characteristic symptoms of scabies in infants.

The elderly and people with an impaired immune system, such as HIV, cancer, or those on immunosuppressive medications, are susceptible to crusted scabies (formerly called Norwegian scabies). On those with weaker immune systems, the host becomes a more fertile breeding ground for the mites, which spread over the host's body, except the face. Sufferers of crusted scabies exhibit scaly rashes, slight itching, and thick crusts of skin that contain thousands of mites. Such areas make eradication of mites particularly difficult, as the crusts protect the mites from topical miticides, necessitating prolonged treatment of these areas.

Scabies at inguinal area on male (Source: www.std.about.com)
The symptoms are caused by an allergic reaction of the host's body to mite proteins, though exactly which proteins remains a topic of study. The mite proteins are also present from the gut, in mite feces, which are deposited under the skin. The allergic reaction is both of the delayed (cell-mediated) and immediate (antibody-mediated) type, and involves IgE (antibodies, it is presumed, mediate the very rapid symptoms on reinfection). The allergy-type symptoms (itching) continue for some days, and even several weeks, after all mites are killed. New lesions may appear for a few days after mites are eradicated. Nodular lesions from scabies may continue to be symptomatic for weeks after the mites have been killed.

Scabies may be diagnosed clinically in geographical areas where it is common when diffuse itching presents along with either lesions in two typical spots or there is itchiness of another household member. The classical sign of scabies is the burrows made by the mites within the skin. To detect the burrow, the suspected area is rubbed with ink from a fountain pen or a topical tetracycline solution, which glows under a special light. The skin is then wiped with an alcohol pad. If the person is infected with scabies, the characteristic zigzag or S pattern of the burrow will appear across the skin; however, interpreting this test may be difficult, as the burrows are scarce and may be obscured by scratch marks. A definitive diagnosis is made by finding either the scabies mites or their eggs and fecal pellets. Searches for these signs involve either scraping a suspected area, mounting the sample in potassium hydroxide and examining it under a microscope, or using dermoscopy to examine the skin directly.

Sites of Scabies (Source: Wikipedia)
Symptoms of early scabies infestation mirror other skin diseases, including dermatitis, syphilis, various urticaria-related syndromes, allergic reactions, and other ectoparasites such as lice and fleas.
Mass treatment programs that use topical permethrin or oral ivermectin have been effective in reducing the prevalence of scabies in a number of populations. No vaccine is available for scabies. The simultaneous treatment of all close contacts is recommended, even if they show no symptoms of infection (asymptomatic), to reduce rates of recurrence. Asymptomatic infection is relatively common. Since mites can only survive for two to three days without a host, objects in the environment pose little risk of transmission except in the case of crusted scabies, thus cleaning is of little importance. Rooms used by those with crusted scabies require thorough cleaning.
A number of medications are effective in treating scabies; however, treatment must often involve the entire household or community to prevent reinfection. Options to improve itchiness include antihistamines.

Permethrin
Permethrin is the most effective treatment for scabies, and is the treatment of choice. It is applied from the neck down, usually before bedtime, and left on for about eight to 14 hours, then showered off in the morning. One application is normally sufficient for mild infections. For moderate to severe cases, another dose is applied seven to 14 days later. Permethrin causes slight irritation of the skin, but the sensation is tolerable. The medication, however, is the most costly of topical treatments.

Ivermectin
Ivermectin is an oral medication shown by many clinical studies to be effective in eradicating scabies, often in a single dose. It is the treatment of choice for crusted scabies, and is often used in combination with a topical agent. It has not been tested on infants and is not recommended for children under six years of age.

Topical ivermectin preparations have been found to be effective for scabies in adults, and are attractive due to their low cost, ease of preparation, and low toxicity. It has also been useful for sarcoptic mange (the veterinary analog of human scabies).

Scabies is one of the three most common skin disorders in children, along with tinea and pyoderma. As of 2010 it affects approximately 100 million people (1.5% of the population) and is equally common in both genders. The mites are distributed around the world and equally infect all ages, races, and socioeconomic classes in different climates. Scabies is more often seen in crowded areas with unhygienic living conditions. Globally as of 2009, an estimated 300 million cases of scabies occur each year, although various parties claim the figure is either over- or underestimated. About 1–10% of the global population is estimated to be infected with scabies, but in certain populations, the infection rate may be as high as 50–80%.

Kenali IMS: Penyakit Kutu Kelamin



Seri Kenali IMS kali ini akan membahas tentang Penyakit Kutu Kelamin. Kenapa penyakit ini juga bisa dimasukkan dalam kategori IMS? Tentu saja jawabannya jelas, karena penyakit ini bisa ditularkan melalui hubungan seksual. Nah, mari kita pelajari bersama!


Kiri: kutu kepala, Kanan: Kutu Pubis (Sumber: www.aafp.org)
Penyakit Kutu Kelamin disebabkan oleh sejenis kutu yang mirip wujudnya dengan kutu yang biasa menyerang rambut di kepala. Kutu tersebut dikenal dengan nama Phthirus Pubis. Kutu ini adalah spesies kutu yang lebih memilih hidup di antara rambut manusia kasar, seperti rambut kemaluan. Untuk selanjutnya kita sebut saja dengan Kutu Kemaluan. 


Kutu kemaluan berwarna abu-abu, oval, merupakan Arthropoda berkaki enam. Ukurannya 1 sampai 2 mm, membuat kutu kemaluan kecil dari kutu kepala, yang merupakan spesies yang berbeda. Kutu kemaluan bertelur (disebut nits) pada rambut-rambut tubuh kasar yaitu, kemaluan, rambut perianal, rambut paha, rambut perut, rambut ketiak, jenggot, dan bulu mata. Kutu kemaluan dewasa hidup dengan menghisap darah dan tidak bergerak jauh dari telur mereka (Frenkl & Potts, 2007; Leone, 2007; Link, 2007).


Penyakit Kutu Kelamin pada Laki-Laki (Sumber: www.forlag.fadl.dk)
Angka prevalensi dan kejadian Penyakit Kutu Kelamin sebagian besar masih berupa perkiraan. Satu studi rinci (Simms et al., 2006) menemukan kejadian sekitar 33 kasus Penyakit Kutu Kelamin setiap tahun per 100.000 orang, dengan prevalensi pada laki-laki dua kali lebih besar dari perempuan. Sama seperti PMS lain, penyakit kutu kelamin paling sering terjadi pada dewasa muda. Di Inggris, insiden tahunan adalah 74 kasus per 100.000 orang dalam kelompok usia 15-24 tahun (Simms et al, 2006). 

Kutu kelamin dapat mempengaruhi semua orang, namun tingkat tertinggi ditemukan pada remaja, biasanya pada remaja yang sudah aktif secara seksual, baik laki-laki maupun perempuan. Hal ini mungkin terjadi karena remaja kadang kurang peduli dengan kebersihan kelamin.


Diagnosis Infestasi Crabs


Penyakit Kutu Kelamin dapat diperoleh melalui kontak fisik dekat dengan orang yang memiliki kutu atau oleh kontak dengan handuk baru kutu-penuh atau tempat tidur. Kutu yang tidak bersentuhan dengan orang biasanya akan mati dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. Penyakit ini cukup menular, dan orang yang berhubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi akan memperoleh resiko penularan kutu kemaluan lebih besar dari 90%. Kondom tidak akan mencegah penularan kutu kemaluan (Eckert & Lentz, 2007a; Frenkl & Potts, 2007; Leone, 2007; Shoemaker et al, 2007.). Diagnosis ditegakkan dengan menemukan specimen kutu atau telur kutu pada penampakan mikroskopis. Diagnosis juga ditegakkan dengan melihat gejala-gejala klinis yang timbul.


Gejala Klinis


Telur kutu (nits) yang mengkilat dan tembus pandang disekresikan oleh kutu ke poros rambut manusia. Kutu dewasa hidup dan mencari makan di dasar rambut. Ketika kutu mengisap darah mereka menyuntikkan air liur, dan air liur yang terus menerus keluar inilah yang menyebabkan gatal yang sangat merepotkan terutama pada malam hari. Pasien mulai menggaruk hingga daerah garukan tampak seperti terbakar. 

Rasa gatal dari Penyakit Kutu Kelamin dihasilkan oleh sensitisasi alergi terhadap antigen kutu, dan reaksi alergi ini membutuhkan waktu untuk berkembang. Dari pertama kali seseorang terinfeksi dengan kutu kemaluan hingga gatal parah mungkin memerlukan lima sampai lima belas hari, tetapi reinfestasi akan memulai rasa gatal dalam waktu dua puluh empat jam.


Berikut ini ringkasan gejala klinisnya:

  1. Gatal dan terbakar di daerah kemaluan 
  2. Gatal dapat menyebar karena kutu kelamin bergerak ke daerah basah lain dari tubuh seperti ketiak 
  3. Gatal akan memburuk pada malam hari 
  4. Menggaruk intens dan lama dapat mengakibatkan kulit terluka dan akhirnya terinfeksi oleh bakteri 
  5. Demam, terbakar ketika buang air kecil atau keluarnya cairan kelamin.

Phtyrus Pubis pada Laki-laki (Sumber: www.hkma.org)

Penularan biasanya terjadi selama aktivitas seksual. Namun, hal itu juga dapat terjadi melalui kontak fisik dengan objek yang terkontaminasi seperti dudukan toilet, seprai dan selimut. Bahkan, beberapa perempuan mendapatkan kutu kelamin ketika menggunakan pakaian renang yang disewakan. 


Bagaimana perawatannya?

Tindakan perawatan yang dapat dilakukan untuk mengatasi infeksi kutu kelamin adalah:
  1. Mengeramasi rambut kemaluan dan wilayah sekitarnya sedikitnya selama 5 menit 
  2. Bilas dengan baik 
  3. Menyisir rambut kemaluan dengan sisir bergigi halus untuk menghilangkan telur 
  4. Beberapa dokter menyarankan menggunting rambut kemaluan dengan pisau cukur listrik nonsharp untuk mengurangi jumlah kutu dan telur. Namun ada juga yang tidak menyarankan untuk mencukur habis bulu pubis. Cukup dengan menggunakan 0.5% Malathion salap dioleskan pada kulit terinfeksi yang sudah dikeringkan. Bisa dioleskan dari pusat kearah perineum, perianal, hingga ke pangkal paha. Setelah itu dibilas setelah 12 jam. Penggunaan Gamma benzene hexachloride dan permethrin juga efektif. 
  5. Semua pakaian dalam, handuk, sprei, dan lain-lain harus dicuci dan disetrika.

Partner berhubungan seksual juga harus diperiksa. Orang yang terinfeksi Penyakit Kutu Kelamin sebaiknya juga diperiksa serologi untuk Sifilis dan diperiksa juga untuk HIV.

Demikian pembaca setia blog Apa Itu HIV danAIDS. Ada pertanyaan? Silahkan langsung japri di: apaituhivdanaids@gmail.com atau message di fan page Apa Itu HIV dan AIDS. Juga bisa twit di @apaituhiv_aids.

Wednesday, May 22, 2013

Kenali IMS - Kutil Kelamin (Condyloma Acuminata)



Para pembaca blog Apa Itu HIV dan AIDS yang setia! Seri Kenali IMS kali ini akan membahas mengenai salah satu penyakit menular seksual lainnya yang sering disebut dengan Kutil Kelamin. Nah, apa itu Kutil Kelamin dan bagaimana cara penanganannya, silahkan disimak dalam ringkasan artikel berikut ini.

Kutil kelamin (atau kondiloma acuminata, kutil dubur dan kutil anogenital) adalah gejala penyakit menular seksual yang sangat menular yang disebabkan oleh beberapa sub-jenis human papillomavirus (HPV). Penyakit ini menyebar melalui kontak kulit-ke-kulit secara langsung selama hubungan seks secara oral, genital, ataupun anal dengan pasangan yang terinfeksi. Kutil adalah gejala yang paling mudah dikenali untuk infeksi HPV genital, dan tipe 6 dan 11 yang diperkirakan bertanggung jawab atas 90% kasus genital warts/ kutil kelamin.

Kutil Kelamin pada Laki-Laki (Sumber: simple-health-secrets.com)
Meskipun 90% dari mereka yang terinfeksi HPV tidak akan tumbuh kutil kelaminnya, mereka yang terinfeksi masih dapat menularkan virus ini. Beberapa jenis HPV dapat menyebabkan kanker serviks dan kanker dubur, tetapi ini bukan jenis HPV yang sama yang menyebabkan kutil kelamin. Namun, adalah mungkin untuk terinfeksi dengan varietas yang berbeda dari HPV, seperti HPV risiko rendah yang menyebabkan kutil dan HPV risiko tinggi yang dapat menyebabkan kanker, baik secara bersamaan atau pada waktu yang berbeda. HPV sangat umum sehingga lebih dari setengah dari semua orang yang aktif secara seksual akan mendapatkannya di beberapa waktu dalam hidup mereka.

Tanda-Tanda dan Gejala
Kutil kelamin sering terjadi dalam kelompok dan bisa sangat kecil atau dapat menyebar ke massa yang lebih besar di daerah kelamin atau penis. Dalam kasus lain, mereka terlihat seperti batang kecil. Pada wanita mereka terjadi di luar dan di dalam vagina, pada mulut leher rahim hingga ke rahim (uterus), atau di sekitar (atau di dalam) anus. Lebih lazim ditemukan pada laki-laki tetapi gejala mungkin kurang jelas. Saat ini, untuk laki-laki biasanya terlihat di ujung penis. Dapat juga ditemukan pada bagian batang penis, pada skrotum, atau di sekitar (atau di dalam) anus. Sangat jarang, kutil kelamin dapat berkembang di mulut atau tenggorokan dari orang yang telah melakukan oral seks dengan orang yang terinfeksi. Tetapi tetap itu masih mungkin terjadi. 

Kutil Kelamin pada perempuan (Sumber: medicaljournals.se)
Partikel virus mampu menembus kulit dan permukaan mukosa melalui lecet mikroskopis (yang tak terlihat) di area genital, yang terjadi selama aktivitas seksual. Meskipun 90% dari infeksi HPV dapat dibersihkan oleh tubuh dalam waktu dua tahun setelah infeksi, adalah mungkin bagi sel yang terinfeksi untuk menjalani fase laten (masa tenang), dengan kejadian pertama atau kambuhnya gejala terjadi bulanan atau tahunan kemudian.
Berhubungan seks dengan pasangan yang terinfeksi HPV pada fase laten dan menunjukkan tidak ada gejala luar masih rentan untuk menjadi terinfeksi. Jika seseorang berhubungan seks tanpa kondom dengan pasangan yang terinfeksi, ada kemungkinan 70% bahwa ia juga akan terinfeksi. 

Diagnosis
Diagnosis ditegakkan dengan Pandangan Mikrograf dari kutil genital dengan perubahan karakteristik (parakeratosis, koilocytes, papillomatosis). Serta menggunakan pewarnaan H & E.
Kutil kelamin, secara histopatologis, mempunyai karakteristik naik di atas permukaan kulit akibat pembesaran papila dermis, memiliki parakeratosis dan perubahan nuklir karakteristik khas infeksi HPV (pembesaran nuklir dengan bersihan perinuklear). Tes DNA tersedia untuk diagnosis infeksi HPV risiko tinggi. Karena kutil kelamin disebabkan oleh HPV tipe risiko rendah, maka tes DNA tidak dapat digunakan untuk menegakkan diagnosis kutil kelamin atau infeksi HPV risiko rendah lainnya.

Pencegahan
Pencegahan dapat dilakukan dengan melakukan Vaksinasi HPV. Gardasil (dijual oleh perusahaan Merck & Co) adalah vaksin yang melindungi terhadap jenis human papillomavirus tipe 16, 18, 6, dan 11. Tipe 6 dan 11 adalah penyebab kutil kelamin, sementara 16 dan 18 menyebabkan kanker serviks. Vaksin ini bersifat pencegahan, bukan terapi, dan harus diberikan sebelum terpapar oleh virus atau sebelum virus menjadi aktif, atau idealnya dilakukan sebelum awal aktivitas seksual. Vaksin ini disetujui oleh US Food and Drug Administration untuk digunakan baik oleh laki-laki dan perempuan sejak usia 9 tahun.
Kutil Kelamin pada Perempuan (Sumber: pathwiki.pbworks.com)
Di Inggris, Gardasil digantikan oleh Cervarix pada September 2012 untuk alasan yang tidak terkait dengan keamanan. Cervarix telah digunakan secara rutin pada wanita muda dan telah diperkenalkan sejak tahun 2008, namun hanya efektif terhadap HPV tipe 16 dan 18, yang tidak menyebabkan kutil.

Penanganan
Tidak ada obat untuk HPV, tetapi ada metode untuk mengobati kutil yang terlihat, yang dapat mengurangi infektivitas, meskipun tidak ada percobaan yang mempelajari keefektifan menghilangkan kutil yang terlihat dalam mengurangi penularan. Setiap tahun, orang Amerika menghabiskan $ 200 juta untuk mengobati kutil kelamin. Kutil kelamin bisa menghilang tanpa pengobatan, tapi kadang-kadang tumbuh menjadi berdaging, sehingga terlihat ada bagian kecil terangkat. Tidak ada cara untuk memprediksi apakah kutil akan tetap tumbuh atau menghilang. Kutil kadang-kadang dapat diidentifikasi karena mereka menjadi putih ketika asam asetat diterapkan, namun metode ini tidak dianjurkan pada vulva karena dapat terjadi microtrauma dan peradangan juga dapat muncul sebagai berwarna putih karena asam asetat. Kacamata pembesar atau colposcope juga dapat juga digunakan untuk membantu dalam mengidentifikasi kutil kecil.

Penanganan akan tergantung pada ukuran dan lokasi kutil (serta faktor-faktor lainnya), dokter akan menawarkan salah satu dari beberapa cara untuk melakukan terapi. Podofilox adalah pengobatan lini pertama dengan biaya rendah.Bentuknya berupa krim atau gel. Selain itu dapat juga dilakukan tindakan bedah dengan kauter atau menggunakan nitrogen cryosurgery. Yang perlu diingat adalah bahwa hampir semua perawatan berpotensi menyebabkan depigmentasi atau jaringan parut.

Epidemiologi
Infeksi HPV genital memiliki estimasi prevalensi di AS 10-20% dan manifestasi klinis pada 1% populasi orang dewasa yang aktif secara seksual. Kejadian infeksi HPV di Amerika telah meningkat antara tahun 1975 dan 2006. Sekitar 80% dari mereka yang terinfeksi adalah antara usia 17-33. Meskipun pengobatan dapat menghilangkan kutil, tetap saja tidak dapat menghilangkan virusnya (HPV), sehingga kutil dapat kambuh setelah pengobatan (sekitar 50-73%). Kutil juga bisa spontan mundur (dengan atau tanpa pengobatan). Di Indonesia sendiri, data rumah sakit menunjukkan bahwa penyakit kutil kelamin ini menduduki peringkat ketiga diantara PMS, yaitu sesudah uretritis gonore dan non gonore.
Kutil Kelamin pada Dubur/ Anus (Sumber: youritablets.com)

Teori tradisional mendalilkan bahwa virus tetap ada dalam tubuh untuk seumur hidup. Namun, penelitian menggunakan teknik DNA sensitif telah menunjukkan bahwa melalui respon imunologi virus dapat dibersihkan atau ditekan ke tingkat paling bawah yang dapat diukur oleh tes Polymerase Chain Reaction (PCR). Salah satu studi yang memeriksa kulit kelamin untuk subklinis HPV menggunakan PCR telah menemukan angka prevalensi sebesar 10%.